TEHERAN, UNHAS.TV - Majelis Syuro Iran secara resmi mengumumkan penunjukan Ayatollah Seyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran.
Penunjukan ini dilakukan pada Minggu malam (8 Maret 2026) waktu setempat, menyusul kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Pengumuman ini disiarkan melalui media negara Iran seperti IRIB dan Tasnim News Agency, di mana Majelis Syuro —yang terdiri dari 88 ulama senior—menyatakan bahwa keputusan diambil setelah "peninjauan menyeluruh dan musyawarah mendalam" di tengah situasi perang yang sedang berlangsung.
Warga Teheran turun ke jalan di beberapa titik seperti Alun-alun Tajrish dan Alun-alun Valiasr pada Senin pagi (9/3/2026), menyambut pengangkatan Mojtaba dengan sorak-sorai dan bendera Iran. Sejumlah pendukung menyatakan keyakinan bahwa ia akan melanjutkan perjuangan revolusi Islam.
Target Baru AS
Penunjukan Mojtaba dapat dilihat sebagai penanda kuat bahwa faksi garis keras tetap menguasai kekuasaan di Teheran, meski di tengah ancaman militer eksternal.
Penunjukan Mojtaba Khamenei juga menandai transisi kepemimpinan pertama yang bersifat dinasti dalam sejarah Republik Islam Iran, meskipun secara resmi tetap melalui mekanisme Majelis Pakar.
Namun, Israel dan AS telah menyatakan bahwa siapa pun pengganti Khamenei akan menjadi target sah. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang "tidak dapat diterima".
Lebih Keras dan Anti Barat
Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ali Khamenei yang berusia 56 tahun, telah lama dianggap sebagai calon terkuat untuk menggantikan posisi ayahnya.
Mojtaba Khamenei yang lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, dikenal sebagai ulama garis keras dengan pengaruh besar di balik layar. Ia memiliki hubungan erat dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), intelijen, dan jaringan bisnis yang luas.
Meski tidak pernah menjabat posisi pemerintahan secara resmi atau memberikan pidato publik secara luas, Mojtaba diyakini telah memainkan peran kunci dalam pengambilan keputusan keamanan dan politik selama masa ayahnya.
Beberapa analis menyebutnya lebih keras dan anti-Barat dibandingkan ayahnya, yang bisa menandakan kelanjutan kebijakan konfrontatif Iran terhadap AS dan Israel.
Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989 setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, tewas dalam serangan awal AS-Israel yang menargetkan kompleks kepemimpinan di Teheran pada 28 Februari 2026.
Kematiannya menandai krisis terbesar dalam sejarah Republik Islam sejak revolusi 1979, karena terjadi di tengah eskalasi konflik regional yang melibatkan rudal, drone, dan serangan balasan dari Iran.(*)








