WASHINGTON, UNHAS.TV - Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia 2026 Gedung Putih, Andrew Giuliani, membela hak pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” seusai menyingkirkan Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bagian dari kebebasan berpendapat di Amerika Serikat. Kontroversi muncul setelah Argentina menang 2-1 atas Inggris di Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari.
Sejumlah pemain, termasuk Giovani Lo Celso dan Lisandro Martinez, terlihat memegang spanduk yang menyatakan Kepulauan Falkland atau Malvinas sebagai milik Argentina.
Pesan itu muncul ketika skuad Albiceleste merayakan keberhasilan lolos ke final melawan Spanyol. “Kami percaya pada hak-hak Amandemen Pertama,” kata Giuliani.
Menurut dia, setiap orang memiliki kesempatan menyampaikan pandangan selama berada di Amerika Serikat. Namun, Gedung Putih tidak memiliki kewenangan menetapkan atau menafsirkan peraturan pertandingan FIFA.

Andrew Giuliani, kepala Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia FIFA 2026. (Screenshot The Sun)
Giuliani menjabat Direktur Eksekutif Satuan Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia FIFA 2026. Lembaga tersebut bertugas mengoordinasikan dukungan pemerintah federal bagi penyelenggaraan turnamen, termasuk aspek keamanan, transportasi, dan kesiapan kota-kota tuan rumah.
Pernyataan Giuliani tidak otomatis membebaskan Argentina dari kemungkinan sanksi. Kebebasan berbicara menurut hukum Amerika Serikat membatasi tindakan pemerintah terhadap suatu ekspresi.
Sementara itu, peserta dan penonton Piala Dunia tetap terikat pada peraturan turnamen yang ditetapkan FIFA.
Kode etik stadion FIFA melarang pesan politik dan ideologis dalam pertandingan. FIFA sedang menelaah laporan pertandingan untuk menentukan apakah tindakan para pemain Argentina akan dilanjutkan ke penyelidikan disipliner.
Spanduk itu disebut berasal dari tribun sebelum dipegang para pemain. Bek Argentina Gonzalo Montiel mengatakan benda tersebut dilemparkan suporter ke lapangan, lalu diambil anggota tim.
Seorang pendukung Argentina dilaporkan membuatnya dari seprai hotel dan cat murah pada hari pertandingan.
Pendukung tersebut diduga menyembunyikan spanduk saat melewati pemeriksaan keamanan stadion. Namun, belum ada keterangan resmi dari pengelola stadion mengenai cara spanduk itu lolos, meski pesan politik dilarang masuk ke arena pertandingan.
Pemerintah Inggris mendesak FIFA mengambil tindakan. Kantor Perdana Menteri Inggris menyatakan persoalan kedaulatan kepulauan tidak berubah oleh hasil pertandingan sepak bola.
“Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami,” demikian pernyataan Downing Street.
Pemerintah Kepulauan Falkland juga menyayangkan tindakan pemain Argentina. Mereka menilai perayaan kemenangan telah dicampur dengan sengketa politik yang tidak berhubungan langsung dengan laga. Pemerintah kepulauan kembali mengingatkan trauma masyarakat akibat invasi Argentina pada 1982.
Presiden Argentina Javier Milei mengambil posisi berbeda. Ia menilai para pemain berhak mengekspresikan pandangan mengenai Malvinas.
Dukungan serupa muncul dari sejumlah warga Argentina yang menganggap klaim atas kepulauan tersebut sebagai bagian dari identitas nasional.
Kepulauan di Atlantik Selatan itu berstatus wilayah seberang laut Inggris, tetapi kedaulatannya terus diklaim Argentina.

Pemain Argentina, Giovani Lo Celso, memegang spanduk bertuliskan Malvinas adalah milik Argentina. (Screenshot The Sun)
Kedua negara berperang selama 74 hari pada 1982 setelah pasukan Argentina menduduki kepulauan tersebut. Inggris kembali menguasainya setelah perang yang menewaskan ratusan personel dari kedua pihak.
Insiden itu menambah ketegangan historis dalam pertemuan Inggris dan Argentina. Rivalitas kedua tim tidak hanya dibentuk oleh pertandingan kontroversial pada Piala Dunia 1986, tetapi juga oleh ingatan atas perang 1982 yang masih kuat dalam politik dan masyarakat kedua negara.
Dalam referendum 2013, hampir seluruh pemilih memilih mempertahankan status kepulauan sebagai wilayah Inggris. Argentina tidak mengakui referendum tersebut dan tetap menggunakan nama Malvinas.
Jika FIFA menjatuhkan hukuman, Asosiasi Sepak Bola Argentina diperkirakan lebih mungkin menerima denda dan peringatan dibandingkan sanksi olahraga.
Keputusan tetap bergantung pada hasil pemeriksaan badan disiplin FIFA terhadap laporan pertandingan serta bukti visual perayaan seusai laga. (*)
MALVINAS - Pemain Argentina, membentangkan spanduk bertuliskan Malvinas adalah milik Argentina usai laga semifinal kontra Inggris di Atlanta, Kamis (15/7/2026) dini hari. (Screenshot The Sun)

-300x169.webp)





