News
Opini

UNHAS 70 Tahun: Ketika Kampus dari Timur Membaca Masa Depan

Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil, Direktur Eksekutif Global Research Institute (GloRI) Unhas dan Guru Besar Teknik Geologi Unhas. (Dok Unhas TV)

Oleh: Adi Maulana*


Ada yang berbeda dalam perayaan Dies Natalis ke-70 Universitas Hasanuddin, 9 September 2026 lalu. Di tengah suasana perayaan tujuh dekade perjalanan UNHAS, lahir sebuah gagasan yang mungkin bagi sebagian masyarakat masih terdengar asing: pembentukan Institut Mineral Kritis Universitas Hasanuddin.

Mineral kritis? Mengapa sebuah universitas harus mendirikan institut khusus untuk itu? Justru di situlah menariknya.

Di tengah begitu banyak hal yang dapat dipilih untuk menandai usia 70 tahun, pimpinan UNHAS, terutama Rektor Prof. Jamaluddin Jompa melihat sesuatu yang selama ini mungkin belum banyak menjadi perhatian publik, tetapi sedang menjadi salah satu persoalan paling strategis di dunia: mineral kritis.

Keputusan ini menurut saya bukan sekadar keputusan akademik. Ia adalah keputusan yang strategis, elegan, sekaligus sensitif terhadap arah perubahan dunia.

Membaca sesuatu sebelum menjadi arus utama

Salah satu ciri universitas besar bukan hanya kemampuannya menjawab persoalan hari ini. Universitas besar seharusnya mampu membaca persoalan yang akan menentukan masa depan.

Dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat. Transisi energi, kendaraan listrik, baterai, energi surya dan angin, kecerdasan buatan, semikonduktor, teknologi digital, industri pertahanan hingga teknologi ruang angkasa semuanya membutuhkan bahan baku mineral tertentu.

Nikel, kobalt, tembaga, mangan, grafit, skandium dan unsur tanah jarang bukan lagi sekadar komoditas tambang. Mineral-mineral tersebut telah berubah menjadi aset strategis.

Jika pada abad lalu percakapan geopolitik dunia banyak berpusat pada minyak dan gas, maka abad ini semakin banyak negara berbicara mengenai critical minerals security. Siapa yang mempunyai sumber daya? Siapa yang menguasai teknologi pengolahannya? Siapa yang mampu menghasilkan material maju? Dan siapa yang menguasai rantai pasoknya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin menentukan posisi suatu negara dalam ekonomi global. Pada titik inilah pendirian Institut Mineral Kritis di UNHAS menjadi sangat relevan.

UNHAS tidak sedang mengikuti tren. UNHAS sedang mencoba membaca ke mana dunia bergerak dan menempatkan dirinya di dalam perubahan tersebut.

Dari Timur Indonesia untuk Dunia

Yang membuat keputusan ini semakin menarik adalah posisi geografis dan geologis UNHAS. UNHAS berada di Makassar, tepat di pintu gerbang kawasan Indonesia Timur. Di sekeliling kita terdapat Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Nusa Tenggara, wilayah yang dianugerahi kekayaan geologi luar biasa.

Sulawesi sendiri telah menjadi salah satu pusat industri nikel dunia. Indonesia Timur juga menyimpan potensi kobalt, tembaga, emas, kromit, mangan, skandium, unsur tanah jarang dan berbagai mineral strategis lainnya. Artinya, UNHAS berada sangat dekat dengan salah satu natural laboratory mineral kritis terpenting di dunia.

Ini adalah keunggulan yang tidak dapat dibeli. Laboratorium dapat dibangun. Peralatan dapat dibeli. Teknologi dapat dipelajari. Tetapi posisi geografis dan sejarah geologi yang membentuk kekayaan mineral selama puluhan hingga ratusan juta tahun tidak dapat dipindahkan. Karena itulah jargon “Dari Timur Indonesia untuk Dunia” menemukan maknanya.

Selama ini istilah “Indonesia Timur” kadang-kadang secara tidak sadar ditempatkan sebagai sesuatu yang berada di pinggiran. Padahal, jika kita melihatnya dari perspektif sumber daya masa depan, justru kawasan ini berada sangat dekat dengan pusat persoalan global.

Maka yang diperlukan adalah perubahan cara pandang: dari peripheral menjadi strategic; dari sekadar lokasi sumber daya menjadi pusat pengetahuan; dari tempat menambang menjadi tempat lahirnya gagasan dan teknologi.

Bukan hanya soal tambang

Di sinilah pentingnya kehadiran universitas. Pendirian Institut Mineral Kritis tidak boleh dimaknai sebagai keberpihakan universitas kepada eksploitasi sumber daya alam. Justru sebaliknya, universitas harus hadir agar pemanfaatan sumber daya dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi dan prinsip keberlanjutan.

Dunia menghadapi dilema besar. Kita ingin mengurangi emisi karbon dan menahan laju pemanasan global. Namun teknologi untuk melakukan transisi tersebut—kendaraan listrik, baterai, jaringan listrik, turbin angin dan berbagai teknologi rendah karbon—membutuhkan mineral dalam jumlah sangat besar.

