MAKASSAR, UNHAS.TV - Transisi menuju energi yang lebih bersih tidak hanya membutuhkan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan, tetapi juga kemampuan menjaga ketersediaan listrik bagi masyarakat dan industri.
Ketergantungan sejumlah sumber energi terbarukan terhadap kondisi alam menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan agenda transisi energi.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Sosialisasi Kebijakan Energi: Penguatan Pemahaman Publik tentang Kebijakan Energi Nasional dan Ketahanan Energi Nasional, yang digelar Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Universitas Hasanuddin di Ruang Senat Akademik, Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Makassar, Selasa (15/9/2026).
Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, perguruan tinggi, dan industri untuk membahas ketahanan pasokan, pengembangan energi terbarukan, hingga kesiapan sumber daya manusia menghadapi transformasi sektor energi.
Anggota DEN, Dr Ir Sripeni Inten Cahyani MM IPM ASEAN Eng mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produksi energi berbasis sumber daya alam.
Ia menyebut PLTA mengambil peran sekitar 30 persen dalam sistem kelistrikan Sulawesi, sehingga perubahan kondisi hidrologi dapat berpengaruh terhadap pasokan listrik.
Sripeni menyinggung kondisi kemarau yang memengaruhi kemampuan sejumlah PLTA. Dalam situasi tersebut, ia menilai pengelolaan sumber daya air yang dilakukan PT Vale Indonesia dapat menjadi salah satu pembelajaran dalam mempertahankan operasi pembangkit di tengah perubahan cuaca.
"Kita mengambil lesson learned yang terbaik dari pengoperasian PLTA-nya PT Vale, yang tidak terpengaruh oleh cuaca. Bahkan sampai cuaca kemarau ekstrem pun masih bertahan,” ujar Sripeni.
Selain persoalan pasokan energi, Sripeni menempatkan perguruan tinggi sebagai bagian penting dalam menghadapi transformasi sektor energi. Menurutnya, Sulawesi Selatan memiliki potensi energi lokal dan perkembangan industri yang perlu diimbangi dengan penguatan riset, inovasi, serta kesiapan sumber daya manusia.
Dalam konteks tersebut, Universitas Hasanuddin diharapkan dapat menyiapkan mahasiswa dengan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan sektor industri.
Sripeni mengatakan pertumbuhan industri di daerah juga membuka peluang kerja yang perlu diikuti kesiapan tenaga kerja lokal agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat setempat.
DEN, menurut Sripeni, dapat memberikan gambaran mengenai kebijakan energi, roadmap transisi energi, serta perkembangan teknologi yang akan digunakan ke depan.
Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi Unhas dalam mengembangkan pendidikan dan menyiapkan kompetensi mahasiswa.
“Harapannya itu bisa di-capture oleh Universitas Hasanuddin untuk melihat dan menyiapkan dan melakukan penyesuaian terhadap kurikulum, supaya kurikulumnya itu bisa mengadopsi teknologi ke depan untuk dekarbonisasi seperti apa, kebutuhan untuk industri itu seperti apa,” jelas Sripeni.
Sementara itu, Anggota DEN Dr Ir Unggul Priyanto MSc menyoroti tantangan dalam menyeimbangkan ketahanan energi dengan proses transisi energi.
Menurutnya, peningkatan penggunaan energi terbarukan perlu dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan pertumbuhan kebutuhan listrik.
Unggul menyebut pemerintah memiliki program pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt.
Namun, pengembangan energi terbarukan perlu berjalan dengan memperhitungkan kesiapan pasokan agar tidak terjadi kesenjangan ketika kebutuhan listrik meningkat.
“Jangan sampai kita menunggu yang transisi energi untuk jalan, sementara yang fosil sudah ditarik lebih dulu,” kata Unggul.
Sumber Energi Terbarukan
>> Baca Selanjutnya
KEBIJAKAN ENERGI - Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Universitas Hasanuddin menggelar Sosialisasi Kebijakan Energi: Penguatan Pemahaman Publik tentang Kebijakan Energi Nasional dan Ketahanan Energi Nasional di Ruang Senat Akademik, Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Makassar, Selasa (15/9/2026). (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)







-300x171.webp)
