Sulsel

102 KK di Dusun Labole Pegunungan Bulusaraung, 32 Tahun Hidup Tanpa Listrik

Citra satelit Google Maps wilayah Desa Pallawa, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone. (Screenshot Google Maps)

BONE, UNHAS.TV - Saat banyak daerah mulai berbicara tentang internet, desa digital, dan hilirisasi ekonomi, tidak demikian dengan 102 kepala keluarga (KK) di Dusun Labole, Desa Pallawa, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Mereka masih hidup tanpa listrik, jaringan internet, dan sinyal telepon seluler. Warga dusun di kawasan Pegunungan Bulusaraung itu telah terisolasi selama puluhan tahun akibat akses jalan yang rusak dan sulit dilalui.

Dusun Labole merupakan salah satu dari dua dusun di Desa Pallawa. Letaknya berada di puncak pegunungan dan terpisah jauh dari pusat desa.

Untuk mencapainya dari ibu kota Kabupaten Bone, Watampone, warga harus menempuh perjalanan sekitar 122 kilometer selama tiga jam. Jalur menuju dusun ini berliku, menanjak, berbatu, dan menjadi satu-satunya penghubung warga dengan dunia luar.

Akses utama ke Labole dikenal sebagai Jalan Inspeksi Bendung Irigasi Jepang Cabang Langkeme. Jalan ini terakhir kali diperbaiki pemerintah pada 1994. Sejak itu, selama 32 tahun, kondisi jalan terus memburuk dan menjadi penghalang utama masuknya layanan dasar.

Kepala Desa Pallawa, Makmur, mengatakan Dusun Labole masih membutuhkan perhatian serius, terutama dalam penyediaan listrik dan perbaikan jalan.

“Dusun 2 Labole ini berada di daerah pegunungan. Di sana masih banyak yang membutuhkan perhatian. Kendalanya tidak memiliki lampu dan jumlah KK di sana mencapai 102,” kata Makmur, AP Kom SH pada 24 Juni 2026.

Kerusakan jalan memicu dampak berantai. Kendaraan roda empat dan truk tidak dapat masuk ke dusun tersebut.



Pintu gerbang Desa Pallawa di Bone. Desa ini memiliki potensi SDA yang melimpah, tapi akses jalan yang buruk. (Dok Unhas TV)


Akibatnya, tiang listrik, trafo, dan kabel PLN belum pernah menjangkau permukiman warga. Hingga kini, akses listrik PLN di Labole masih nihil. Begitu pula akses internet dan jaringan telepon seluler.

Dampak keterisolasian paling terasa pada sektor pendidikan. Anak-anak Labole belajar di SD Inpres 581, yang baru selesai dibangun pada 2023. Gedung sekolah itu kini berdiri permanen dan layak.

Namun proses pembangunannya memperlihatkan ironi. Bahan bangunan seperti semen, pasir, dan bata merah harus dipikul secara manual oleh warga karena mobil tidak bisa menjangkau lokasi.

“Di sana dibangun hanya menggunakan tenaga manusia. Tidak bisa diakses roda empat. Semua bahan-bahan yang dipakai di sana hanya menggunakan tenaga manusia,” ujar Makmur.

Padahal Desa Pallawa memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Kopi, kakao, jagung, gula aren, hingga buah naga tumbuh di kawasan pegunungan ini.

Hasilnya dinilai cukup untuk memenuhi pasar besar. Namun potensi ekonomi itu tertahan karena mobilitas warga dan hasil pertanian dibatasi oleh kondisi jalan.

Kesenjangan itu semakin terasa ketika program desa digital terus digaungkan di berbagai daerah. Di pusat Desa Pallawa, pemerintah desa telah membangun Perpustakaan Tomacca. Namun anak-anak Labole sulit mengaksesnya karena jarak dan jalan yang tidak memadai.

Warga Labole bukan tanpa daya. Mereka tetap bekerja, bertani, dan bahkan ikut membangun sekolah untuk anak-anaknya.

Namun tanpa jalan layak, listrik, dan jaringan komunikasi, dusun ini masih tertinggal jauh dari layanan dasar yang semestinya mereka terima.

(Rahmatia Ardi / Amina Rahma Ahmad / Unhas TV)