Ekonomi

Waspada, Sinyal Resesi Global Semakin Kuat, Ini Tandanya

MAKASSAR, UNHAS.TV - Sejumlah ekonom dan pasar keuangan melihat tanda-tanda potensi resesi global makin nyata seiring konflik yang melibatkan Iran versus Amerika Serikat dan Israel belum juga mereda sejak empat pekan lalu.

Larry Funk, bos perusahaan BlackRock (perusahaan keuangan ternama di Amerika Serikat), menyebutkan, jika harga minyak mentah dunia mencapai USD 150 per barrel, maka seluruh sendi kehidupan di dunia ini akan terdampak.

Ini karena penopang utama perekonomian dunia berada pada sektor energi yang ditopang oleh penggunaan bahan bakar. Ketika harga minyak mentah dunia meninggi, maka seluruh industri yang berkaitan dengan energi akan ikut terdampak. Hasil akhirnya akan lebih parah dibanding krisis energi pada tahun 1970-an ketika Arab Saudi menutup kran ekspor minyaknya ke sejumlah negara,

Saat ini, produksi minyak di kawasan Teluk anjlok, dengan gabungan output dari negara-negara kunci seperti Kuwait, Irak, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab turun setidaknya 6,7–10 juta barel per hari.

Harga minyak mentah jenis Brent melonjak lebih dari 40–50% sejak akhir Februari, diperdagangkan di kisaran USD 100–112 per barel dalam sesi terbaru (dengan lonjakan sementara di atas USD 120).

Adapun minyak mentah jenis West Texas Intermediate berada di dekat USD 98–100. Harga gas alam cair (LNG) naik bahkan lebih tajam, hampir 60%. Para analis menyebut ini sebagai kejutan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak mentah global, melampaui gangguan dari krisis minyak 1970-an atau dampak energi Rusia-Ukraina tahun 2022.

Kawasan Asia termasuk yang paling terkena imbasnya karena kawasan ini yang mengandalkan Selat Hormuz hingga 80% impor minyaknya. Negara-negara seperti Vietnam, Pakistan, dan Indonesia hanya memiliki cadangan yang bertahan kurang dari 20 hari. 

Pemerintah telah menutup sekolah, mendorong kerja dari rumah, dan menerapkan langkah penghematan bahan bakar. India, Thailand, dan Filipina melakukan pemjatahan energi sementara biaya makanan dan transportasi melonjak. 

Pemerintah Indonesia juga sudah menegaskan untuk menerapkan prinsip work from anywhere (WFA) demi mengurangi pergerakan yang membutuhkan bahan bakar minyak.

Adapun Eropa sudah bersiap menghadapi stagflasi. Bank Sentral Eropa menunda pemotongan suku bunga, menaikkan proyeksi inflasi 2026, dan memangkas proyeksi pertumbuhan PDB. 

Ekonomi padat energi seperti Jerman dan Italia berisiko mengalami resesi teknis akhir tahun jika blokade berlanjut. Inflasi Inggris bisa melebihi 5%.

Amerika Serikat, meskipun produksi domestik meredam sebagian dampak langsung, biaya energi yang lebih tinggi memicu inflasi (berpotensi menambah 0,8–1,5% jika berlanjut) dan memperlambat pertumbuhan. 

JPMorgan dan lainnya memperingatkan bahwa konflik ini, ditambah ketegangan perdagangan yang ada serta perekrutan yang lemah, mengancam pemulihan yang baru saja dimulai. 

International Monetary Fund (IMF) mencatat bahwa kenaikan harga energi 10% yang berkelanjutan bisa menambah 0,4 poin persentase pada inflasi dunia dan memangkas pertumbuhan 0,1–0,2%. World Trade Organization (WTO) memperingatkan penurunan 0,3% terhadap PDB global 2026 jika harga tetap tinggi.

Pasar saham bereaksi dengan volatilitas tinggi, mencatat penurunan tajam di sesi perdagangan awal. Biaya asuransi pengiriman melonjak, rantai pasok untuk segala hal mulai dari pupuk hingga barang konsumsi terganggu, dan beberapa negara Asia melaporkan penutupan restoran serta penghentian produksi akibat kekurangan energi.

Ini artinya, perang di Timur Tengah telah memberikan sinyal paling jelas akan badai ekonomi global yang sedang mendekat. Potensi ekonomi rentan menuju jurang resesi pasti akan terjadi jika masalah pasokan energi ini tidak segera teratasi.(*)