Nasional

Agussalim Burhanuddin Angkat Isu Strategis ALKI II dalam Southeast Asia–Japan Security Dialogue 2026

Agussalim Burhanuddin, dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin sekaligus peneliti CPCD Unhas, memaparkan presentasi bertajuk “Securing Indonesia’s ALKI II as a Strategic Sea Corridor for Resilient Supply Chains” dalam sesi Panel Discussion 1 Southeast Asia–Japan Security Dialogue 2026 yang membahas penguatan keamanan maritim dan ketahanan rantai pasok Indo-Pasifik, di Jakarta, 9–11 Februari 2026. Agussalim Burhanuddin, dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin sekaligus peneliti CPCD Unhas, memaparkan presentasi bertajuk “Securing Indonesia’s ALKI II as a Strategic Sea Corridor for Resilient Supply Chains” dalam sesi Panel Discussion 1 Southeast Asia–Japan Security Dialogue 2026 yang membahas penguatan keamanan maritim dan ketahanan rantai pasok Indo-Pasifik, di Jakarta, 9–11 Februari 2026.

JAKARTA, UNHAS.TV- Center for Peace, Conflict & Democracy (CPCD) Universitas Hasanuddin kembali menegaskan kiprah internasionalnya melalui partisipasi dalam Southeast Asia–Japan Security Dialogue 2026 bertema “Connecting the Seas, Engaging Partners” yang diselenggarakan oleh Centre for International Relations Studies (CIReS) Universitas Indonesia bekerja sama dengan Sasakawa Peace Foundation Jepang dan mempertemukan analis keamanan, akademisi, praktisi kebijakan, serta perwakilan militer dari Indonesia, Jepang, Filipina, Singapura, dan Vietnam, di Jakarta, 9–11 Februari 2026.

Forum strategis ini berlangsung dalam konteks meningkatnya dinamika geopolitik Indo-Pasifik, termasuk eskalasi ketegangan Laut Cina Selatan dan kompetisi kekuatan besar yang berdampak langsung pada stabilitas jalur perdagangan global bernilai triliunan dolar setiap tahunnya.

Agussalim Burhanuddin, dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin sekaligus peneliti CPCD Unhas, diundang sebagai pembicara tamu dalam forum tersebut, yang menjadi pengakuan atas kontribusi akademisi Unhas dalam pengembangan wacana keamanan regional dan diplomasi strategis berbasis riset.

Kegiatan yang diikuti sekitar 20–30 peserta dari kalangan peneliti, analis keamanan, akademisi, perwira militer, dan praktisi kebijakan ini membahas isu keamanan maritim, ketahanan rantai pasok global, transformasi teknologi pertahanan, keamanan siber, serta diplomasi pertahanan dan pembangunan kepercayaan antarnegara.

Diskusi diarahkan tidak hanya untuk memperluas pertukaran gagasan, tetapi juga untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi stabilitas Asia Tenggara dan Asia Timur sebagai simpul utama arsitektur keamanan Indo-Pasifik.

Agussalim tampil sebagai panelis pada sesi Panel Discussion 1 bertema Maritime Security and Economic Prosperity: Safeguarding Supply Chains in a Connected World bersama Navy Capt. Keitaro Ushirogata dari Japan Maritime Self-Defense Force Command and Staff College, Hoang Do dari Diplomatic Academy of Vietnam, serta Air Chief Marshal (Purn.) Chappy Hakim dari Indonesian Air Power Studies Center.

Panel tersebut menyoroti pentingnya keamanan maritim sebagai fondasi stabilitas ekonomi kawasan mengingat lebih dari 60 persen perdagangan global melintasi Indo-Pasifik dan sebagian besar bergantung pada keamanan jalur laut Asia Tenggara.

Dalam presentasinya berjudul Securing Indonesia's ALKI II as a Strategic Sea Corridor for Resilient Supply Chains, Agussalim menekankan posisi strategis Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sebagai jalur vital distribusi energi, logistik, dan komoditas internasional.

Ia menjelaskan bahwa penguatan keamanan ALKI II membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, komunitas pesisir, lembaga riset, serta diplomasi regional berbasis transparansi dan kerja sama.

Agussalim juga menggarisbawahi pentingnya integrasi perspektif keamanan manusia dan stabilitas sosial dalam kebijakan maritim, karena ketahanan rantai pasok tidak hanya ditentukan oleh keamanan fisik laut, tetapi juga oleh kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Partisipasi ini menjadi bagian dari kontribusi CPCD Universitas Hasanuddin dalam memperkuat dialog keamanan dan pembangunan perdamaian berbasis riset kebijakan, sekaligus memperluas jejaring akademik internasional di kawasan Asia Tenggara dan Jepang.

Keterlibatan tersebut mempertegas posisi Universitas Hasanuddin sebagai pusat kajian perdamaian dan kebijakan publik yang aktif dalam diskursus global mengenai stabilitas dan kerja sama Indo-Pasifik.

Melalui diplomasi akademik yang berkelanjutan, CPCD Unhas menegaskan komitmennya untuk terus berperan dalam pengembangan riset kebijakan strategis dan mendukung stabilitas keamanan maritim demi kemajuan Asia Tenggara dan dunia.(*)