Mahasiswa
Unhas Story

Andi Aulia Isradi, Mahasiswa Kedokteran Unhas yang Belajar Menang dari Kegagalan



Andi Aulia Isradi - Mahasiswa berprestasi Unhas 2024. (Unhas TV)


Di tengah kesibukan itu, anatomi tetap menjadi ruang yang paling ia sukai. Ketertarikan sejak kecil membawanya menjadi asisten dosen anatomi.

Baginya, belajar anatomi bukan hanya memahami struktur tubuh, tetapi juga menyadari kompleksitas penciptaan manusia. Setiap pelajaran seperti menjawab pertanyaan masa kecil yang dulu belum ia mengerti.

Jejak prestasi Aulia tidak dimulai di kampus. Saat masih kelas dua SMA pada 2019, ia terpilih menjadi Duta Anti-Narkoba Kota Balikpapan. Awalnya, ia ingin mengikuti ajang duta lingkungan hidup, tetapi gagal. Kegagalan itu justru menjadi bekal untuk mencoba lagi di ajang lain.

Di Duta Anti-Narkoba, Aulia bersaing dengan peserta yang lebih tua, termasuk mahasiswa dan pekerja. Ia lolos hingga tiga besar.

Dari sana, ia belajar berbicara di depan publik dan memahami bahwa suara anak muda tetap bisa membawa perubahan. Pengalaman itu kemudian terasa relevan ketika ia menjadi mahasiswa kedokteran.

Aulia memahami narkoba bukan hanya sebagai persoalan hukum atau sosial, tetapi juga sebagai ancaman kesehatan. Ia menjelaskan bahwa zat adiktif dapat merusak sistem pengendali tubuh, terutama otak.

Efek euforia yang muncul hanya sementara, sementara risiko ketergantungan dan kerusakan organ dapat berlangsung lama. “Narkoba itu bukan cuma merenggut kesehatan, tapi merenggut versi terbaik dari seseorang,” katanya.

Di kampus, Aulia terus mengasah diri. Pada 2022, ia masuk 10 besar finalis Ambassador of Public Health AMSA Indonesia. Saat itu ia menggagas kampanye “Strike Out Stroke”, yang menyasar anak muda.

Ia memilih isu stroke karena penyakit ini tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut. Gaya hidup tidak sehat, begadang, konsumsi makanan cepat saji, kurang aktivitas fisik, dan stres dapat menjadi faktor risiko sejak usia muda.

Lewat kampanye itu, Aulia ingin mengingatkan anak muda agar tidak menunggu sakit untuk berubah. Ia menekankan pola makan seimbang, mengurangi makanan tinggi lemak dan garam, membatasi makanan cepat saji, menjaga tidur, berolahraga tiga sampai empat kali sepekan, serta mengelola stres.

Juara Bertahan di AMSA Indonesia

Prestasi lain datang dari Indonesian Medical Students Training and Competition. Aulia meraih juara pertama pada 2023, lalu kembali mempertahankan posisi yang sama pada 2024.

Baginya, mempertahankan gelar lebih berat daripada meraihnya pertama kali. Tekanan datang karena standar sudah terlanjur tinggi.

Kuncinya, kata Aulia, adalah refleksi dan evaluasi. Ia tidak berpuas diri setelah menang. Ia memeriksa kembali kekurangan, membaca tema dengan cermat, memperhatikan aspek akademik, hingga detail kecil dalam format lomba.

Kompetisi itu menuntut keseimbangan antara kedalaman ilmiah dan kreativitas. Aulia mengawalinya dengan memperkuat fondasi akademik, lalu mengemas gagasan secara menarik tanpa mengurangi bobot ilmiahnya.

Puncak pengalaman berkesan bagi Aulia datang ketika ia menjadi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Kedokteran Unhas 2024 dan meraih juara tiga tingkat Universitas Hasanuddin.

Gelar itu baginya bukan sekadar pengakuan atas daftar prestasi. Proses seleksi mahasiswa berprestasi menilai banyak aspek: capaian akademik, penghargaan, aksi sosial, kemampuan bahasa Inggris, gagasan kreatif, hingga konsistensi pengaruh yang diberikan kepada lingkungan.

Dari pengalaman itu, Aulia belajar menghargai proses. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa ternyata menjadi bagian penting dari perjalanan panjang.

Ia juga memahami bahwa gelar mahasiswa berprestasi membawa tanggung jawab baru. Bukan hanya untuk terlihat unggul, tetapi untuk mendorong orang lain ikut tumbuh.

“Kalau Aulia bisa, kenapa orang lain tidak bisa?” begitu ia memaknai perannya.

Sebagai mahasiswa kedokteran, peserta kompetisi, pembicara, dan pembawa acara di berbagai kegiatan, Aulia harus pandai mengatur prioritas.

Ia tidak memaknai keseimbangan sebagai pembagian waktu yang selalu sama rata. Ada saat akademik harus didahulukan. Ada pula saat kompetisi dan aktivitas pengembangan diri menjadi bagian penting dalam membentuk karakter calon dokter.

Di akhir perbincangan, Aulia menyampaikan pesan sederhana. Jangan takut bermimpi. Jangan minder. Jangan merasa tidak bisa sebelum mencoba. Setiap orang, menurut dia, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Yang terpenting adalah memaksimalkan potensi, berjalan sesuai ritme sendiri, menjadi pribadi yang baik dalam berpikir, bertindak, dan bersikap, serta memastikan pengembangan diri memberi manfaat bagi orang lain.

Perjalanan Aulia memperlihatkan bahwa prestasi tidak lahir dari jalan yang selalu lurus. Ia tumbuh dari kegagalan, keberanian mencoba lagi, dan kesediaan mengevaluasi diri.

Dari ruang anatomi hingga panggung mahasiswa berprestasi, Aulia membuktikan bahwa mimpi masa kecil bisa bertahan, asal dijaga dengan kerja keras dan dampak yang nyata.

(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)