Karier
Mahasiswa

Wisuda Juli 2026, Rektor Unhas Minta Wisudawan Tak Berpuas Diri Setelah Menang di Medan Akademik

Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc, Rektor Universitas Hasanuddin. (Dok Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin mewisuda 668 lulusan dari sembilan fakultas pada hari pertama Wisuda Periode Juli 2026 di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Kampus Tamalanrea, Makassar, Jumat (24/7/2026).

Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc meminta para wisudawan tidak menganggap kelulusan sebagai akhir perjalanan, melainkan awal menghadapi tantangan kehidupan yang lebih luas.

Dalam pidatonya, Jamaluddin mengatakan para lulusan memang telah memenangkan satu “pertempuran akademik”.

Mereka berhak merayakan pencapaian itu bersama keluarga. Namun, euforia kelulusan, kata dia, tidak boleh membuat wisudawan berhenti belajar, berkarya, dan menyiapkan diri menghadapi persaingan.

“Hari ini saudara telah memenangkan satu pertempuran akademik. Tapi yang tidak boleh terjadi adalah merasa ini adalah akhir. Ini adalah awal dari perjalanan saudara-saudara,” kata Jamaluddin. 

Ia menggunakan kisah Odysseus dalam The Odyssey sebagai perumpamaan. Setelah menang dalam Perang Troya, Odysseus tidak langsung menikmati ketenangan. Ia masih harus menempuh perjalanan panjang, menghadapi badai, godaan, dan berbagai rintangan sebelum tiba di tujuan.

Menurut Jamaluddin, perjalanan serupa akan dihadapi para lulusan setelah meninggalkan kampus. Sebagian lulusan sarjana akan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister, sementara lulusan magister dapat meneruskan ke program doktor.

Sebagian lainnya akan memasuki dunia kerja, membangun usaha, atau melanjutkan karier yang telah dirintis.

Apa pun jalur yang dipilih, kata dia, para lulusan harus memiliki keberanian, ketangguhan, dan daya tahan. Persaingan global, perubahan teknologi, serta dinamika sosial akan menghadirkan tantangan yang tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, lulusan tidak cukup hanya mengandalkan ijazah.

Jamaluddin meminta wisudawan menjadikan ilmu yang diperoleh di “Kampus Merah” sebagai kompas untuk menentukan arah kehidupan. Mereka juga diminta mengambil kendali atas keputusan sendiri dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

“Jadikanlah ilmu dari Kampus Merah ini sebagai kompas navigasi dan ambil alih kemudi kehidupan saudara,” ujarnya.

“Hadapi setiap badai tantangan dengan kepala tegak, bentangkan layar keberanian, dan jadilah penakluk samudra masa depan,” lanjutnya.

Pesan itu kemudian dikaitkan dengan filosofi pelaut Bugis-Makassar. Menurut Jamaluddin, pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang selalu tenang, melainkan dari ombak besar yang memaksanya belajar membaca arah, menjaga keseimbangan, dan mengambil keputusan cepat.

Ia menilai kesulitan tidak harus selalu dihindari. Tantangan justru dapat membentuk ketangguhan, kedewasaan, dan kemampuan memimpin. Para lulusan, kata dia, harus berani menghadapi perubahan tanpa kehilangan integritas dan tanggung jawab sosial.

Wisuda hari pertama itu menjadi bagian dari rangkaian kelulusan Periode Juli 2026. Di hadapan para lulusan, pimpinan universitas menekankan bahwa gelar akademik membawa tanggung jawab untuk menggunakan pengetahuan secara etis.

Bekal dari kampus diharapkan membantu alumni tetap adaptif tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat ketika menentukan pilihan dalam pendidikan, pekerjaan, maupun pengabdian di tengah perubahan zaman.

Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan dihadiri keluarga para lulusan. Jamaluddin berharap para wisudawan membawa nama baik Unhas ke berbagai bidang pengabdian. Pengetahuan yang diperoleh selama kuliah, menurut dia, harus diterjemahkan menjadi kerja nyata bagi masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pribadi tidak boleh berhenti pada pencapaian karier. Lulusan Unhas diharapkan mampu memberi kontribusi bagi bangsa, menjawab persoalan di lingkungannya, dan tetap menjaga semangat belajar sepanjang hayat.

Bagi Jamaluddin, wisuda bukan pelabuhan terakhir. Ia adalah titik keberangkatan menuju samudra yang lebih luas, tempat para lulusan akan menguji ilmu, keberanian, dan ketangguhan mereka. 

(Venny Septiani Semuel /Unhas TV)