Di sisi lain, pertambangan yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan persoalan lingkungan dan sosial. Maka pertanyaannya bukan lagi sederhana: menambang atau tidak menambang?

Pertanyaan yang lebih relevan adalah: bagaimana sumber daya mineral dikelola secara bertanggung jawab, memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, tetapi tetap menjaga lingkungan dan hak generasi mendatang? Di situlah ilmu pengetahuan diperlukan.

Universitas harus berani berdiri di tengah: tidak menjadi anti-industri, tetapi juga tidak menjadi stempel bagi industri. Universitas harus menjadi penjaga rasionalitas dan independensi ilmu pengetahuan.

Kekayaan alam tidak otomatis menjadi kemakmuran

Indonesia sebenarnya telah lama mengetahui satu pelajaran penting: memiliki sumber daya alam yang besar tidak otomatis membuat sebuah bangsa menjadi maju. Di antara keduanya terdapat ilmu pengetahuan, teknologi, sumber daya manusia, institusi dan tata kelola.

Jika kita hanya menggali dan menjual apa yang tersedia di alam, nilai terbesar akan dinikmati oleh mereka yang menguasai teknologi setelahnya. Karena itu hilirisasi mineral seharusnya tidak berhenti pada pembangunan smelter. Hilirisasi pada akhirnya harus membawa Indonesia menuju penguasaan teknologi, advanced materials, inovasi dan industri masa depan.

Di sinilah Institut Mineral Kritis UNHAS dapat memainkan peran penting: menjadi ruang bertemunya universitas, pemerintah dan industri untuk mengubah keunggulan sumber daya menjadi keunggulan pengetahuan.

Keputusan yang tepat pada usia yang tepat

Menurut saya, pembentukan institut ini pada Dies Natalis ke-70 UNHAS mempunyai makna simbolik yang kuat. Tujuh puluh tahun adalah usia kematangan dimana pada usia seperti ini, ukuran keberhasilan sebuah universitas seharusnya tidak lagi hanya berapa mahasiswa yang dimiliki, berapa gedung yang dibangun, atau bahkan berapa banyak publikasi yang dihasilkan.

Pertanyaannya harus meningkat menjadi Apa kontribusi universitas terhadap persoalan besar bangsa dan dunia? Dalam beberapa tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Prof. Jamaluddin Jompa, kita melihat UNHAS semakin agresif membangun jejaring global, meningkatkan kolaborasi internasional dan mendorong transformasi menuju world-class university.

Tetapi menjadi universitas kelas dunia sesungguhnya bukan sekadar tentang ranking. World-class university adalah universitas yang ikut menyelesaikan world-class problems. Dan mineral kritis jelas merupakan salah satu world-class problems hari ini.

Karena itu, Institut Mineral Kritis adalah sebuah pilihan yang cerdas. Ia mempertemukan tiga hal sekaligus: keunggulan lokal, kepentingan nasional dan persoalan global. Tidak banyak tema yang memiliki kombinasi sekuat itu.

Kado kecil dengan rasa global

Tentu pendirian sebuah institut hanyalah permulaan. Papan nama tidak otomatis menghasilkan reputasi global. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah institut dibentuk.Ia harus diisi dengan penelitian berkualitas, ilmuwan terbaik, jejaring internasional, kolaborasi industri, keberanian menghasilkan inovasi, dan yang terpenting, integritas akademik.

Ia harus menjadi rumah bersama bagi pemerintah, universitas, industri dan masyarakat untuk mendiskusikan masa depan mineral Indonesia berdasarkan sains.

Jika itu dapat dilakukan, maka keputusan yang diumumkan pada usia ke-70 UNHAS ini mungkin suatu hari akan dikenang bukan sebagai seremoni kelembagaan, melainkan sebagai salah satu titik penting perubahan orientasi UNHAS.

Dari universitas yang tumbuh di Indonesia Timur menjadi universitas yang menggunakan keunggulan Indonesia Timur untuk menjawab persoalan dunia. Itulah transformasi yang sesungguhnya.

UNHAS lahir di Makassar. Ia tumbuh bersama masyarakat Sulawesi Selatan. Ia mengabdi untuk Indonesia. Tetapi pada usia 70 tahun, cakrawalanya sudah sepatutnya jauh lebih luas. Karena ilmu pengetahuan memang tidak mengenal batas geografis.

Dan mungkin inilah makna paling indah dari perjalanan tujuh dekade itu: UNHAS tetap berakar kuat di Timur Indonesia, tetapi buah dari ilmu pengetahuannya harus dapat dinikmati dunia.

Pada usia 70 tahun, barangkali sudah waktunya kita mengatakan: UNHAS bukan hanya milik Sulawesi Selatan. UNHAS bukan hanya milik Indonesia. UNHAS sedang tumbuh menjadi milik dunia.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Global Research Institute (GloRI), Universitas Hasanuddin, Guru Besar Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin.