Sport

The Gunners Tumbang Perdana, Brighton Bantai Arsenal 3-0 di Pesta 125 Tahun



Brighton melanjutkan awal musim mereka yang fantastis. Setelah mengalahkan Coventry City, Manchester United, kali ini Arsenal. (Screenshot The Sun)


Upaya Arteta membangkitkan timnya selepas turun minum tak banyak mengubah keadaan. Brighton tetap tampil percaya diri dan terus menyerang pertahanan Arsenal.

Gol ketiga lahir sebelum pertandingan genap berlangsung satu jam. Kali ini persoalan Arsenal muncul ketika menghadapi sepak pojok.

Sejumlah pemain Brighton berdiri relatif bebas di area penalti. Chema Andres kemudian memenangkan duel udara melawan Calafiori dan menyundul bola di tiang jauh tanpa kesulitan berarti.

Skor 3-0 membuat Arteta terpaku di tepi lapangan. Setelah sebelumnya beberapa kali menunjukkan kekecewaan terhadap pemainnya, pelatih asal Spanyol itu menundukkan kepala dan kembali menuju bangku cadangan.

Arsenal nyaris kebobolan gol keempat. Struijk mendapat kesempatan dari situasi sepak pojok setelah kembali menemukan celah dalam pertahanan Arsenal. Peluang tersebut gagal berbuah gol.

David Raya juga harus melakukan penyelamatan untuk menggagalkan tembakan Matt Riley. Namun tiga gol sudah cukup untuk memastikan malam buruk bagi Arsenal.

Kekalahan tersebut menjadi yang pertama bagi The Gunners di Liga Primer sejak takluk 1-2 dari Manchester City pada April lalu. Hasil di Brighton sekaligus menghentikan rangkaian tujuh kemenangan Arsenal.

Lebih Besar dari Perayaan

Bagi Brighton, kemenangan ini memiliki arti lebih besar karena bertepatan dengan perayaan hari jadi ke-125 klub.

Brighton berdiri dari sebuah pertemuan di Seven Stars Pub, Ship Street. Dalam pertandingan melawan Arsenal, para pemain mengenakan kostum retro tanpa garis sebagai penghormatan terhadap seragam yang digunakan klub pada musim pertama mereka.

Jika tim Brighton pada 1901 merupakan klub yang baru memulai perjalanan, skuad saat ini mencerminkan perkembangan sepak bola modern. Pemain Brighton dalam pertandingan tersebut berasal dari 18 negara berbeda.

Manajer Brighton Fabian Hurzeler bisa menikmati penampilan dominan anak asuhnya. Pada pertemuan sebelumnya, setelah kalah 0-1 dari Arsenal pada Maret, Hurzeler sempat mengatakan hanya satu tim yang berusaha memainkan sepak bola.

Kali ini, Brighton menunjukkan permainan agresif sejak awal hingga akhir. Tekanan tinggi, pergerakan cepat, dan keberanian mengeksploitasi ruang membuat Arsenal tidak mampu mengembangkan permainan terbaik mereka.

Kemenangan ini juga menegaskan hasil positif Brighton dalam beberapa pertandingan terakhir. Setelah mengalahkan Coventry lima gol tanpa balas dan mencuri kemenangan 3-2 di kandang Manchester United, Brighton kembali menghasilkan tiga gol menghadapi juara bertahan.

Saat peluit akhir berbunyi, suporter Brighton merayakan kemenangan dengan nyanyian bernada sindiran kepada Arsenal. “Apakah kalian Tottenham yang menyamar?” serta “Bisakah kami menghadapi kalian setiap pekan?” terdengar dari tribun Amex.

Bagi Arsenal, jeda internasional datang pada waktu yang mungkin tepat. Para pemain akan meninggalkan klub untuk bergabung dengan tim nasional masing-masing sebelum kembali menghadapi Leeds United pada 10 Oktober.

Arteta memiliki waktu untuk mengevaluasi penampilan timnya, terutama pertahanan yang memberikan terlalu banyak ruang kepada lawan.

Brighton, sebaliknya, menutup perayaan 125 tahun dengan malam yang sulit dilupakan. Tiga gol, kemenangan atas Arsenal, dan atmosfer penuh di Amex menjadi bagian dari hari istimewa dalam perjalanan panjang klub tersebut. (*)