Pendidikan

Unhas Genjot Hilirisasi, Rektor Janji Kawal Inovasi Hingga Scaling Up Masuk Industri

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc. (unhas tv/syaiful)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) mencanangkan percepatan hilirisasi dan komersialisasi hasil riset dalam The 1st Unhas Innovation Seminar 2026 yang digelar secara hybrid di Innovate Room, Unhas Hotel & Convention, Selasa (3/3/2026).

Seminar ini menjadi penegasan komitmen kampus untuk memastikan inovasi tidak berhenti di laboratorium, melainkan masuk ke pasar dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Sebanyak 105 inventor ambil bagian dalam forum ini. Mereka terbagi dalam dua klaster. Klaster pertama berisi 64 inventor non pelaksana hilirisasi riset prioritas dengan tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TKT) 7 hingga 9.

Artinya, produk mereka telah memasuki tahap siap komersialisasi dan hanya membutuhkan satu hingga dua tahap akhir sebelum diluncurkan ke pasar.

Klaster ini dikelompokkan ke dalam lima kategori strategis, yakni green economy, blue economy, ketahanan pangan, kesehatan dan farmasi, serta digital dan transisi energi.

Seluruh kategori tersebut dinilai sejalan dengan agenda pembangunan nasional berbasis nilai tambah dan penguatan daya saing.

Panitia juga menyeleksi tiga presenter terbaik di setiap kategori sebagai bentuk apresiasi sekaligus dorongan percepatan hilirisasi. Pemberian penghargaan ini diharapkan menjadi insentif moral agar para inventor segera menuntaskan tahapan komersialisasi produknya.

Sementara itu, klaster kedua terdiri atas 41 inventor pelaksana Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Dana Padanan Tahun 2025.

Mereka merupakan penerima hibah kompetitif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan tiga skema, yakni hilirisasi riset berbasis transfer teknologi terintegrasi (sinergi), skema ajakan industri, dan program dana padanan.

Dalam seminar ini, para pelaksana mempresentasikan hasil kegiatan yang telah dijalankan sepanjang tahun lalu.

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc, menegaskan seminar ini bukan sekadar forum ilmiah.

Ia menyebut momentum tersebut sebagai tekad bersama untuk menuntaskan berbagai produk inovasi agar memiliki daya saing tinggi dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

“Hari ini adalah hari yang sangat penting buat Unhas karena kita tandai dengan tekad yang bulat. Walaupun dikemas dalam bentuk seminar inovasi, sebenarnya tekad kita adalah menuntaskan berbagai produk atau kompetensi yang bisa bersaing dan berdaya saing tinggi,” ujar Prof JJ --sapaan akrab rektor Unhas.

Menurut dia, selama ini banyak inovasi berputar di laboratorium tanpa penyelesaian yang jelas menuju tahap komersialisasi.

Kondisi itu membuat potensi nilai tambah dari sumber daya dalam negeri tidak optimal. Padahal, Indonesia memiliki bahan baku melimpah yang dapat diolah melalui inovasi berbasis riset.

Prof Jamaluddin menilai percepatan hilirisasi akan mengurangi ketergantungan pada produk impor berbasis teknologi. Ia menyoroti besarnya devisa yang terserap akibat impor inovasi dari luar negeri, sementara potensi pengembangan produk dalam negeri belum dimaksimalkan.

“Kita ingin terjadi percepatan hilirisasi dan komersialisasi untuk scaling up. Banyak sekali potensi peningkatan nilai tambah yang tidak terjadi. Padahal itu peluang untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa sendiri,” katanya.

Kontribusi untuk Kampus Berdampak

Ia menambahkan, Unhas menargetkan semakin banyak hasil riset masuk ke pasar melalui pengawalan terstruktur. Upaya ini, kata Prof JJ, merupakan bagian dari kontribusi kampus terhadap program kementerian dalam kerangka kampus berdampak.

Selain percepatan internal, Rektor juga menekankan pentingnya sinergi triple helix: pemerintah sebagai regulator, akademisi sebagai penemu dan pengembang riset, serta industri sebagai penggerak ekonomi. Tanpa kolaborasi ketiganya, inovasi berisiko berhenti sebelum dimanfaatkan secara luas.



Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Unhas, Asmi Citra Malina SPi MAgr PhD. (unhas tv/m syaiful)


Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Unhas, Asmi Citra Malina SPi MAgr PhD, menjelaskan seminar ini menjadi ajang presentasi sekaligus pemetaan produk siap hilirisasi.

Menurut dia, proses seleksi telah dilakukan untuk memastikan inventor pada klaster pertama benar-benar memiliki TKT 7 hingga 9.

“Kita sudah melakukan seleksi atau pemetaan sebanyak 64 inventor yang memiliki technology readiness level 7 sampai 9. Intinya sudah siap komersialisasi dan hanya membutuhkan satu sampai dua tahap lagi untuk persiapannya,” ujar Asmi.

Adapun klaster kedua, kata dia, merupakan pelaksana hilirisasi riset prioritas dan program dana padanan yang didanai kementerian pada 2025. Mereka memaparkan hasil pelaksanaan kegiatan sebagai bentuk akuntabilitas sekaligus evaluasi untuk pengembangan lanjutan.

Asmi berharap seminar inovasi ini tidak berhenti pada penyelenggaraan perdana. Ia menyebut kemungkinan pelaksanaan rutin setiap bulan guna meminimalkan “lembah kematian” riset, yakni fase ketika hasil penelitian gagal bertransformasi menjadi produk komersial.

“Harapan Pak Rektor kalau bisa setiap bulan kita membuat seminar berikutnya, karena memang kita butuh meminimalisir lembah kematian dari hasil-hasil riset yang ada,” katanya.

Melalui The 1st Unhas Innovation Seminar 2026, Universitas Hasanuddin menegaskan arah kebijakan riset yang berorientasi pada dampak.

Targetnya jelas, yakni semakin banyak inovasi kampus yang menembus pasar, memperkuat daya saing bangsa, serta memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat.

(Venny Septiani Semuel / M Syaiful / Unhas TV)