Sport

Mulutmu Harimaumu: Baru 6 Bulan di Bernabeu, Xabi Alonso Dipecat karena Satu Kalimat

Baru 6 bulan menjadi pelatih Real Madrid, Xabi Alonso dipecat manajemen buntut kekalahan dari Barcelona di Piala Super Spanyol. (the sun)

UNHAS.TV - Tidak semua perpisahan di sepak bola lahir dari kekalahan di papan skor. Sebagian justru bermula dari kata-kata—kalimat pendek yang terucap di ruang konferensi pers, tetapi menggema panjang di lorong-lorong kekuasaan.

Xabi Alonso mengalaminya di Real Madrid. Enam bulan setelah duduk di kursi paling panas di Santiago Bernabeu, ia pergi. Bukan dengan pelan, melainkan dengan dentuman.

Semua berawal dari Supercopa Spanyol. Turnamen yang bagi Real Madrid sejatinya tetap bermakna simbolik—apalagi ketika finalnya melawan Barcelona.

Namun Alonso memilih nada lain. “Piala Super Spanyol adalah kompetisi yang paling tidak penting bagi kami,” ujarnya tegas.

Kalimat itu meluncur setelah Madrid kalah 2-3 dari Barcelona di Arab Saudi. Di ruang publik, ia terdengar jujur. Di telinga petinggi klub, itu sinyal bahaya.

Real Madrid dikenal tak menyukai relativisme terhadap trofi. Apa pun bentuknya, setiap piala adalah kehormatan.

Dalam tradisi klub yang dibangun Florentino Pérez, tak ada kompetisi yang “tidak penting”, terlebih jika melibatkan rival abadi. Kalimat Alonso menjadi bara yang menyulut api yang sebenarnya sudah lama menyala.

Sehari setelah final itu, Madrid mengumumkan perpisahan. Pernyataannya singkat, 94 kata, dan terasa dingin meski dibungkus frasa “kesepakatan bersama”. Alonso dipuji sebagai legenda, dijanjikan pintu yang selalu terbuka, lalu dilepas.

Delapan menit kemudian, Madrid mengumumkan penggantinya: Álvaro Arbeloa, mantan rekan Alonso di Liverpool dan Real Madrid, pelatih Castilla yang dipromosikan kilat ke tim utama.

Kecepatan pergantian itu sendiri adalah pesan. Madrid tidak ingin kekosongan. Mereka ingin kontrol.

Alonso datang ke Madrid dengan reputasi cemerlang. Musim sensasional bersama Bayer Leverkusen—mematahkan dominasi Bayern Munich—menjadikannya simbol pelatih modern: intens, berani, beride.

Namun Bernabeu bukan BayArena. Di Madrid, ide harus bernegosiasi dengan ego, sejarah, dan bintang-bintang yang terbiasa diperlakukan lembut ala Carlo Ancelotti.

Di ruang ganti, gesekan muncul. Vinícius Jr disebut-sebut menjadi salah satu figur yang paling sulit berdamai dengan tuntutan Alonso. Intensitas latihan, detail taktis, dan pendekatan konfrontatif dianggap terlalu menekan.

Dukungan Florentino Pérez pun perlahan menguap, terutama ketika hasil tak sepenuhnya sejalan dengan proses.

Madrid memang berada di posisi kedua La Liga, hanya tertinggal empat poin dari Barcelona, dan masih kompetitif di Liga Champions. Namun di klub ini, “cukup baik” sering kali berarti “belum layak”.

Kekalahan dari Barcelona di final Supercopa menjadi titik balik. Bukan hanya karena skor, melainkan karena cara Madrid kalah. Dominasi Barcelona terasa jelas. Dan ketika Alonso meremehkan turnamen itu, seolah ia juga meremehkan rasa sakit Madridisme.

Pengangkatan Arbeloa mengingatkan pada 2016, ketika Zinedine Zidane dipromosikan dari Castilla dan kemudian mencatat sejarah tiga gelar Liga Champions beruntun.

Madrid berharap keajaiban serupa. Arbeloa, 42 tahun, adalah produk internal, paham kultur klub, dan diyakini mampu meredam ruang ganti yang bergejolak.

Alonso Digandang ke Liverpool

Sementara itu, Alonso mendadak menjadi komoditas panas. Pasar pelatih sedang bergejolak. Manchester United kosong setelah memecat Ruben Amorim.

Masa depan Pep Guardiola di Manchester City juga diselimuti tanda tanya. Namun yang paling menarik adalah pelatih Liverpool.

Anfield bukan tempat asing bagi Alonso. Ia pernah mengangkat Liga Champions di sana. Bahkan, sebelum menunjuk Arne Slot, Liverpool menjadikan Alonso sebagai target utama pengganti Jürgen Klopp.

Slot datang karena Alonso memilih bertahan di Leverkusen. Ironisnya, kini Alonso tersedia gratis dan Slot justru berada di bawah tekanan.

Slot memang membawa Liverpool juara Premier League dengan skuad warisan Klopp. Namun belanja besar—sekitar £450 juta—belum sepenuhnya terkonversi menjadi dominasi baru Liverpool di Inggris.

Kedatangan Florian Wirtz seharga £116 juta menambah beban ekspektasi. Dan di situlah bayang-bayang Alonso muncul. Ia tahu cara memaksimalkan Wirtz. Ia memahami Premier League. Dan ia punya aura romantis yang selalu menggoda Liverpool.

Taruhan bandar pun bergerak cepat. Peluang Alonso ke Anfield dipangkas drastis. Dari sekadar spekulasi, ia kini menjadi favorit kuat.

Enam bulan di Madrid mungkin terasa singkat dan pahit bagi Alonso. Namun dalam sepak bola elite, reputasi tak runtuh oleh satu kegagalan. Justru, cara ia jatuh sering kali menentukan ke mana ia akan bangkit.

Satu kalimat tentang “kompetisi tidak penting” memang mengakhiri kisahnya di Bernabeu. Tetapi bisa jadi, kalimat itulah yang membuka bab baru di tempat lain.

Mulutmu harimaumu. Namun bagi Xabi Alonso, harimau itu belum tentu mematikan. Bisa saja, ia hanya mengusirnya ke hutan yang berbeda, tempat ia kembali berburu dengan caranya sendiri. (*)