Budaya
Mahasiswa

Wisudawati Unhas Pilih Kebaya, Rayakan Kelulusan Sekaligus Lestarikan Budaya Indonesia

KEBAYA - Sakinah Rasyadah, lulusan bergelar Sarjana Keperawatan mengenakan kebaya di momen wisuda Unhas Periode Juli 2026. (Unhas TV / Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Deretan kebaya berwarna lembut dan cerah tampak memenuhi Baruga Andi Pangerang Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Jumat (24/7/2026).

Wisuda Unhas periode Juli tahun 2026 ini bertepatan dengan peringatan Hari Kebaya Nasional. Sejumlah wisudawati memilih busana tradisional itu bukan sekadar untuk tampil anggun, melainkan juga sebagai pernyataan kebanggaan terhadap budaya Indonesia.

Sejak pagi, para wisudawati datang bersama keluarga dengan beragam model kebaya. Ada yang memilih potongan klasik, ada pula yang mengenakan rancangan modern dengan warna pastel, bordir, dan kain tradisional.

Seusai prosesi, mereka bergantian berfoto di sekitar gedung wisuda. Kebaya menjadi salah satu unsur yang paling menonjol di antara toga hitam dan selempang akademik.

Di antara para wisudawati itu adalah Sakinah Rasyadah, lulusan bergelar Sarjana Keperawatan. Ia sengaja mengenakan kebaya dalam prosesi wisuda karena menilai busana tersebut memiliki makna yang melampaui fungsi pakaian.

“Menurut saya, kebaya bukan cuma pakaian tradisional. Kebaya memiliki simbol tertentu, salah satunya melambangkan keanggunan perempuan,” kata Sakinah di sela acara wisuda.

Bagi Sakinah, kebaya juga memberi rasa percaya diri. Ia mengaku merasa lebih anggun, cantik, dan berbeda ketika mengenakannya.

Pilihan itu menjadi semakin berkesan setelah ia mengetahui bahwa hari wisudanya bertepatan dengan Hari Kebaya Nasional.

Ia mengatakan ada kebanggaan tersendiri karena dapat ikut merayakan peringatan tersebut bersama para wisudawati lain.

Pemandangan kebaya yang mendominasi ruang wisuda, menurut dia, menunjukkan bahwa busana tradisional itu masih memiliki tempat kuat di tengah generasi muda.

Sakinah menilai kebaya kini lazim dikenakan dalam berbagai peristiwa penting, mulai dari wisuda, pernikahan, hingga upacara adat.

Kehadirannya dalam acara-acara tersebut memperlihatkan bahwa kebaya tetap hidup dan terus diwariskan, meskipun bentuk dan modelnya mengalami perubahan mengikuti zaman.

“Banyak anak muda memakai kebaya dalam acara penting. Di wisuda dan pernikahan, misalnya, kebaya tetap menjadi pilihan utama,” ujarnya.

Menurut Sakinah, pelestarian kebaya tidak harus dilakukan dengan mempertahankan model lama secara kaku.

Perancang dan pengguna kebaya justru perlu terus berinovasi agar busana tersebut terasa dekat dengan selera generasi muda.

Model yang lebih modern, unik, dan nyaman dinilai dapat membuat anak muda semakin percaya diri mengenakannya.

Ia berharap kebaya tidak lagi dipandang sebagai pakaian kuno. Perkembangan desain, bahan, dan cara memadukan kebaya dengan busana lain telah membuktikan bahwa kebaya mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas budayanya.

“Generasi muda jangan menganggap kebaya sebagai pakaian kuno. Sekarang modelnya semakin berkembang dan semakin luas digunakan. Kebaya tetap membuat pemakainya terlihat cantik dan anggun,” kata dia.

Momentum ini sekaligus memperlihatkan bahwa kampus dapat menjadi ruang penting bagi perawatan tradisi. Kehadiran kebaya di tengah kegiatan akademik membuat pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni resmi atau kegiatan kesenian.

Tradisi hadir dalam pengalaman personal para lulusan dan terekam dalam momen yang akan mereka kenang bersama keluarga.

Peringatan Hari Kebaya Nasional dalam wisuda Unhas menjadi ruang perjumpaan antara pencapaian akademik dan pelestarian budaya.

Di tengah toga, selempang, dan ijazah, kebaya hadir sebagai penanda bahwa kelulusan tidak hanya dirayakan sebagai keberhasilan pribadi, tetapi juga dapat menjadi kesempatan menegaskan kembali identitas bangsa.

Para wisudawati yang mengenakan kebaya memperlihatkan bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari pilihan sederhana. Busana yang diwariskan lintas generasi itu tetap dapat tampil modern, relevan, dan diterima anak muda.

Di ruang wisuda Unhas, kebaya tak hanya menjadi pelengkap seremoni. Ia menjadi simbol keanggunan, kepercayaan diri, dan keberlanjutan tradisi Indonesia.

Pesan itu mengalir sederhana: budaya bertahan ketika terus dikenakan, ditafsirkan, dan diwariskan oleh generasi muda berikutnya.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)