Mahasiswa
Sosial

Tim DEKOMPAK Unhas Raih Best Video di KPP Mining Youth in Action 2



PENGHARGAAN - Tim DEKOMPAK meraih Best Video pada KPP Mining Youth in Action 2 di Jakarta, 28 Agustus 2026. Penghargaan diperoleh setelah tim menjalankan program pariwisata berkelanjutan selama tiga bulan di Rammang-Rammang. (Dok Tim Dekompak)


Dalam pelaksanaan proyek, DEKOMPAK mendapat pendampingan dari Cahyo Alkantana. KPP Mining memilih Cahyo sebagai mentor untuk membantu tim menjalankan proyek sosial dan mengembangkan potensi wisata lokal secara berkelanjutan.

Cahyo dikenal sebagai petualang, pembuat film dokumenter alam, dan pelopor ekowisata asal Yogyakarta. Lulusan Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu memiliki pengalaman dalam mengembangkan destinasi wisata berbasis potensi alam, salah satunya Goa Jomblang.

Pengetahuan Cahyo mengenai ekowisata menjadi bekal bagi tim dalam membaca potensi, kebutuhan, dan tantangan pengembangan Desa Wisata Rammang-Rammang.

Pendampingan tersebut juga membantu tim menghubungkan gagasan dalam proposal dengan kondisi yang mereka temui di lapangan.

Tuti Bahfiarti turut mendampingi tim sejak pelaksanaan proyek hingga Awarding Day. Selain menjadi pembimbing DEKOMPAK, Tuti menjabat Ketua Gugus Penjaminan Mutu dan Peningkatan Reputasi Sekolah Pascasarjana Unhas periode 2026–2030.

Menurut Tuti, keberhasilan tim tidak semata-mata ditentukan oleh nilai hadiah. Kemampuan anggota DEKOMPAK menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan dan menghasilkan dampak melalui program menjadi capaian yang lebih penting.

“Setelah mengikuti prosesnya selama tiga bulan dan kemudian bisa mendapatkan Best Video, tentu itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujar Tuti.

Penghargaan Best Video diumumkan pada Awarding Day KPP Mining Youth in Action 2 di Ballroom Gedung PAMA 2, Jakarta, pada 28 Agustus 2026.

DEKOMPAK menang dalam kategori Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Potensi Lokal untuk Menciptakan Lapangan Kerja.

Capaian tersebut menutup perjalanan tim sejak penyusunan proposal, seleksi, pendanaan, pelaksanaan proyek, produksi video, hingga penjurian. Penghargaan juga menjadi bentuk apresiasi atas dokumentasi program yang mereka kerjakan di Rammang-Rammang.

Bagi anggota tim, program itu memberikan pengalaman menerjemahkan rancangan proyek sosial menjadi kegiatan yang dapat diterapkan langsung.

Mereka juga belajar mengembangkan gagasan, bekerja dengan masyarakat, mengelola pendanaan, dan mendokumentasikan hasil kegiatan melalui video.

DEKOMPAK berharap program yang telah dijalankan tidak berhenti setelah kompetisi berakhir. Tim menginginkan kegiatan penguatan kapasitas masyarakat, digitalisasi pariwisata, pengembangan kegiatan wisata, dan pengolahan produk berbasis nipah terus memberikan manfaat.

Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kompetisi dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk menguji gagasan di lapangan.

Melalui kolaborasi dengan masyarakat, mentor, dan pembimbing, DEKOMPAK berupaya mendukung pengembangan Rammang-Rammang sebagai destinasi wisata berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

(Husnul Hatima / Unhas TV)