Mahasiswa
Pendidikan

Unhas Jadi Gerbang Masuk Beasiswa S2 Industri Baterai, 1000 Mahasiswa Ditargetkan ke Tiongkok

BEASISWA - Sosialisasi beasiswa S2 industri baterai melalui program LPDP-GEM-CSU berlangsung di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Kampus Unhas, Makassar, Rabu (20/5/2026). (Unhas TV/Rahmatia Ardi)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tuan rumah sosialisasi beasiswa S2 industri baterai melalui program LPDP-GEM-CSU, Rabu (20/5/2026).

LPDP-GEM-CSU adalah program beasiswa magister (single degree) hasil kolaborasi antara LPDP, Central South University (Tiongkok), dan GEM Co. Ltd.

Program ini untuk mendukung hilirisasi mineral Indonesia dengan menargetkan 1.000 mahasiswa Indonesia untuk menempuh studi magister, pelatihan bahasa Mandarin, serta magang industri di Tiongkok dan Indonesia.

Sosialisasi berlangsung di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Kampus Unhas, Makassar. Ruangan dipenuhi mahasiswa yang ingin mengetahui peluang masuk ke sektor baterai kendaraan listrik, terutama di tengah percepatan hilirisasi nikel nasional.

Program ini mempertemukan kebutuhan akademik dan industri. Mahasiswa tidak hanya mengikuti perkuliahan S2, tetapi juga mendapat pengalaman langsung di fasilitas industri GEM dan QMB, termasuk lokasi produksi di Morowali, Sulawesi Tengah.

Assistant R&D Engineer GEM-CSU-ITB Laboratory sekaligus awardee LPDP-GEM-CSU Batch 2, Ririn Handayani, mengatakan program tersebut kini telah memasuki angkatan keenam. Menurut dia, skema pembiayaan semakin luas dibandingkan angkatan awal.

“Sekarang di angkatan keenam ini living allowance dan akomodasi sudah full cover. Bahkan bisa sampai dapat Rp 17 jutaan per bulan. Lalu dapat Mandarin class, magang di China, dan magang di Indonesia di site-nya GEM dan QMB,” kata Ririn.

Ririn menjelaskan seleksi program dilakukan melalui LPDP. Calon peserta harus menyiapkan curriculum vitae, study plan, recommendation letter, sertifikat bahasa Inggris, dan ijazah. Ia menilai study plan menjadi bagian paling menentukan.

“Yang paling penting itu study plan. Kalian harus punya alasan kuat kenapa ingin ambil ini untuk Indonesia ke depan. Itu kunci untuk lulus wawancara LPDP,” ujarnya.

Menurut Ririn, program ini penting karena Indonesia memiliki cadangan nikel besar dan sedang membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik. Namun, kebutuhan sumber daya manusia riset dan pengembangan masih menjadi tantangan.

Ia mengatakan peserta akan mendapat pengalaman akademik di kampus dan pengalaman teknis di industri. Dengan pola itu, lulusan diharapkan memahami proses produksi, riset material, hingga kebutuhan teknologi baterai secara langsung.

Bagi Unhas, sosialisasi ini menjadi pintu awal untuk menyiapkan mahasiswa Sulawesi masuk ke industri baterai nasional. Kampus berharap peluang tersebut tidak hanya dimanfaatkan mahasiswa dari Jawa, tetapi juga talenta lokal di kawasan timur Indonesia.

(Rahmatia Ardi / Andrea Ririn Karina / Unhas TV)