Oleh: Yusran Darmawan*
"Everything I know most surely about morality and the obligations of men, I owe to football."
Demikian Albert Camus pernah menulis. Segala sesuatu yang paling pasti ia ketahui tentang moralitas dan kewajiban manusia, ia pelajari dari sepak bola.
Barangkali Camus benar. Sebab sepak bola tidak selalu mengajarkan bagaimana menjadi pemenang. Kadang ia justru mengajarkan bagaimana kalah dengan terhormat.
Itulah yang dilakukan Cape Verde saat berhadapan dengan Argentina.
Papan skor memang menunjukkan mereka tersingkir. Namun ketika peluit panjang berbunyi, yang berjalan keluar lapangan bukanlah sebuah tim yang dikalahkan. Mereka keluar dengan kepala tegak, membawa sesuatu yang tidak bisa dihitung oleh angka: kehormatan.
Di tengah lapangan, seorang pria berusia 40 tahun tak mampu lagi membendung air matanya. Vozinha berdiri menghadap tribun pendukung Cape Verde, bertepuk tangan sambil menangis.
Bukan karena menyesali kekalahan. Ia menangis karena menyadari bahwa mimpi yang ia kejar selama puluhan tahun akhirnya benar-benar sempat ia hidupi. Tak ada yang bisa mengambil malam itu darinya. Ia telah mempersembahkan simfoni permainan paling mengerikan yang dihadapi Argentina, sang juara bertahan.
Empat puluh tahun. Baru pertama kali tampil di Piala Dunia. Setelah turnamen usai, ia akan kembali ke klub kecil Divisi Dua Portugal. Barangkali pekan depan ia kembali bermain di stadion yang hanya dipenuhi ratusan penonton. Hidupnya akan kembali sederhana. Namun selama beberapa pekan, ia berdiri di panggung terbesar sepak bola dan membuat dunia menyebut namanya.
Cape Verde sendiri hanyalah negara kepulauan kecil di Samudra Atlantik dengan populasi sekitar 600 ribu jiwa. Jumlah penduduknya bahkan lebih sedikit daripada banyak kota kecil di berbagai negara. Negeri yang selama ini lebih dikenal karena laut birunya daripada kekuatan sepak bolanya.
Tak ada yang menjagokan mereka.
Di grup yang dihuni juara dunia dan negara-negara besar, Cape Verde justru memilih menolak tunduk. Mereka menahan imbang Uruguay. Mereka membuat Spanyol frustrasi tanpa mampu mencetak gol. Lalu mereka memaksa Argentina bertarung hingga perpanjangan waktu. Setiap lawan dipaksa bekerja keras. Tak ada kemenangan yang diberikan secara cuma-cuma.
Negara kecil itu datang sebagai peserta pelengkap. Mereka pulang sebagai cerita.
David Beckham menyebut inilah sisi paling kejam sekaligus paling indah dari sepak bola. Cape Verde memang tersingkir, tetapi mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan: rasa hormat dari seluruh dunia.
Mereka memaksa juara bertahan mengerahkan seluruh kemampuan, mengubah keraguan menjadi kekaguman, dan mengumumkan kepada dunia bahwa mereka pantas berdiri di panggung terbesar.

Didier Drogba bahkan mengaku hampir tak pernah melihat sebuah tim menghadapi Argentina tanpa rasa takut seperti Cape Verde. Setiap kali Argentina mencetak gol, Cape Verde membalas.
Mereka bermain bukan sebagai tim yang menerima takdir untuk kalah, melainkan sebagai bangsa yang percaya bahwa nama besar lawan tidak pernah menentukan hasil pertandingan.
Penghormatan juga datang dari kubu Argentina. Lionel Scaloni mengakui setiap penyelamatan Vozinha seperti membuat pertandingan dimulai kembali dari awal. Setiap kali Argentina merasa telah menemukan jalan menuju gol, kiper itu kembali muncul dengan penyelamatan yang luar biasa. Menurut Scaloni, inilah malam istimewa yang kadang hanya dimiliki seorang penjaga gawang besar.
Bek Lisandro Martínez bahkan mengakui Cape Verde membuat Argentina menderita sepanjang pertandingan. Menurutnya, mereka layak memperoleh penghormatan yang jauh lebih besar. Dalam banyak fase pertandingan, justru Cape Verde tampil lebih baik.
Namun kisah ini sesungguhnya bukan hanya tentang penyelamatan-penyelamatan Vozinha. Ini adalah kisah tentang seseorang yang bekerja begitu lama hingga dunia mengira ia sukses dalam semalam.
Sebelum Piala Dunia dimulai, hampir tak seorang pun mengenalnya di luar Cape Verde. Pengikut media sosialnya hanya puluhan ribu. Tiga pekan kemudian, setelah menahan Spanyol, mengimbangi Uruguay, dan berkali-kali menggagalkan peluang Lionel Messi, jutaan orang mulai mengikuti kisah hidupnya.
Ada satu kalimat yang sangat tepat menggambarkan perjalanan hidupnya: He worked his entire life to become an overnight success. Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk menjadi "sukses dalam semalam."
Dan kemudian tibalah momen yang paling indah.
Setelah peluit panjang berbunyi, Lionel Messi tidak langsung larut dalam perayaan bersama rekan-rekannya. Ia justru berjalan menuju para pemain Cape Verde. Satu per satu mereka disalami. Dipeluk. Dihibur.
Pelukan Messi kepada Vozinha menjadi gambar yang mungkin akan dikenang lebih lama daripada gol-gol malam itu. Di sana berdiri dua lelaki yang dipisahkan oleh nasib, tetapi dipersatukan oleh waktu.
Messi, 39 tahun, menjalani Piala Dunia keenamnya. Salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah yang telah menjadikan panggung itu seperti rumah sendiri. Di hadapannya berdiri Vozinha, 40 tahun, yang baru memainkan Piala Dunia pertamanya, dan mungkin yang terakhir.
Bagi Messi, Piala Dunia adalah perjalanan panjang yang berulang. Bagi Vozinha, ia adalah mimpi yang baru sempat disentuh ketika usia hampir menutup pintu.
Mungkin karena itulah Messi memahami semuanya tanpa perlu banyak kata. Ia tahu bahwa tidak semua orang diberi kesempatan kedua. Tidak semua pemain akan kembali empat tahun lagi.
Kadang-kadang, penghormatan terbesar dalam sepak bola bukanlah mengangkat trofi. Kadang-kadang, penghormatan terbesar adalah membuat sang juara datang menghampiri Anda terlebih dahulu.
Messi melangkah ke babak berikutnya. Vozinha kembali ke klub kecilnya di Portugal. Argentina membawa tiket perempat final. Cape Verde membawa sesuatu yang jauh lebih abadi: rasa hormat dunia.

Barangkali benar, Piala Dunia akan mencatat Argentina sebagai pemenang. Tetapi ingatan manusia bekerja dengan cara yang berbeda. Ia sering lupa skor, tetapi hampir tidak pernah lupa pada keberanian.
Di Cape Verde ada satu kata yang sulit diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain: Morabeza. Ia berarti keramahan, kebesaran hati, kehangatan, dan kemampuan menjaga martabat, bahkan ketika hidup tidak berpihak kepada kita.
Malam itu, Cape Verde memang kalah. Tetapi mereka memperlihatkan kepada dunia bahwa kemenangan bukan satu-satunya cara untuk menjadi besar. Mereka pulang membawa Morabeza.
Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan knowledge strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.
undefined








