Lingkungan
Mahasiswa

Tanamkan Gerakan 3R, HUMAN FISIP Unhas Ajak Siswa Pulau Lae-Lae Bergerak Atasi Sampah Pesisir

BERSIH SAMPAH - Siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar mengikuti aksi bersih lingkungan bersama HUMAN FISIP Unhas di Pulau Lae-Lae, 5–7 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program BASIS edukasi sampah di wilayah pesisir oleh HUMAN FISIP Unhas. (Dok Human FISIP Unhas)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas) mengajak siswa di Pulau Lae-Lae, Makassar, terlibat dalam penanganan persoalan sampah di kawasan pesisir.

Edukasi dilakukan melalui program BASIS atau Belajar Atasi Sampah Bersama Siswa yang berlangsung pada 5-7 Agustus 2026.

Program pengabdian masyarakat tersebut menyasar siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar. Selama tiga hari, para siswa mendapat edukasi mengenai pengelolaan sampah, prinsip Reduce, Reuse, Recycle atau 3R, hingga terlibat dalam aksi bersih-bersih lingkungan di sekitar sekolah.

Koordinator Divisi Humas HUMAN FISIP Unhas, Nabila Ali, mengatakan kegiatan itu dirancang untuk membangun kesadaran lingkungan sejak usia sekolah.

Menurut dia, kebiasaan sederhana yang ditanamkan sejak dini dapat menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan sampah dalam jangka panjang.

“Kami percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil. Melalui BASIS, kami ingin menanamkan kesadaran kepada anak-anak bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” kata Nabila.



BERSIH SAMPAH - Siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar mengikuti aksi bersih lingkungan bersama HUMAN FISIP Unhas di Pulau Lae-Lae, 5–7 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program BASIS edukasi sampah di wilayah pesisir oleh HUMAN FISIP Unhas. (Dok Human FISIP Unhas)


Ia berharap pemahaman mengenai pengelolaan sampah tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Pengetahuan tersebut, kata Nabila, diharapkan diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mempengaruhi lingkungan di sekitar mereka.

Pulau Lae-Lae dipilih karena kawasan pulau kecil tersebut menghadapi persoalan sampah domestik serta sampah yang terbawa dari laut. Kondisi itu mendorong HUMAN menggunakan pendekatan pendidikan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan di kalangan generasi muda.

Ketua Tim Pelaksana BASIS, Muhammad Iksan Tasrim, mengatakan program tak hanya berisi penyampaian teori tentang sampah. Siswa juga didorong mengembangkan keterampilan dan kreativitas dalam mengelola barang yang selama ini dianggap sebagai limbah.

“Selain pemahaman teoritis, diperlukan juga kreativitas siswa dan siswi untuk mengembangkan keterampilan,” ujar Iksan.

Program dimulai dengan sosialisasi kepada siswa dan guru SMPN 41 Satu Atap Makassar pada 5 Agustus. Materi yang disampaikan mencakup pengertian dan jenis sampah, cara pengelolaan, hingga pemanfaatan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.

Iksan mengatakan perubahan perilaku dapat dimulai melalui kebiasaan sehari-hari. Di antaranya membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah berdasarkan jenisnya, serta memanfaatkan kembali barang yang masih dapat digunakan.

Setelah menerima materi, siswa diajak turun langsung mengikuti aksi clean up. Para siswa, guru, dan relawan HUMAN menggunakan sarung tangan untuk mengumpulkan sampah di lingkungan sekitar sekolah. Para siswa terlibat langsung dalam kegiatan pembersihan tersebut.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 41 Satu Atap Makassar, Fadli, berharap program BASIS dapat memperkuat kesadaran lingkungan siswa di Pulau Lae-Lae.

“Hari ini kami kedatangan mahasiswa yang menggarap program BASIS, yang semoga meningkatkan kesadaran lingkungan para siswa dan siswi di SMPN 41 Satu Atap Makassar di Pulau Lae-Lae,” kata Fadli.

Ketua HUMAN FISIP Unhas periode 2026/2027, Muhammad Syahrul Sya’bana, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang belajar bagi siswa. Mahasiswa yang terlibat juga mendapat kesempatan memahami secara langsung persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat pulau.

“Di program BASIS ini kita semua sama-sama belajar, siswa-siswi belajar tentang sampah, kami belajar tentang Pulau Lae-Lae,” ujar Syahrul.



BERSIH SAMPAH - Mahasiswa yang tergabung dalam HUMAN FISIP Unhas melakukan edukasi bersih sampah pesisir kepada siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar di Pulau Lae-Lae, 5–7 Agustus 2026. Setelah program BASIS edukasi sampah di kelas, aksi dilanjutkan dengan bersih lingkungan di wilayah pesisir. (Dok Human FISIP Unhas)


Menurut Syahrul, persoalan sampah tidak dapat semata-mata dibebankan kepada perilaku individu. Masalah tersebut, kata dia, juga berkaitan dengan persoalan yang lebih luas, termasuk tata kelola dan kebijakan lingkungan.

“Persoalan sampah sejatinya adalah masalah struktural yang berakar dari kebiasaan individu hingga kebijakan di tingkat atas,” katanya.

Selain menjalankan edukasi, HUMAN mengumpulkan data mengenai kondisi sampah di Pulau Lae-Lae. Pengumpulan data itu menjadi bagian dari upaya mahasiswa memahami karakter persoalan lingkungan di wilayah tersebut.

Syahrul mengatakan program BASIS mencoba memulai respons terhadap persoalan itu melalui pendidikan lingkungan kepada generasi muda.

“Melalui program BASIS, kami mengambil langkah nyata untuk merespons krisis ini dengan membangun fondasi kesadaran lingkungan sejak dini dari generasi muda,” ujarnya.

HUMAN FISIP Unhas menargetkan kegiatan selama tiga hari tersebut tidak sekadar menambah pengetahuan siswa.

Para peserta diharapkan mulai menerapkan prinsip 3R dalam kehidupan sehari-hari, mengurangi produksi sampah, melakukan pemilahan, serta mengolah kembali sampah yang masih mempunyai nilai guna. (*)