SIDRAP, UNHAS.TV - Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang, menjadi ruang belajar bersama ketika mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi Daerah Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas).
Mereka melaksanakan tiga program kerja individu yang berfokus pada pengelolaan limbah, ketahanan pangan rumah tangga, dan kesadaran lingkungan secara berkelanjutan pada Jumat (16/1/2026).
Ketiga program ini lahir dari hasil observasi langsung mahasiswa terhadap persoalan lingkungan dan potensi lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, mulai dari limbah sekam padi, pekarangan rumah warga, hingga sampah organik rumah tangga.

Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin bersama warga mempraktikkan pengolahan sekam padi menjadi briket sebagai upaya mengurangi limbah pertanian sekaligus menghadirkan sumber energi alternatif bernilai ekonomis di Kelurahan Amparita.
Sekam Padi Disulap Jadi Briket Bernilai Ekonomi
Tumpukan sekam padi yang kerap terlihat di pinggir jalan, sekitar jembatan, dan lahan kosong di Amparita menjadi titik awal program pengelolaan limbah pertanian yang digagas Nurliana Jusman, mahasiswa Departemen Teknik Industri.
Melalui sosialisasi yang dilanjutkan dengan praktik langsung, warga diperkenalkan pada dampak lingkungan dari limbah sekam padi sekaligus diajak mengolahnya menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif yang memiliki nilai ekonomis.
Proses pembuatan briket dilakukan secara partisipatif, mulai dari pencampuran bahan kering dan basah hingga pencetakan, sehingga warga tidak hanya memahami konsep, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan.

Kebersamaan mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin dan warga Kelurahan Amparita usai sosialisasi pemanfaatan sekam padi, sebagai langkah kolektif mengubah limbah pertanian menjadi sumber energi alternatif dan solusi lingkungan berkelanjutan.
Antusiasme masyarakat terlihat dari diskusi yang hidup dan keikutsertaan warga dalam mencoba proses produksi, sementara tokoh masyarakat setempat menilai program ini mudah diterapkan karena bahan bakunya melimpah dan biaya pembuatannya relatif terjangkau.
Pekarangan Rumah Jadi Apotek Hidup Berbasis Arang Sekam
Di pekarangan rumah warga, pendekatan berbeda dilakukan melalui program budidaya tanaman obat dengan media tanam arang sekam yang diinisiasi Nurhalizah, mahasiswa Kehutanan Unhas.
Program ini mendorong pemanfaatan pekarangan rumah secara produktif melalui praktik penanaman langsung bersama masyarakat, dengan jenis tanaman obat seperti sereh, lengkuas, tamulawak, dan bangle yang dikenal memiliki manfaat kesehatan sekaligus kegunaan sebagai bumbu dapur.

Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin bersama warga memanfaatkan pekarangan rumah sebagai apotek hidup dengan menanam tanaman obat menggunakan media arang sekam, menghadirkan solusi sehat, hijau, dan berkelanjutan dari limbah pertanian.
Keterlibatan warga menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini, terutama mereka yang secara sukarela menyediakan pekarangan rumahnya sebagai lokasi penanaman, sehingga proses belajar berlangsung dalam suasana gotong royong.
Salah seorang warga, Ibu Nani, menyebut program ini tidak hanya menghijaukan lingkungan, tetapi juga membantu kebutuhan kesehatan keluarga dan dapur rumah tangga, sementara manfaat jangka panjangnya diharapkan mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga.
Sampah Organik Diolah Jadi Kompos Ramah Lingkungan
Kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga diperkuat melalui program pembuatan kompos yang digagas Utirah Mutie, mahasiswa Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian.

Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin bersama warga mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos ramah lingkungan, sebagai langkah sederhana namun berdampak nyata dalam menjaga kebersihan dan kesuburan lingkungan Kelurahan Amparita.
Melalui sosialisasi dan praktik langsung, warga diajak memanfaatkan sisa dapur, daun kering, dan sekam padi yang selama ini dibuang begitu saja, untuk diolah menjadi kompos sebagai pupuk organik.
Lurah Amparita, Jumawati Genawi, S.Sos., M.Si., menilai program ini menjawab kebutuhan nyata masyarakat, mengingat limbah organik di wilayah tersebut masih jarang dikelola secara tepat meski memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali.
Selama kegiatan berlangsung, warga tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memahami manfaat kompos dalam meningkatkan kesuburan tanaman pekarangan dan menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Ketiga program ini mendapat apresiasi dari Dosen Pendamping Kegiatan (DPK) KKN-T Unhas Gelombang 115, Ilham Syarif, S.Pt., M.Si., yang menilai pendekatan berbasis praktik langsung bersama masyarakat sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab persoalan lingkungan di tingkat lokal.(*)
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T Unhas berharap masyarakat Kelurahan Amparita dapat melanjutkan praktik pengelolaan limbah, pemanfaatan pekarangan, dan produksi kompos secara mandiri, sehingga lingkungan tidak hanya menjadi lebih bersih dan sehat, tetapi juga memberi nilai guna dan kesejahteraan berkelanjutan bagi warga.(*)
Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin Gelombang 115 bersama warga Kelurahan Amparita menunjukkan kolaborasi nyata dalam mengolah limbah sekam padi, memanfaatkan pekarangan sebagai apotek hidup, dan mengubah sampah organik menjadi kompos sebagai upaya mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.








