Dinas
Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) Menuduh Amerika Serikat dan Inggris
Merencanakan Serangan terhadap Pangkalan Militer Rusia di Suriah
Dinas
Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) mengeluarkan pernyataan yang menuduh Amerika
Serikat dan Inggris merencanakan serangan terhadap pangkalan militer Rusia di
Suriah, dengan tujuan memaksa Moskow untuk menarik pasukannya dari wilayah
tersebut (Press TV, 29/12).
Dalam pernyataannya, Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) menyebut bahwa agen-agen Amerika dan Inggris berupaya memprovokasi serangan terhadap pangkalan Rusia di Suriah, sebagai bagian dari strategi untuk mendesak Rusia meninggalkan negara tersebut. "Badan intelijen Inggris tengah merancang skenario untuk melancarkan serangkaian serangan teroris terhadap instalasi militer Rusia di Suriah. Rencana tersebut mencakup perekrutan teroris Takfiri Daesh, yang telah dibebaskan oleh otoritas baru di Damaskus setelah jatuhnya rezim Assad," demikian pernyataan yang dirilis oleh kantor pers Layanan Intelijen Asing Rusia (SVR) pada Sabtu.
Persiapan
Serangan Teroris
Dinas
Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) menjelaskan secara rinci bahwa badan
intelijen Amerika Serikat dan Inggris sedang mempersiapkan serangkaian serangan
teroris terhadap pangkalan Rusia di Suriah. Menurut siaran pers yang
diterbitkan pada Sabtu (29 Desember), serangan ini direncanakan untuk
dilaksanakan oleh kelompok teroris ISIS (yang dinyatakan terlarang di Rusia),
dengan pelaksana yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara oleh "rezim
baru" Suriah.
Berdasarkan keputusan Mahkamah Agung Rusia pada 29 Desember 2014, kelompok ISIS dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris, dan aktivitasnya dilarang di Rusia.
Upaya Pengosongan Pasukan Rusia dari Suriah
Menurut Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) bahwa Amerika Serikat dan Inggris berharap bahwa serangan teroris ini akan memaksa Rusia menarik pasukannya dari Suriah. Dalam pernyataan tersebut dinyatakan: "London dan Washington mengantisipasi bahwa provokasi semacam itu akan memaksa Rusia untuk mengosongkan pasukannya dari Suriah, sekaligus menuduh otoritas baru Suriah tidak mampu mengendalikan kelompok ekstremis."
Menghambat Stabilitas di Suriah
Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) juga menegaskan
bahwa Amerika Serikat dan Inggris, setelah tergulingnya Bashar al-Assad sebagai
Presiden Suriah, berupaya untuk mencegah stabilitas politik di negara tersebut.
Dalam pernyataan tersebut dinyatakan: "Berdasarkan
informasi yang diperoleh intelijen Rusia, baik pemerintahan Amerika Serikat
saat ini maupun kepemimpinan Inggris secara lebih luas berusaha mempertahankan
kekacauan di kawasan Timur Tengah." (*)