GOWA, UNHAS.TV - Mahasiswa Universitas Hasanuddin menerapkan teknologi integrasi perikanan dan pertanian melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan atau PPK Ormawa di Desa Tinggimae, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Rabu (13/8/2026).
Program yang dijalankan Tim CARA’DE BEM KMF-TP Unhas itu mengusung tema “CARA’DE: Implementasi Smart Hydro-Feed Farming sebagai Model Integrasi Perikanan dan Pertanian Berkelanjutan untuk Penguatan Kemandirian Pangan Masyarakat di Desa Tinggimae.”
Ketua Tim CARA’DE PPK Ormawa BEM KMF-TP Unhas, Yunita Azzahra, mengatakan program tersebut dirancang setelah mahasiswa mengidentifikasi persoalan dan potensi yang dimiliki masyarakat setempat.
Tim CARA'DE kemudian mengembangkan model budidaya ikan air tawar yang dipadukan dengan pertanian hidroponik.
“Program kami berfokus pada usaha budidaya ikan air tawar dan juga usaha budidaya hidroponik. Untuk hidroponik sendiri, kami melakukan budidaya sayur-sayuran dan juga buah-buahan di greenhouse,” kata Yunita.

Ketua Tim CARA’DE PPK Ormawa BEM KMF-TP Unhas, Yunita Azzahra. (Dok Yunita)
Dalam sektor perikanan, mahasiswa menerapkan sejumlah perangkat teknologi untuk menunjang produksi dan pengelolaan kolam.
Tiga alat produksi pakan berupa mesin pencacah, penepung, dan pelleting digunakan untuk membantu masyarakat menghasilkan pakan ikan secara mandiri.
Tim juga memasang smart aerator serta alat pemantau tingkat keasaman atau pH air kolam. Teknologi tersebut digunakan untuk menjaga kondisi lingkungan budidaya agar tetap sesuai bagi pertumbuhan ikan.
“Untuk menyokong keberlanjutan usaha budidaya tersebut, kami menerapkan berbagai alat. Untuk kolam ikan sendiri terdapat tiga alat produksi pakan, yaitu alat pencacah, alat penepung, dan juga alat pelleting,” ujar Yunita.
Selain pakan hasil produksi, Tim CARA’DE membudidayakan Azolla sebagai alternatif pakan tambahan ikan. Pada sektor pertanian, greenhouse hidroponik dilengkapi perangkat pemantau suhu dan kelembapan serta alat untuk memonitor pH nutrisi dalam air.
Penerapan teknologi tersebut dibarengi dengan pelatihan kepada masyarakat. Mahasiswa memberikan pendampingan mengenai cara menggunakan, merawat, dan mengelola perangkat agar dapat dimanfaatkan setelah program PPK Ormawa selesai.
Menurut Yunita, keberlanjutan menjadi salah satu sasaran utama program. Tim berharap masyarakat tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkan usaha secara mandiri.
“Harapan kami, setelah PPK Ormawa ini selesai, masyarakat desa mampu melanjutkan usaha budidaya ikan dan juga pusat usaha budidaya hidroponik yang ada di Desa Tinggimae,” katanya.
Melalui konsep Smart Hydro-Feed Farming, mahasiswa menghubungkan dua sektor produksi pangan dalam satu model pengembangan berbasis teknologi. Program itu diharapkan memperkuat keterampilan masyarakat, meningkatkan keberlanjutan usaha budidaya, sekaligus mendorong kemandirian pangan di Desa Tinggimae.
(Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)
Mahasiswa Unhas dalam Tim PPK Ormawa BEM KMF-TP menerapkan Smart Hydro-Feed Farming di Desa Tinggimae, Gowa, Rabu (13/8/2026). PPK Ormawa menjalankan program Smart Hydro-Feed Farming untuk mengintegrasikan budidaya ikan dan hidroponik. Program dijalankan dengan teknologi, pelatihan, dan pendampingan masyarakat setempat berkelanjutan. (Dok PPK Ormawa Unhas)








