Lingkungan
Program
Unhas Speak Up

Tanggapi Ramainya Fenomena El Nino Godzilla, Dosen Unhas: Belum Bisa Dipastikan Secara Ilmiah!

Pakar hidrometeorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unhas Prof Dr Halmar Halide MSc (tengah) dan Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil SSi MT saat hadir dalam siniar Unhas Speak Up terkait fenomena El Nino yang melanda Indonesia. (Unhas TV/Salman)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Televisi komunitas Unhas TV melalui segmen Unhas Speak Up mengangkat tema “El Nino ‘Godzilla’ 2026 Mengintai, Dampak dan Mitigasi di Sulsel” yang digelar di Studio Unhas TV pada Jumat (1/5/2026). 

Diskusi ini menghadirkan pakar hidrometeorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Halmar Halide MSc. Dalam siniar tersebut, turut hadir pula Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil SSi MT.

Dalam pemaparannya, Prof Halmar menjelaskan, fenomena El Nino merupakan hasil interaksi kompleks antara laut dan atmosfer. Ia mengutip pandangan ilmuwan George Philander untuk memperjelas konsep tersebut.

“Fenomena ini adalah interaksi ocean dan atmosfer. Istilahnya it takes two to tango. Kalau hanya atmosfer saja atau samudera saja, tidak mungkin jadi El Nino,” jelasnya.

Ia menerangkan, mekanisme El Nino dipicu oleh perubahan pola angin di Samudera Pasifik yang mengangkat suhu bawah permukaan laut, kemudian melemahkan angin pasat.

Kondisi ini menyebabkan pergeseran awan hujan ke Pasifik tengah, sehingga Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau lebih kering.

Terkait istilah “El Nino Godzilla” yang ramai diperbincangkan, Prof Halmar menegaskan bahwa hal tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah. Berdasarkan hasil pemodelan yang ia kembangkan, fenomena El Nino 2026 cenderung berada pada kategori moderat.

“Kalau dia ikut pola 1997, kita bisa masuk ke Super El Nino. Tapi dari kurva prediksi, itu tidak sampai 2,0 derajat, sekitar 1,6 sudah mulai turun. Jadi masih prediksi dan belum tentu Godzilla,” ungkapnya.

Pemodelan tersebut menggabungkan data observasi awal tahun dengan prediksi musiman dari International Research Institute for Climate and Society. Namun, ia menekankan bahwa ketidakpastian tetap menjadi bagian dari analisis iklim.

Lebih lanjut, Prof. Halmar menekankan pentingnya membaca berbagai model secara komprehensif dalam menentukan langkah mitigasi. “Kita tidak boleh memilih salah satu model saja. Kalau dua-duanya menunjukkan probabilitas tinggi, maka mitigasi harus diperkuat,” tegasnya.

Dalam menghadapi potensi dampak El Nino, ia membagi strategi mitigasi ke dalam beberapa level. Pada tingkat individu, masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air dan menyesuaikan aktivitas harian.

“Kalau misalnya mandi tiga kali sehari, ya dikurangilah. Gunakan air secara bijak,” ujarnya.

Pada level komunitas, ia menekankan pentingnya berbagi sumber daya air dan koordinasi sektor pertanian, termasuk pemilihan komoditas yang tahan kekeringan.

Sementara pada level pemerintah, optimalisasi infrastruktur seperti bendungan dan sistem pengelolaan air menjadi langkah strategis.

Selain itu, Prof Halmar juga menyoroti pentingnya data observasi lokal sebagai dasar pengambilan kebijakan. Ia menyebut peran Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sangat krusial dalam menyediakan data iklim yang akurat.

“Data dari BMKG itu yang harus kita gunakan dan kalibrasi dengan model global. Dari situ baru diterjemahkan menjadi risiko dan kebijakan,” jelasnya.

Ia menutup dengan mengingatkan bahwa masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. “Tidak usah panik atau berlebihan, tapi kita harus siap. Ini fenomena global yang dampaknya bisa ke mana-mana,” pungkasnya.

(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)