Lingkungan
Program
Unhas Story

Zakiyyah Zahra, Putri Bumi yang Mengajak Anak Muda Makassar Melawan Sampah Plastik



Mahasiswa Kehutanan - Zakiyyah Zahra sebagai Puteri Bumi Sulsel 2025. (Dok Unhas TV)


Jalan Zahra di kehutanan juga menguji tubuh dan mental. Ia pernah mengikuti kegiatan di hutan pendidikan selama sepekan. Tanpa gawai. Tanpa mandi seperti biasa. Peserta harus menyatu dengan alam dan membawa perlengkapan sendiri.

Pendakian yang berat membuatnya sadar bahwa solidaritas menjadi bekal penting. Tidak semua orang punya daya fisik yang sama. Ketika seorang teman kelelahan atau sakit, kelompok harus menyesuaikan diri.

Dari pengalaman itu, Zahra melihat hutan bukan hanya ruang romantik untuk berfoto. Hutan menuntut kesiapan. Ia menguji fisik, mental, dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, ia mengingatkan calon mahasiswa kehutanan agar tidak hanya menyukai alam, tetapi juga menyiapkan tubuh dan pikiran.

Gelar Putri Bumi Sulawesi Selatan 2025 membuka ruang lain bagi Zahra. Ia mengikuti ajang itu karena merasa isu lingkungan dan pariwisata dekat dengan latar belakangnya.

Dalam masa karantina, ia bertemu 17 finalis dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Ada yang datang dari Palopo, Parepare, Sinjai, Pinrang, dan Bulukumba. Perbedaan logat dan daerah justru membuat mereka cepat akrab.

Ajang itu tidak hanya berisi materi. Peserta menjalani wawancara, tes tertulis, dan aksi lingkungan. Sebelum malam final, mereka mendaur ulang botol plastik menjadi gantungan kunci.

Bagi Zahra, pengalaman itu memberi pesan kuat. Aksi lingkungan tidak perlu menunggu selempang atau mahkota. Pelajar, mahasiswa, dan warga biasa dapat memulai dari hal kecil.

Isu yang paling dekat dengan Zahra adalah sampah. Ia melihat masalah itu setiap hari di Makassar. Sampah menumpuk. Sebagian warga masih membakar sampah di pinggir jalan.

Asapnya mengganggu tetangga dan pengendara. Menurut Zahra, masalah sampah bukan hanya soal jumlah, tetapi juga cara mengelola.

Ia menilai edukasi publik menjadi kunci. Warga perlu memahami cara memilah, mengurangi, dan mengolah sampah. Sampah plastik menjadi perhatian khusus.

Zahra mengajak anak muda membawa tumbler, mengurangi botol plastik sekali pakai, dan membawa wadah sendiri saat membeli makanan. Ia mengaitkan kebiasaan itu dengan kesehatan, penghematan, dan lingkungan.

Zahra juga menyoroti kebiasaan menggunakan wadah plastik untuk makanan atau minuman panas. Ia menyebut risiko zat berbahaya ketika plastik terpapar panas.

Pernyataan itu ia sampaikan sebagai bentuk peringatan agar masyarakat lebih berhati-hati. Pesan utamanya sederhana: gaya hidup harian punya akibat lingkungan dan kesehatan.

Di mata Zahra, tantangan terbesar menjaga bumi bukan alam, melainkan manusia. Ia melihat sebagian orang merasa urusan lingkungan bisa diserahkan kepada duta, komunitas, atau kelompok tertentu.

Ada yang berpikir, jika sudah ada pegiat lingkungan yang membersihkan sungai, mengapa ia harus ikut bergerak. Pola pikir itu, menurut Zahra, harus diubah.

Ia percaya keluarga memegang peran penting. Anak meniru kebiasaan orang tua. Jika orang tua membuang sampah sembarangan, anak akan menganggapnya wajar.

Jika keluarga membiasakan memilah sampah, membawa tumbler, dan menjaga ruang bersama, kebiasaan itu bisa menular. Bagi Zahra, pendidikan lingkungan perlu dimulai dari rumah.

Aktif sebagai Model Muse dan MC

>> Baca Selanjutnya