MAKASSAR, UNHAS.TV - Upaya pemerintah untuk segera mewujudkan swasembada pangan demi tercapainya kedaulatan pangan, kini makin terlihat seiring meningkatnya lonjakan produksi dan stok pangan nasional.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras periode Januari hingga Desember 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, meningkat 4,14 juta ton atau naik 13,54 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Peningkatan itu tentu saja tidak berjalan mulus tanpa melibatkan unsur pasokan dan distribusi pupuk yang tepat sasaran, tepat waktu, merata, dan terjangkau, sebagaimana amanat Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 tentang reformasi tata kelola pupuk bersubsidi.
Isi utama dari Perpres tersebut yakni peningkatan efisiensi industri dan memastikan ketahanan pangan nasional, dengan mengubah skema pembayaran subsidi di awal proses produksi, menguatkan pengawasan, dan memperjelas prinsip penyaluran pupuk bersubsidi sesuai azas &T: tepat sasaran, jenis jumlah, harga, waktu, tempat, dan mutu.
Perpres ini punya dampak kepada petani berupa penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebera 20 persen yang berlaku sejak 22 Oktober 2025. Adapun bagi PT Pupuk Indonesia (Persero), perusahaan mendapatkan pembayaran subsidi bahan baku di awal untuk memperkuat pengawasan dan efisiensi. Tidak hanya itu, Perpres ini menjadi energi baru di tengah upaya perusahaan itu mempercepat tranformasi bisnisnya demi mewujudkan industri pupuk nasional yang modern, efisien, dan akuntabel.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan, sebagai holding company BUMN produsen pupuk terbesar di Indonesia, Pupuk Indonesia dituntut menjadi ujung tombak ketersediaan pupuk demi mendukung ketahanan pangan.
"Pupuk bukan hanya produk industri tetapi pondasi ketahanan pangan yang tidak boleh terganggu ketersediannya," ujar Rahmad di Jakarta, Oktober lalu.
Komitmen itu sedang dilakukan dengan penekanan pada inovasi, digitalisasi, dan efisiensi untuk memastikan ketersediaan pupuk yang tepat sehingga petani dapat memperoleh pupuk saat dibutuhkan dengan harga terjangkau dan tepat sasaran.
Transformasi digital menjadi pilar utama dan prioritas strategis untuk mewujudkan industri pukuk yang modern, efisien, dan akuntabel sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional melalui distribusi pupuk yang tepat sasaran.
Transformasi digital dilakukan mulai dari hulu ke hilir, dari pengadaan bersama penyalir, hingga perencanaan bahan baku, kegiatan produksi, proses pemeliharaan, dan manajemen bahan baku.
Transformasi Diigital
Bersama dengan Kementrian Pertanian, PT Pupuk Indonesia berhasil menciptakan aplikasi iPubers. Aplikasi ini untuk memastikan pennyaluran pupuk bersubsidi berjalan lancar dan tepat sesuai alokasi.
Aplikasi iPubers ini juga meningkatkan pengawasan yang lebih modern dan transparan sehingga pencatatan penyaluran pupuk tidak lagi secara manusia. Peredaran pupuk subsidi di luar sasaran juga dapat ditekan seminimal mungkin.
Data PT Pupuk Indonesia, sejak efektif aktif pada Januari 2024, iPubers telah menuntaskan 44 juta transaksi dengan rata-rata 2,5 juta transaksi setiap bulan.
Selain iPubers, Pupuk Indonesia juga memiliki iFarms, suatu platform digital untuk pendataan petani dan lahan, rekomendasi pemupukan, serta integrasi layanan off-farm. Pupuk Indonesia juga memiliki aplikasi Petro Sparing, aplikasi layaan teknologi pemupukan berbasis drone untuk mendukung smart farming.
Atas inovasi itu pula, PT Pupuk Indonesia (Persero) kembali dinobatkan sebagai Most Trusted Company pada ajang Corporate Governance Perception Index (CGPI) Awarding Indonesia Trusted Company 2025 pada November lalu. Penghargaan yang juga diraih setahun lalu ini makin meegaskan Pupuk Indonesia berhasil mengoptimalkan digitalisasi dalam penerapan tata kelola pupuk bersubsidi.
Perlu Edukasi
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Jaya, Kamaruddin Daeng Rowa, menyebut sejak munculnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, petani di Desa Kalemandalle, Kecamatan Bajeng Barat, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, tak pernah lagi risau mengenai pasokan pupuk subsidi khususnya untuk jenis pupuk Urea, Phonska, dan organik.
"Begitu kami butuh, barangnya selalu tersedia dari Pupuk Indonesia. Pemesanannya pun mudah," kata Kamaruddin Daeng Rowa, Rabu (31/12/2025).
Menurut Kamaruddin, Gapoktan Harapan Jaya yang beranggotakan 21 kelompok tani dan menghimpun lebih dari 500 petani itu, dukungan dari Pupuk Indonesia juga sangat bagus sehingga petani lebih tenang mengelola lahan mereka tanpa perlu was-was mengenai ketersediaan pupuk.
Namun, ada satu hal yang menjadi harapan dari Daeng Rowa setelah sejak dua bulan lalu menjadi pengecer pupuk untuk anggotanya. Ia berharap, Pupuk Indonesia dan pemerintahh setempat lebih banyak memberikan edukasi kepada petani khususnya pada penggunaan aplikasi digital.
"Pengecer lama sudah berhenti, saya berinisiatuf mengambil alih sejak dua bulan lalu, tapi masih sering bingung memakai aplikasinya. Mohon dibantu," katanya.
Ia juga berharap, Pupuk Indonesia bisa menyediakan kebutuhan pupuk yang lebih beragam di wilayahnya karena sebagian petani di kelompoknya tidak hanya butuh Urea, Phonska, dan organik. Apalagi Gapoktan Harapan Jaya selalu terkenal dengan produksi gabah keringnya di atas produksi Gapoktan lain di sekitar wilayahnya.
Ia yakin jika sarannya ini diterima, maka Gapoktan lainnya di seluruh Sulawesi Selatan akan lebih produktif. Terlebih karena Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah penopang stok beras secara nasional.(*)
PUPUK - Pupuk Urea produksi PT Pupuk Indonesia. Foto: Pupuk Indonesia







