Kesehatan
Pendidikan

Unhas dan Okayama University Bahas Strategi Hadapi Tantangan Penyakit Ginjal Kronis

KULIAH TAMU - Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin bersama Okayama University Jepang menggelar Guest Lecture tentang penyakit ginjal kronis dan hemodialisis di Gedung IPTEKS Unhas, Makassar, Selasa (1/9/2026). Kegiatan ini membahas peran perawat dalam pencegahan dan penanganan CKD. (Dok FKep Unhas)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) menjadi salah satu tantangan kesehatan yang membutuhkan perhatian jangka panjang.

Tidak hanya berkaitan dengan pengobatan medis, penanganan penyakit ini juga menuntut perubahan perilaku pasien serta peran tenaga kesehatan dalam mendampingi proses perawatan.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam kegiatan Guest Lecture yang digelar Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Okayama University, Jepang, di Gedung IPTEKS Unhas, Selasa (1/9/2026).

Forum akademik itu menghadirkan pemateri dari dua institusi, yakni Dr Yuki Kajiwara dari Faculty of Health Science Okayama University, Jepang, serta Abdul Majid, SKep Ns MKep SpKepMB dari Fakultas Keperawatan Unhas.

Dalam kegiatan tersebut, peserta membahas berbagai aspek penanganan CKD, mulai dari upaya memperlambat perkembangan penyakit hingga perawatan pasien yang telah menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah.

Dr Yuki Kajiwara memaparkan peran perawat dalam mendukung perubahan perilaku pasien sebagai bagian dari strategi memperlambat perkembangan penyakit ginjal kronis.

Menurutnya, keterlibatan perawat tidak hanya terbatas pada tindakan klinis, tetapi juga mencakup edukasi dan pendampingan agar pasien mampu menjalankan pola hidup yang mendukung proses perawatan.

Sementara itu, Abdul Majid membahas respons adaptif pasien CKD, mulai dari tahap pencegahan hingga penanganan pasien yang menjalani hemodialisis.

Ia mengatakan, penyakit ginjal kronis menjadi isu penting karena pasien membutuhkan perawatan yang berlangsung dalam jangka panjang.

“Mahasiswa keperawatan memiliki peran penting karena nantinya mereka menjadi salah satu garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan pasien,” ujar Abdul Majid.

Menurut dia, CKD tidak hanya muncul akibat satu faktor penyakit tertentu, tetapi juga berkaitan dengan kondisi kesehatan lain maupun gaya hidup masyarakat.

Di Sulawesi Selatan, ia menyoroti hipertensi dan diabetes mellitus sebagai dua faktor yang banyak ditemukan berkaitan dengan risiko penyakit ginjal kronis.

Pembahasan tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengalaman antara Indonesia dan Jepang. Kedua negara menghadapi tantangan serupa dalam peningkatan jumlah pasien CKD maupun kebutuhan pelayanan bagi pasien yang menjalani hemodialisis.

Dr Yuki Kajiwara menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan kolaborasi tersebut. Ia menilai diskusi mengenai CKD dan pasien hemodialisis menunjukkan adanya kesamaan persoalan kesehatan yang dihadapi oleh Indonesia dan Jepang.

Menurutnya, kerja sama akademik semacam ini penting untuk memperkuat pemahaman bersama mengenai pencegahan dan pengelolaan penyakit ginjal kronis.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai ruang kolaborasi antara kedua negara, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan bagi pasien CKD.

Melalui Guest Lecture tersebut, Universitas Hasanuddin dan Okayama University mendorong penguatan pertukaran ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.

Kolaborasi itu diharapkan tidak berhenti pada diskusi akademik, tetapi berkembang menjadi upaya bersama dalam menghadapi tantangan penyakit ginjal kronis melalui pendekatan pencegahan, edukasi, dan pelayanan yang berkelanjutan. 

(Nur Ainun Jariyah Munawar/ Unhas TV)