Mahasiswa

Alumni dan Aktivis Dorong Hadirnya BEM Unhas, Prof Ruslin: 11 BEM Fakultas Rutin Bertemu

MAKASSAR, UNHAS.TV - Suasana di Kopi Aspirasi yang beralamat di Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar, Sabtu (23/08/2025) malam, terasa lebih padat dari biasanya. 

Puluhan alumni dan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) berkumpul dalam forum diskusi bertajuk Quo Vadis BEM Unhas. Hadir pula jajaran pejabat kemahasiswaan Unhas.

Pertanyaan yang mengemuka sederhana tapi krusial: apakah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unhas masih relevan di tengah situasi transisi kelembagaan saat ini?

Diskusi ini diinisiasi Ikatan Alumni (IKA) Unhas Kota Makassar. “Kegiatan ini kami buat sebagai pemantik untuk teman-teman yang masih aktif mengurus BEM Unhas. Pertanyaannya, apakah BEM masih dibutuhkan atau tidak,” kata Faizal, Sekretaris IKA Unhas Kota Makassar, dalam pembukaan.

Menurut dia, BEM semestinya hadir sebagai “motor gerakan” mahasiswa. Tanpa lembaga itu, ekspresi mahasiswa hanya berhenti di tingkat fakultas yang ruang geraknya terbatas.

Forum menghadirkan sejumlah tokoh lintas generasi: Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof drg Muhammad Ruslin MKes PhD SpBM-K, akademisi sekaligus aktivis era 1980-an Prof Dr drg Arsunan Arsin MKes (mantan WR 3 Unhas), serta mantan Wakil Ketua Senat Mahasiswa Unhas era 1990-an Ni’ Matullah Erbe.

Prof. Ruslin menilai gagasan menghidupkan kembali BEM Unhas sebagai langkah positif. Ia menyebut sudah ada sebelas BEM fakultas yang rutin bertemu dan merumuskan konsep kelembagaan bersama. 

“Sangat jelas, harus ada perwakilan mahasiswa, dan lembaga itu memang harus terbentuk,” ujar Guru besar Fakultas Kedokteran Gigi Unhas ini.



Diskusi Bertajuk Quo Vadis BEM Unhas di Kopi Aspirasi, Jl Andi Pangerang Pettarani, Makassar, Sabtu (23/08/2025) malam. Puluhan alumni dan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) berkumpul dalam forum diskusi pembentukan kembali BEM universitas. (dok unhas.tv)


Menurutnya, keberadaan BEM universitas juga sejalan dengan kurikulum kelembagaan mahasiswa, termasuk bagi mereka yang diterima melalui jalur khusus seperti ketua OSIS.

Diskusi berlangsung cair, diselingi nostalgia para aktivis senior yang pernah merasakan atmosfer gerakan mahasiswa di zamannya. Namun benang merahnya sama: BEM Unhas perlu hadir kembali sebagai wadah representasi mahasiswa di tingkat universitas.

Bagi para alumni, pembicaraan malam itu tak sekadar mengenang masa lalu. Mereka berharap forum ini menjadi titik awal bagi mahasiswa aktif untuk segera merumuskan bentuk dan arah BEM Unhas ke depan.

Sebab, tanpa wadah bersama, peran mahasiswa dalam mengartikulasikan aspirasi dan menjaga tradisi kritis kampus bisa kehilangan pijakan.

(Rizka Fraja / Unhas.TV)