News
Opini

UNHAS ENDGAME

oleh Rusman Madjulekka*

Prof Jamaluddin Jompa melihat perempuan melintas dihadapannya. Ia menghampirinya. Sampai meninggalkan kerumuman wartawan yang sedang asyik mewawancarainya, tak lama setelah dirinya terpilih kembali sebagai Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk periode keduanya (2022-2030).   

Setelah bersalaman, Jompa meletakkan kedua tangan tangan di dadanya. Gestur dengan isyarat non-verbal yang kuat untuk menunjukkan rasa terima kasih yang tulus dan datang dari hati.

“Please, support me,” ujar Jompa dengan mata berkaca-kaca. 

Perempuan berjilbab hitam itu lalu membalas dengan memegang lengan kirinya Jompa, seperti layaknya seorang ibu kepada anaknya. Penuh kasih sayang. 

“Congratulation…ya,” katanya pelan. 

Perempuan itu Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu. Mantan atasan Jompa, Rektor Unhas dua periode (2014-2022) yang digantikannya. Yang juga diketahui mendukung calon rektor lain yang menjadi rival Jompa.    

Saya dan Awaluddin, sesama alumni Unhas, tertegun menyaksikan momen tersebut. Naluri jurnalistik saya terlecut.

Spontan saya mengarahkan kamera handphone mengabadikannya dengan latar saksi Awaluddin yang juga dirangkul erat Jompa seolah pertemuan sekian purnama antara dosen dan mantan mahasiswanya seraya berkata: “Ini anakku….”  

Foto itu beredar luas di beberapa grup WA, terutama kalangan alumni, mahasiswa dan dosen Unhas. Banyak tanggapan, beragam dan bermacam komentar yang muncul. 

“Seeing is believing” ujar Prof Iqbal Djawad singkat. Ia dosen perikanan dan kelautan yang sempat masuk bakal calon Rektor Unhas. Ada juga berkata: “Sejak dan damai melihatnya” dan sebagainya.

Betapa sengitnya pertarungan calon Rektor Universitas Hasanuddin pun ada ujungnya. _Endgame_ . Terjadi kemarin, 14 Januari 2026. Di Jakarta. Bukan di Makassar.

Hasilnya anda dan publik sudah tahu: Prof Jamaluddin Jompa pemenangnya. Rektor Unhas incumbent ini terpilih kembali untuk periode kedua. Mengalahkan rivalnya Prof Budu dan Prof Sukardi Weda.   

Komposisi suara dalam rapat senat terbuka luar biasa majelis wali amanat (MWA) Unhas yang terdiri 16 anggota yang memiliki hak suara, termasuk suara Mendiktisaintek, dan tokoh masyarakat, Prof JJ- begitu biasa Prof Jamaluddin Jompa dipanggil- memperoleh 23 suara, Prof Budu 1 suara dan Prof Sukardi 0 suara.

Suara pemerintah diwakili Mendiktisaintek sebesar 35% dari total suara. Yang mewakili tokoh masyarakat, Tony Wenas, Arsjad Rasjid dan Songkat Marzuki.   

Orang luar mungkin bertanya, “Riak rivalitas berakhir beneran atau hanya disimpan?” Entahlah. 

Saya yang melihat dari jauh hanya bisa memprediksi jawaban Unhas sederhana: yang penting para tim sukses tetap tenang. Karena dalam tradisi Unhas, yang saya tahu, ketenangan pendukung lebih penting daripada kepuasan ego elite. 

Islah Unhas rasanya tak lama lagi. Tidak lahir dari meja rapat atau ruang ber-AC. Tapi dari kesadaran kolektif bahwa lembaga pendidikan Unhas ini terlalu besar untuk dipertaruhkan oleh satu konflik. 

Sepintas terasa sejuk. Seperti hujan sore: tidak menghapus debu sepenuhnya, tapi cukup untuk menurunkan panas. Dan bagi orang luar, seperti saya, itu sudah lebih dari cukup.

*Penulis adalah alumni Ilmu Komunikasi, FISIP Unhas. Tinggal di Jakarta.