MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin merencanakan pembangunan Museum Sejarah Peradaban Islam di lingkungan Pusat Studi Bahasa Arab dan Kajian Timur Tengah, Kampus Tamalanrea.
Fasilitas itu disiapkan bukan hanya sebagai pelengkap kegiatan akademik, melainkan juga sebagai ruang edukasi yang terbuka bagi masyarakat luas.
Rencana tersebut mengemuka setelah peluncuran awal atau soft launching Pusat Studi Bahasa Arab dan Kajian Timur Tengah Unhas, Minggu (16/3/2026).
Kampus negeri itu kini mulai menyiapkan tahapan pengembangan lanjutan, termasuk penguatan fungsi pusat studi sebagai ruang pembelajaran, riset, dan pengenalan sejarah Islam.
Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis Unhas, Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil, mengatakan pusat studi itu sejak awal dirancang sebagai fasilitas yang menopang kegiatan akademik dan pengembangan wawasan keislaman.
Menurut dia, sarana yang tersedia saat ini sudah cukup lengkap untuk mendukung berbagai aktivitas ilmiah.
Adi menjelaskan, pusat studi tersebut memiliki ruang rapat, fasilitas video conference, serta dua ruang kelas yang mampu menampung lebih dari seratus peserta.
Selain itu, tersedia ruang diskusi berbentuk halaqah yang dapat dipakai untuk kajian, diskusi ilmiah, hingga pengembangan penelitian mengenai bahasa Arab dan kawasan Timur Tengah.
Namun, Unhas tidak berhenti pada penyediaan ruang belajar. Kampus itu juga ingin memperluas fungsi pusat studi tersebut menjadi ruang edukasi publik melalui pendirian museum yang memuat perjalanan panjang peradaban Islam.
Museum itu, kata Adi, akan menyajikan informasi sejarah mulai dari masa jahiliah, fase awal perkembangan Islam, hingga penyebarannya ke berbagai kawasan, termasuk Sulawesi.
“Tujuan dari museum ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas, terutama generasi muda, tentang bagaimana sejarah peradaban Islam dari masa awal hingga berkembang ke berbagai wilayah termasuk di Sulawesi,” kata Adi Maulana.
"Harapannya, generasi muda dapat memahami perjalanan tersebut dan semakin mencintai nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam," lanjutnya.
Menurut dia, museum tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang lebih mudah diakses, terutama bagi pelajar dan generasi muda.
Melalui pendekatan itu, sejarah Islam tidak hanya dipahami sebagai materi kajian di ruang kelas, tetapi juga dihadirkan secara visual dan kontekstual agar lebih dekat dengan masyarakat.
Selain rencana pembangunan museum, Pusat Studi Bahasa Arab dan Kajian Timur Tengah juga akan dikembangkan lewat sejumlah program akademik.
Unhas menyiapkan kursus bahasa Arab untuk masyarakat umum, kajian ilmiah bersama para pakar, seminar, hingga kegiatan penulisan riset dan publikasi jurnal.
Melalui pengembangan itu, Universitas Hasanuddin menargetkan pusat studi tersebut tumbuh menjadi pusat keunggulan atau center of excellence dalam kajian bahasa Arab dan Timur Tengah.
Lebih dari itu, kampus berharap fasilitas ini dapat memperkuat pengembangan nilai spiritual dan moral, tidak hanya bagi sivitas akademika, tetapi juga bagi masyarakat yang lebih luas.
(Rahmatia Ardi / Unhas TV)
Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis Unhas, Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil. (dok Unhas TV)








