
Mauricio Pochettino hadir menyaksikan Spurs kalah 5-2 di Atletico Madrid. (The Sun/Getty)
Dari semua nama yang beredar, Mauricio Pochettino adalah sosok yang paling mudah memantik emosi pendukung Tottenham.
Pelatih asal Argentina itu masih punya tempat khusus di hati suporter setelah periode suksesnya di klub.
Ia bahkan disebut hadir menyaksikan laga pertama yang kacau melawan Atletico, meski secara resmi datang sebagai tamu pihak LaLiga dan memantau gelandang Amerika Serikat, Johnny Cardoso.
Pochettino tak pernah menutupi kedekatannya dengan Spurs. Ia berulang kali menyampaikan rasa cintanya kepada klub itu.
Karena itu, setiap kursi pelatih Tottenham goyah, namanya nyaris otomatis muncul. Namun ada hambatan yang tak kecil. Pochettino saat ini menangani tim nasional Amerika Serikat.
Pertanyaan besar bukan pada keinginannya kembali, melainkan pada kemungkinan teknis menjalankan dua peran atau meninggalkan posisinya sebelum musim depan. Dalam krisis yang menuntut kepastian segera, faktor itu bisa menjadi penghalang utama.
6. Harry Redknapp
Harry Redknapp menawarkan satu hal yang tak banyak dimiliki kandidat lain: pengalaman panjang dan kemampuan mengelola ruang ganti.

Harry Redknapp melatih Spurs antara tahun 2008 dan 2012. (The Sun)
Ia pernah menangani Tottenham pada 2008-2012 dan meninggalkan kesan kuat di White Hart Lane. Seusai penunjukan Tudor, Redknapp bahkan mengaku ia akan menerima pekerjaan itu seandainya ditawari.
Pada usia 79 tahun, Redknapp tentu bukan opsi untuk proyek jangka panjang. Ia juga belum kembali bekerja di tepi lapangan sejak menangani Birmingham pada 2017.
Namun dalam situasi yang menuntut ketenangan, kemampuan komunikasi dan man-management-nya bisa dianggap aset.
Ketersediaannya pun disebut tidak menjadi masalah, karena keterlibatannya dalam serial I’m a Celebrity All Stars telah direkam jauh hari. Bila Tottenham hanya membutuhkan figur senior untuk menstabilkan suasana, Redknapp tetap punya daya tarik tersendiri.
7. Ruben Amorim
>> Baca Selanjutnya




-300x168.webp)


