Nasional
Pendidikan

Ledakan Gudang Amunisi Madiun Picu Sorotan terhadap Standar Keamanan, Ini Kata Ahli Kimia Unhas?

Guru Besar Kimia Fakultas MIPA Unhas Prof Dr Indah Raya Andi Rumpang. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Ledakan di Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) II Puspalad, Saradan, Madiun, Jawa Timur, menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Selain dugaan kelalaian prosedur penyimpanan, insiden ini juga menyoroti potensi bahaya kimia yang berdampak pada lingkungan sekitar.

Peristiwa ledakan terjadi pada 16 Juli 2026 saat proses pemeriksaan dan perawatan amunisi. Satu prajurit dilaporkan meninggal dunia, sementara enam lainnya mengalami luka-luka.

Sejauh ini, perhatian publik masih terfokus pada korban dan penyebab utama ledakan. Dugaan sementara mengarah pada amunisi kedaluwarsa yang rentan terhadap panas dan gesekan, pola yang juga terjadi pada insiden serupa di Gudang Amunisi Daerah Bogor pada 2024.

Namun, aspek lain yang tak kalah penting adalah dampak kimia yang ditimbulkan dari ledakan tersebut.

Amunisi militer umumnya mengandung bahan seperti nitroselulosa, nitrogliserin, TNT, hingga RDX, yang saat meledak menghasilkan gas berbahaya seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, hingga sulfur dioksida.

Selain itu, ledakan juga berpotensi melepaskan partikel logam berat seperti timbal dan antimon ke lingkungan. Residu bahan peledak yang tidak terbakar sempurna dapat mencemari tanah dan berisiko masuk ke air tanah, terutama jika terpapar air hujan atau proses pemadaman.

Dampak jangka pendek yang paling mungkin dirasakan warga sekitar adalah paparan gas beracun seperti NOx dan CO. Sementara itu, dampak jangka panjang meliputi perubahan kualitas tanah, korosi infrastruktur, hingga potensi kontaminasi bahan berbahaya yang tersisa.

Pengelolaan limbah pasca-ledakan juga menjadi perhatian penting, mengingat puing dan material yang terpapar bahan peledak tergolong limbah berbahaya dan beracun (B3) yang membutuhkan penanganan khusus.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin, Prof Dr Indah Raya Andi Rumpang MSi menilai bahwa faktor penyimpanan menjadi kunci utama dalam kasus ini.

“Ya itu sebenarnya, ya mereka sebenarnya tahu sih, jadi kan namanya juga bahan peledak itu tidak seperti dengan bahan-bahan lain," ujar Prof Indah Raya.

"Mungkin jadi cara penempatannya, cara penyimpanannya harusnya kan memang sangat safety, harusnya ya, dan tidak seperti itu. Bisa saja dipicu karena suhu, karena apa, udara itu bisa saja memang terjadi ledakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kandungan dalam amunisi seperti propelan dan logam tertentu sangat rentan terhadap perubahan suhu. Kondisi ini dapat memicu ledakan berulang jika tidak diantisipasi dengan baik.

“…kalau suhu tinggi itu bisa saja terjadi ledakan, berulang, dan ini sebenarnya sudah berulang tapi sepertinya belum terlalu dapat perhatian tinggi…,” jelasnya.

Menurutnya, kasus serupa sebelumnya juga pernah terjadi di beberapa daerah, namun belum menjadi perhatian serius. Ia menyebut, faktor usia amunisi dan proses oksidasi juga meningkatkan risiko terjadinya ledakan.

Prof. Indah menegaskan, pihak terkait sebenarnya memahami standar penyimpanan amunisi. Namun, kedisiplinan dalam menerapkan standar operasional prosedur (SOP) kerap menurun seiring waktu.

Ia menilai, ketidakkonsistenan dalam penerapan SOP menjadi celah besar yang berisiko memicu ledakan, terutama pada penanganan bahan berbahaya seperti amunisi militer.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)