ARIZONA, UNHAS.TV - Kota San Carlos di negara bagian Arizona dulu dikenal dengan angka bolos kronis yang sangat tinggi di kalangan siswa. Pada tahun ajaran sebelumnya, sekitar 76% siswa di wilayah ini masuk kategori bolos kronis, yaitu ketika seorang siswa absen lebih dari 10% dari total hari belajar di sekolah.
Mayoritas siswa di San Carlos berasal dari komunitas asli suku Apache, yang secara nasional memang memiliki angka ketidakhadiran lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
"Banyak anak-anak di sini merasa nyaman tidak masuk sekolah. Mereka tidak memiliki sesuatu yang dinanti, tidak punya harapan, tidak melihat masa depan yang cerah," ujar seorang pendidik setempat.
Masalah ini bukan hanya terjadi di San Carlos. Data dari kantor berita Associated Press menunjukkan bahwa angka bolos di kalangan siswa suku asli Amerika dan Alaska sekitar 9% lebih tinggi dibandingkan rata-rata di setengah negara bagian AS.
Untuk mengatasi persoalan ini, Distrik Sekolah San Carlos membuka pusat komunitas yang menyediakan berbagai layanan pendukung bagi siswa. Pusat ini bekerja sama dengan tenaga medis dan penyedia bantuan pangan, serta menawarkan dukungan sosial dan emosional.
"Siswa bisa datang ke sini jika mereka butuh tempat berbicara, menghadapi masalah di sekolah, di rumah, atau dalam pergaulan sosial mereka," kata seorang staf pusat komunitas. Selain itu, siswa juga dapat memperoleh kebutuhan dasar seperti produk kebersihan, kaus kaki, dan deodoran.
Sejak pusat komunitas ini mulai beroperasi, angka bolos kronis di San Carlos turun dari 76% menjadi 59%.
"Banyak siswa yang putus sekolah atau sering bolos tidak mendapatkan perhatian atau dukungan yang cukup di rumah. Kehadiran pusat ini sangat penting bagi mereka," tambah seorang pendidik.
Para pengajar di seluruh AS terus mencari cara untuk mengurangi angka bolos sekolah, yang semakin memburuk sejak pandemi. Beberapa pendekatan yang diterapkan mencakup perbaikan sistem absensi agar lebih akurat serta peningkatan komunikasi dengan orang tua.
Masih banyak tantangan dalam menekan angka bolos kronis, terutama di komunitas suku asli. Namun, langkah-langkah seperti yang dilakukan di San Carlos membuktikan bahwa dukungan yang tepat dapat membantu siswa kembali ke sekolah dan meraih masa depan yang lebih baik.