Internasional
News
Travel

WEF Davos Hari Ke-4: Ketika Dunia Berbicara Keras, Indonesia Menawarkan Arah




Ketiga, dunia tanpa aturan lama. Pernyataan sejumlah pemimpin Eropa tentang memudarnya tatanan berbasis aturan menegaskan realitas pahit, dunia sedang menegosiasikan ulang norma global.

Ketegangan geopolitik, proteksionisme, dan fragmentasi ekonomi menjadi kata kunci baru dalam relasi antarnegara. Di tengah situasi itu, pendekatan dialogis Indonesia tampak kontras, dan justru relevan.

Indonesia Pavilion, Diplomasi yang Membumi

Hari keempat juga menegaskan fungsi Indonesia Pavilion sebagai wajah diplomasi ekonomi yang membumi. Pavilion dibuka oleh Rosan Roeslani, Menteri Investasi Indonesia sekaligus CEO Danantara, dan menjadi magnet diskusi tentang hilirisasi, transisi energi, serta kepastian kebijakan.

Bukan hanya pertemuan formal yang berlangsung, tetapi juga percakapan kecil yang sering kali lebih menentukan. Pengusaha bertukar kartu nama, diaspora menjembatani ide dan peluang, serta mitra internasional menggali pemahaman tentang arah kebijakan Indonesia.

Di ruang inilah diplomasi tidak hadir sebagai pidato, melainkan sebagai jejaring yang tumbuh secara organik.

Menjelang sore, salju di lereng Alpen turun semakin rapat, angin menggigit, dan suhu kian merendah. Namun di dalam ruang ruang konferensi, pidato para pemimpin dunia dan debat antar delegasi justru terus menghangat, bahkan memanas. Dunia seakan sedang mencari pijakan baru, sambil saling menguji arah dan kekuatan.

Di tengah suhu yang membeku dan percakapan yang membara itu, Davos mengingatkan bahwa masa depan global tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling lantang bersuara, tetapi oleh siapa yang mampu menawarkan arah, membangun kepercayaan, dan menjaga ruang dialog tetap terbuka.

Seperti sebaris lirik dari Micael Jackson yang kembali terasa relevan di pegunungan Alpen hari ini: "heal the world, make it a better place", Indonesia, pada hari keempat ini, memilih hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari upaya merawat harapan di tengah dunia yang kian rapuh.


*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin