Karir
Mahasiswa

Alumni Fisika Unhas Buktikan Lulusan Sains Murni Bisa Masuk Industri Baterai Dunia

Muhammad Arsyad Ridwan, alumni Fisika Unhas angkatan 2016, kini bekerja sebagai Assistant R&D Engineer di PT QMB New Energy Materials. (Dok Identitas Unhas)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Stigma bahwa lulusan sains murni sulit menembus dunia kerja industri dipatahkan oleh alumni Fisika Universitas Hasanuddin.

Muhammad Arsyad Ridwan, alumni Fisika Unhas angkatan 2016, kini bekerja sebagai Assistant R&D Engineer di PT QMB New Energy Materials, perusahaan industri baterai di Morowali, Sulawesi Tengah.

Kisah Arsyad mengemuka dalam sosialisasi beasiswa S2 LPDP-GEM-CSU yang digelar di Arsjad Rasjid Lecture, Rabu (20/5/2026) lalu.

Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman bagi mahasiswa Fisika Unhas, terutama mereka yang masih ragu terhadap prospek kerja lulusan sains murni.

PT QMB New Energy Materials dikenal sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dalam produksi bahan baku katoda untuk baterai kendaraan listrik. Industri ini berkembang seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap energi baru dan kendaraan listrik.

Bagi Arsyad, jalan dari laboratorium Fisika Unhas menuju industri baterai bukan proses yang tiba-tiba. Ia lulus dari Fisika Unhas pada 2021 setelah masa studinya tertunda satu tahun akibat pandemi Covid-19.

Pada periode itu, ia memperoleh informasi mengenai beasiswa bidang new energy material di China yang berfokus pada baterai.

“Kebetulan saya dari Fisika Material, jadi sedikit-sedikit tahu. IELTS saya juga sudah memenuhi. Saya coba daftar, saya lulus. Jadi saya kuliah, magang, dan sekarang kerja di sini,” kata Arsyad.

Menurut Arsyad, Fisika Material memiliki hubungan langsung dengan pengembangan baterai. Kajian tentang struktur kristal litium, karakter material, hingga proses sintesis katoda merupakan bagian dari pengetahuan dasar yang dipelajari dalam bidang fisika.

Ia mengatakan industri saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan dengan nilai akademik tinggi. Kemampuan belajar mandiri, membaca jurnal ilmiah, memahami perkembangan teknologi, serta memiliki rasa ingin tahu yang kuat menjadi modal penting untuk bertahan dalam industri berbasis riset.

“Skill yang perlu diasah itu daya juang. Kita harus terus belajar karena inovasi terus ada. Jadi harus rajin baca jurnal. Rasa ingin tahu juga penting, karena kalau ada rasa ingin tahu berarti punya motivasi intrinsik,” ujarnya.

Cerita Arsyad menjadi contoh bahwa hilirisasi industri baterai membuka peluang baru bagi lulusan fisika, kimia, material, dan bidang sains terkait. Peluang itu tidak hanya berada di ruang akademik, tetapi juga di jantung industri strategis yang sedang tumbuh.

Bagi mahasiswa Fisika Unhas, kisah ini menjadi peringatan sekaligus dorongan. Industri baterai membutuhkan sumber daya manusia yang siap belajar, beradaptasi, dan mengambil kesempatan sebelum peluang itu diisi lulusan dari daerah lain.

(Rahmatia Ardi / Andrea Ririn Karina / Unhas TV)