UNHAS.TV - Andi Aulia Isradi tidak pernah benar-benar menjauh dari cita-cita masa kecilnya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah membayangkan dirinya menjadi dokter.
Bukan semata karena ingin membantu orang lain, alasan yang sering disebut banyak anak ketika ditanya tentang profesi dokter. Aulia justru tertarik pada tubuh manusia, pada pertanyaan-pertanyaan kecil yang tumbuh dari rasa ingin tahu.
Saat anak-anak lain bermain gim hiburan, Aulia mengunduh gim anatomi. Ia penasaran mengapa seseorang bisa sakit, mengapa tubuh bisa berhenti bekerja, dan apa yang terjadi di dalam otak atau organ manusia ketika seseorang mengalami kecelakaan.
Pertanyaan-pertanyaan itu menemaninya bertahun-tahun, dari SD, SMP, hingga SMA. “Dari SD itu, saya memang sudah memilih dokter tanpa ada belokan lain,” kata Aulia dalam program Unhas Story bersama host Zahra Tsabita Sucheng.
Ia menyebut ketertarikannya pada kedokteran lahir dari rasa ingin tahu yang terus tumbuh terhadap proses dalam tubuh manusia.
Namun jalan menuju Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin tidak semulus bayangan. Aulia tumbuh sebagai siswa berprestasi. Orang-orang di sekitarnya mengira ia akan mudah menembus kampus dan jurusan impiannya.
Kenyataannya berbeda. Pandemi Covid-19 yang datang saat ia SMA membuat ritme belajarnya terganggu. Ia mengalami kelelahan mental, kehilangan motivasi, dan harus menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh.
Ia sempat ingin mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tetapi akhirnya memilih realistis. Unhas menjadi pilihan kuat karena kualitas Fakultas Kedokterannya, juga karena kedua orang tuanya merupakan alumni kampus tersebut.
Aulia mendaftar melalui jalur SNBP. Hasilnya belum berpihak. Ia kembali mencoba lewat jalur tes yakni melalui SNBT. Hasilnya sama.
Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ia mencoba sejumlah jalur mandiri di berbagai kampus. Beberapa pendaftaran ia urus sendiri, bahkan sebagian biaya registrasi ia bayar tanpa banyak bercerita kepada orang tua.
Sekitar lima kali ia kembali menerima hasil yang mengecewakan. Sampai akhirnya, pada kesempatan terakhir, ia diterima di Fakultas Kedokteran Unhas melalui jalur mandiri.
“Menjadi dokter itu susah, bahkan saya sudah merasakannya saat memulai dari sebelum masuk,” ujar Aulia.
Sebagai mahasiswa asal Balikpapan, Kalimantan Timur, Aulia juga terbantu oleh dukungan keluarga dan beasiswa dari pemerintah daerah.
Ia menyadari jalur mandiri membutuhkan biaya lebih tinggi dibanding jalur seleksi nasional. Namun beasiswa dari Kalimantan Timur ikut meringankan beban pendidikannya.
Begitu masuk kuliah, Aulia menemukan bahwa bayangannya tentang kedokteran tidak jauh berbeda dengan kenyataan. Hanya saja, realitasnya jauh lebih berat. Kuliah kedokteran menyita banyak waktu, tenaga, dan jam tidur. Ia menyebut ritmenya tiga kali lebih keras dari perkiraannya.
Anatomi Jadi yang Paling Disukai
>> Baca Selanjutnya
Andi Aulia Isradi Zainal - Mahasiswa berprestasi Unhas 2024. (Unhas TV)








