
EXPO PBL - Sebanyak 291 mahasiswa FKM Unhas memamerkan temuan kesehatan masyarakat dalam Expo PBL I di Pelataran FKM Unhas, Makassar, Kamis (20/8/2026). Mereka menyajikan hasil identifikasi masalah berdasarkan pengumpulan data lapangan. (Dok FKM Unhas)
Expo PBL I sekaligus menjadi ruang evaluasi atas kemampuan mahasiswa menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah ketika berhadapan dengan kondisi nyata di masyarakat.
Ansariadi mendorong mahasiswa mempertahankan dan mengembangkan pengalaman yang diperoleh selama PBL I. Ia berharap pembelajaran pada tahap pertama menjadi modal untuk menghadapi tahapan berikutnya hingga PBL III.
“Saya berharap adik-adik menyiapkan lagi untuk tahap selanjutnya sampai PBL III. Saya berharap adik-adik melakukan yang lebih bagus dari yang sebelumnya,” tuturnya.
Karena itu, Expo tidak semata menjadi arena untuk mencari stan terbaik. Kegiatan tersebut memperlihatkan proses yang menghubungkan data, masalah, analisis, dan rencana intervensi.
Mahasiswa belajar melihat persoalan kesehatan masyarakat bukan hanya sebagai angka atau temuan, tetapi sebagai kondisi yang membutuhkan pemahaman terhadap konteks masyarakat.
Antusiasme mahasiswa terlihat dari beragam konsep penyajian pada 42 stan. Kreativitas digunakan untuk menyampaikan informasi sekaligus menarik perhatian pengunjung. Pada akhir kegiatan, panitia mengumumkan tiga stan terbaik sebagai bentuk apresiasi atas hasil kerja mahasiswa.
Penghargaan itu menjadi penutup rangkaian Expo PBL I yang menempatkan kreativitas dan komunikasi sebagai bagian dari proses belajar.
Kerja sama antarmahasiswa, kemampuan mengolah temuan, serta keberanian menyampaikan hasil kepada publik menjadi pengalaman yang tidak diperoleh hanya melalui pembelajaran di dalam kelas.
Pelaksanaan Expo PBL I juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, Tujuan 4 mengenai pendidikan berkualitas, dan Tujuan 17 tentang kemitraan.
Proses identifikasi masalah kesehatan, pembelajaran berbasis pengalaman, serta kolaborasi mahasiswa dengan masyarakat, supervisor, dan unsur akademik menjadi bagian dari keterkaitan tersebut.
Kegiatan ini juga disebut sejalan dengan Asta Cita ke-4 melalui penguatan sumber daya manusia. PBL I memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan analisis, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah berdasarkan persoalan yang mereka temui sendiri.
Dekan FKM Unhas menegaskan, pengalaman di lapangan itu menjadi pengingat bahwa pembelajaran kesehatan masyarakat tidak berhenti di ruang kelas.
"Data yang dikumpulkan mahasiswa dari lapangan merupakan awal dari proses memahami persoalan, menentukan prioritas, dan mempersiapkan intervensi," tegasnya.
Dari 42 posko dan ratusan temuan yang dipamerkan, pembelajaran PBL I diarahkan menuju satu tujuan yakni menghasilkan pengetahuan yang kelak dapat memberi dampak bagi masyarakat. (*)

-300x225.webp)






