MAKASSAR, UNHAS.TV - Kekuatan Iran dalam menghadapi tekanan global tidak bisa dilepaskan dari pengalaman historis Revolusi Islam 1979.
Hal itu diungkapkan Dosen Sastra Asia Barat Universitas Hasanuddin (Unhas), Supratman SS MA PhD, saat memberikan pandangan akademis terhadap konflik antara Iran dengan Amerika Serika dan Israel yang kembali mengemuka.
Kepada Unhas TV saat ditemui di lingkungan Kampus Universitas Hasanuddin pada Senin (30/3/2026), menegaskan bahwa revolusi tersebut menjadi faktor utama yang membentuk ketahanan Iran hingga hari ini.
“Pengalaman Revolusi Islam Iran itu menjadi faktor utama yang memberikan babakan baru bagi masyarakat Iran untuk lebih bertahan dan menajamkan visi bernegara,” ujar Supratman.
Menurutnya, banyak pihak keliru memahami kekuatan Iran hanya sebagai warisan kebesaran peradaban Persia masa lalu.
Padahal, justru nilai-nilai yang lahir dari Revolusi Iran 1979 yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter bangsa yang tangguh.
Ia menjelaskan, sebelum revolusi terjadi, Iran di bawah kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi justru menunjukkan ketergantungan terhadap kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan semangat kemandirian dan kehormatan bangsa Persia.

Dosen Sastra Asia Barat Unhas, Supratman SS MA PhD. (Dok Unhas TV)
“Revolusi itu hadir sebagai koreksi terhadap penyimpangan tersebut, sekaligus mengembalikan martabat bangsa Iran yang tidak ingin berada di bawah intervensi negara lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, Supratman menekankan bahwa pascarevolusi, Iran tidak hanya mengalami transformasi politik, tetapi juga ideologis. Nilai-nilai perlawanan terhadap penindasan dan dominasi kekuatan besar dunia menjadi bagian integral dari identitas negara.
Dalam konteks konflik Iran–Israel yang terus memanas, ia melihat posisi Iran sebagai negara yang relatif berdiri sendiri dalam menghadapi tekanan global, meskipun memiliki jaringan kelompok yang disebut sebagai proksi di berbagai kawasan.
“Secara kenegaraan, Iran bisa dikatakan berdiri sendiri menghadapi kekuatan besar dunia yang didukung oleh banyak negara,” ujarnya.
Lulusan Universitas Tarbiyat Modares, Teheran tersebut menambahkan bahwa ideologi yang lahir dari revolusi turut mendorong keberanian masyarakat Iran untuk mempertahankan kedaulatan, bahkan dengan risiko besar.
“Bagi mereka, mempertahankan kehormatan dan melawan penindasan adalah bagian dari keyakinan. Hidup dalam tekanan dianggap bukan pilihan,” tutupnya.
Terakhir, ia berpandangan jika dinamika konflik Iran–Israel tidak hanya dipengaruhi oleh faktor geopolitik kontemporer, tetapi juga oleh akar ideologis dan historis yang kuat, khususnya warisan Revolusi Islam Iran 1979.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Kondisi negara Islam Iran pada kondisi saat ini yang tengah berperang dengan AS dan Israel. (Dok pexels)





-300x203.webp)


