Lingkungan
Program
Unhas Story

Zakiyyah Zahra, Putri Bumi yang Mengajak Anak Muda Makassar Melawan Sampah Plastik



Mahasiswa Kehutanan - Zakiyyah Zahra sebagai Puteri Bumi Sulsel 2025. (Dok Unhas TV)


Perjalanan Zahra tidak hanya berada di isu lingkungan. Ia juga aktif sebagai model muse dan master of ceremony. Minat itu tumbuh sejak kecil karena keluarganya sering mendorongnya tampil percaya diri di depan umum.

Setelah menyandang gelar Putri Bumi, peluang itu makin terbuka. Ia mendapat tawaran dari perias, penata gaya, dan berbagai acara. Zahra melihatnya sebagai bagian dari pengembangan diri dan personal branding.

Pengalaman sebagai juara dua Putri Remaja Makassar 2025 juga memberi makna lain. Ia mengikuti ajang itu karena peduli pada isu remaja.

Ia menyebut perundungan, pelecehan, rasa tidak percaya diri, dan tekanan sosial sebagai masalah yang sering dialami anak muda. Menurut dia, masa remaja adalah fase pembentukan karakter. Remaja perlu ruang aman untuk tumbuh, berbicara, dan mengembangkan potensi.

Zahra mengaku dirinya introvert dan sempat sulit beradaptasi. Ajang Putri Remaja membantunya keluar dari zona nyaman. Ia bertemu teman-teman yang punya visi serupa. Dari sana, ia menemukan relasi, edukasi, dan dukungan baru. Ia merasa tumbuh dalam lingkungan positif.

Namun dari semua pengalaman itu, Zahra menyebut Putri Bumi Sulawesi Selatan sebagai titik paling berkesan. Ia menjadi pemenang pertama dalam ajang tersebut.

Gelar itu mengubah cara orang mengenalnya. Teman-temannya di kampus bahkan lebih sering memanggilnya Putri Bumi. Melalui gelar itu, ia mendapat ruang sebagai pembicara, juri, dan perwakilan Fakultas Kehutanan dalam sejumlah kegiatan.

Zahra sadar masa jabatan akan berakhir. Tetapi ia tidak ingin berhenti ketika selempang dilepas. Ia ingin tetap menjadi pribadi yang bermanfaat. Ia ingin terus menyuarakan isu kehutanan, lingkungan, dan pariwisata, terutama di Sulawesi Selatan.

Di penghujung wawancara, Zahra menyampaikan pesan untuk Hari Bumi. Ia mengatakan bumi tidak bisa berbicara ketika sakit. Bumi menunjukkan kerusakannya lewat banjir, longsor, panas, dan bencana lain. Karena itu, ia meminta generasi muda mulai bergerak sekarang.

Di tengah percakapan yang ringan, sosok Zahra memperlihatkan wajah baru aktivisme lingkungan di kampus. Ia tidak berdiri hanya dengan poster dan slogan. Ia bergerak lewat kelas, kegiatan lapangan, kompetisi, media sosial, dan panggung publik.

Perannya memang belum besar dalam ukuran kebijakan. Namun ia menunjukkan bagaimana isu lingkungan bisa masuk ke percakapan anak muda tanpa terasa jauh.

Dari hutan pendidikan di Maros sampai persoalan sampah di depan rumah, Zahra menarik isu besar itu ke ruang yang dekat. Di situlah pesan Hari Bumi terasa lebih konkret.

Bumi tidak selalu menunggu pidato panjang. Kadang ia hanya meminta manusia berhenti membakar sampah, mengurangi plastik, dan tidak diam ketika hutan rusak.

Bagi Zahra, menjaga bumi bukan pekerjaan besar yang selalu membutuhkan panggung. Ia bisa dimulai dari rumah, kampus, jalan raya, dan layar ponsel. Dari cara membuang sampah. Dari cara memilih wadah minum. Dari keberanian menegur kebiasaan buruk. Dari kesediaan tidak cuek.

(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)