Sport

Arsenal Bertahan di Puncak, Rice Jadi Penentu dalam Laga Penuh Blunder

Gelandang Arsenal Declan Rice mencetak gol dari tendangan bebas saat Arsenal menang 3-2 atas Bournemouth. (foto: Shutterstock)

BOURNEMOUTH, UNHAS.TV - Malam dingin di Vitality Stadium, Sabtu (3/1/2026) malam, berakhir dengan kemenangan dramatis Arsenal, 3–2, atas Bournemouth.

Dua gol dari Declan Rice, gelandang yang baru pulih dari cedera lutut, menjadi pembeda di laga yang penuh ketegangan dan kesalahan sendiri.

Pertandingan ini menegaskan kembali satu hal: Arsenal bisa menang meski tidak sedang tampil dalam performa terbaik.

Dengan hasil ini, tim asuhan Mikel Arteta memperlebar jarak di puncak klasemen menjadi enam poin, sementara rival terdekat mereka menunggu hasil laga Manchester City.

Rice kembali ke lapangan setelah absen karena cedera lutut dan langsung menunjukkan pengaruhnya.

Ia mencetak dua gol — yang pertama dalam kariernya di Liga Inggris — dan menegaskan perannya sebagai “jantung permainan” Arsenal. Dalam 296 penampilan di kompetisi papan atas, baru kali ini ia memborong dua gol dalam satu pertandingan.

Gol pertama Rice datang setelah Arsenal menambal kesalahan fatal bek Gabriel Magalhães. Pada menit ke-18, Gabriel salah mengoper bola ke depan gawang sendiriUmpannya yang lemah dipotong Evanilson, yang dengan tenang menaklukkan kiper David Raya.

Namun enam menit kemudian, Gabriel menebus kesalahannya dengan mencetak gol penyeimbang lewat kemelut di depan gawang, setelah dua tembakan sebelumnya diblok pemain Bournemouth.

Setelah jeda, Bournemouth terus menekan. Serangan cepat dari Marcus Tavernier dan Justin Kluivert membuat lini belakang Arsenal bekerja keras.


Statistik laga Liga Inggris antara Bournemouth vs Arsenal yang berakhir 2-3. (the sun)


Tapi justru Arsenal yang memanfaatkan kelengahan lawan. Martin Ødegaard, yang malam itu tampil cemerlang sebagai pengatur serangan, menjadi arsitek dua gol Rice.

Gol kedua Rice lahir pada menit ke-62. Bermula dari kesalahan Viktor Gyökeres yang kehilangan bola di depan kotak penalti Bournemouth, Ødegaard menyodorkan umpan matang ke Rice yang melepaskan tembakan mendatar menembus pojok kiri gawang.

Gol ketiganya, sekaligus penutup kemenangan, tercipta 10 menit kemudian, lewat kerja sama apik antara Ødegaard dan Bukayo Saka di sisi kanan.

Namun Arsenal tidak tenang lama. Pada menit ke-82, pemain pengganti Junior Kroupi memperkecil skor lewat sepakan jarak jauh 25 meter yang tak bisa dijangkau Raya.

Vitality Stadium bergemuruh, terutama ketika wasit Chris Kavanagh meniup peluit akhir sesaat sebelum Antoine Semenyo sempat mengirim umpan silang ke kotak penalti. Protes keras pun menggema dari tribun.

Bournemouth sebenarnya tampil berani. Pelatih Andoni Iraola beberapa kali menepuk kepala sendiri karena frustrasi melihat peluang terbuang, termasuk sepakan David Brooks yang melenceng tipis di awal babak kedua.

“Kami punya cukup peluang untuk menang,” kata Iraola usai laga. “Tapi mereka lebih efisien dan Rice malam ini luar biasa.”

Bagi Arteta, kemenangan ini datang dengan catatan panjang. Gyökeres kembali gagal menunjukkan ketajaman sebagai penyerang utama—hanya lima gol sejauh musim ini—dan kemungkinan besar akan digantikan Gabriel Jesus saat menghadapi Liverpool pekan depan.

“Rice memberi kami keseimbangan dan ketenangan,” ujar Arteta. “Dia bermain lebih maju sekarang, dan kami ingin melihatnya lebih sering berada di posisi berbahaya.”

Rice, yang sebelumnya dikenal lebih sebagai gelandang bertahan, kini tampil lebih menyerang berkat kehadiran Martin Zubimendi di lini tengah.

“Saya tahu saya harus menambah kontribusi gol,” katanya kepada Sky Sports. “Saya tak akan selalu mencetak dua, tapi malam ini terasa spesial.”

Di ruang ganti, suasana kontras: tawa lepas di kubu Arsenal, kecewa berat di pihak Bournemouth. Namun di papan klasemen, kemenangan ini lebih dari sekadar tiga poin.

Ia mempertegas tekad Arsenal — bahwa dalam perburuan gelar yang ketat, bukan hanya permainan indah yang menentukan, melainkan daya tahan ketika situasi tidak sempurna.

Musim masih panjang, tapi malam dingin di pesisir selatan Inggris ini bisa dikenang sebagai saat Declan Rice benar-benar menegaskan dirinya sebagai motor baru Arsenal. (*)