Sport

Tertinggal 2-0, Inter Mampu Bangkit Tundukkan Como dan Jaga Laju Perburuan Scudetto

MENANG - Pemain Inter Milan merayakan kemenangan 4-3 atas tuan rumah Como dan menjaga jalur Scudetto makin aman. (Screenshot Xinhua)

COMO, UNHAS.TV - Inter Milan menjaga kendali dalam persaingan gelar Serie A setelah bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menundukkan Como 4-3 dalam laga yang berlangsung ketat, Minggu (12/4/2026).

Kemenangan ini membawa Inter makin kukuh di puncak klasemen dengan keunggulan sembilan poin atas Napoli yang berada di peringkat kedua. Hasil ini sekaligus mempertegas ambisi mereka menuju scudetto musim ini.

Pertandingan sempat mengarah ke kejutan. Como, tim asuhan Cesc Fabregas, membuka laga dengan percaya diri dan lebih dulu menekan lini belakang Inter yang tampil rapuh sejak menit awal.

Tekanan itu berbuah gol ketika Nico Paz lolos di belakang pertahanan Inter dan melepaskan sepakan melengkung rendah.

Kiper Yann Sommer memang mampu menepis bola, tetapi pantulannya justru jatuh ke kaki Alex Valle. Bek sayap itu langsung menyambar bola untuk membawa Como unggul.

Gol tersebut membuat tuan rumah kian berani. Inter yang biasanya rapi justru tampak lamban membaca pergerakan lawan. Como lalu menggandakan keunggulan setelah terus menekan.

Berawal dari lemparan jauh Jean Butez yang lolos dari jangkauan barisan belakang Inter, bola jatuh ke Paz. Gelandang muda itu mengontrol bola pantul dengan tenang sebelum menaklukkan Sommer.

Menjelang turun minum, Como tampak berada di atas angin dengan keunggulan 2-0, sementara Inter kesulitan menciptakan peluang bersih.

Namun pertandingan berubah tepat pada masa tambahan waktu babak pertama. Marcus Thuram memberi Inter napas baru setelah menyambar umpan silang dari depan Ignace Van der Brempt dan menaklukkan Butez.

Gol itu memang hanya memperkecil selisih menjadi 1-2, tetapi cukup untuk mengubah suasana laga dan menghidupkan kembali Inter yang sepanjang babak pertama tampil di bawah standar.

Manfaatkan Kesalahan Kiper

Momentum itu berlanjut sesaat setelah jeda. Empat menit babak kedua berjalan, Thuram kembali mencetak gol. Kali ini, kekacauan di lini belakang Como memudahkan penyerang Inter tersebut merebut bola.

Melihat Butez keluar jauh dari posisinya, Thuram dengan tenang melepaskan cungkilan dari jarak jauh untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Gol kedua Thuram menjadi titik balik. Inter yang semula goyah mendadak menemukan tempo permainan, sementara Como mulai kehilangan ketenangan. Di tengah tekanan itu, Sommer sempat membuat penyelamatan penting dengan menggagalkan peluang Jacobo Ramon.

Inter lalu membalikkan keadaan pada menit ke-58. Berawal dari tendangan bebas Hakan Calhanoglu dari sisi lapangan, Denzel Dumfries menyambut bola dengan sundulan keras yang membawa Inter untuk pertama kalinya memimpin, 3-2.

Como belum menyerah, tetapi Inter makin efisien. Pada menit ke-72, Dumfries kembali mencatatkan namanya di papan skor. Di dalam kotak penalti yang padat, bola liar jatuh di ruang sempit.

Dumfries bereaksi paling cepat dan mendorong bola melewati garis gawang. Gol itu memberi Inter bantalan dua gol dan seolah mengunci kemenangan.

Akan tetapi, laga belum benar-benar selesai. Como terus menekan pada menit-menit akhir dan berhasil memperkecil ketinggalan setelah Lucas da Cunha mencetak gol dari titik penalti. Hadiah penalti diberikan setelah Ange-Yoan Bonny melanggar Paz di tepi kotak.

Da Cunha menuntaskan eksekusi dengan tenang, membuat skor berubah menjadi 4-3 dan memunculkan ketegangan baru di sisa laga.

Pada masa injury time, Como nyaris memaksakan hasil imbang. Ramon mendapatkan peluang emas lewat sepakan pertama, tetapi bola hanya menghantam mistar. Inter pun lolos dari ancaman terakhir dan mengamankan tiga poin yang nilainya sangat besar dalam perburuan gelar.

Kemenangan ini menunjukkan ketajaman Inter pada momen-momen penting. Secara statistik, Como justru lebih agresif dengan 24 percobaan dan delapan tembakan tepat sasaran. Mereka menghasilkan expected goals sebesar 2,79.

Inter hanya melepaskan tujuh tembakan, lima di antaranya mengarah ke gawang, tetapi mampu mencetak empat gol dari nilai expected goals 0,88. Perbedaan terbesar ada pada efektivitas penyelesaian akhir dan ketenangan dalam memanfaatkan peluang.

Thuram kembali menegaskan perannya sebagai senjata penting Inter. Sejak awal musim 2024-2025, ia sudah enam kali mencetak sedikitnya dua gol dalam satu pertandingan Serie A, terdiri atas lima brace dan satu hattrick. Catatan itu menjadi yang terbanyak dibanding pemain lain di liga.

Di kubu Como, Paz tetap tampil menonjol meski timnya kalah. Ia kini menjadi salah satu dari sedikit pemain dengan dua digit gol non-penalti di Serie A musim ini.

Penampilannya menunjukkan bahwa Como bukan lawan yang mudah, terlebih dengan organisasi permainan yang mereka tunjukkan sepanjang laga.

Namun pada akhirnya, laga ini menegaskan satu hal yakni Inter memiliki daya rusak dan kematangan yang dibutuhkan tim juara.

Sempat tertinggal dua gol, mereka tak panik, lalu membalas dengan empat gol. Dalam persaingan gelar yang kian mendekati garis akhir, kemenangan seperti ini bisa menjadi penanda penting bahwa Inter belum goyah dari jalur scudetto. (*)