Mahasiswa
Program
Unhas Story

Andi Nanda Nur Amriani, Mahasiswa Vokasi Unhas yang Menjawab Ragu dengan Prestasi



Andi Nanda Nur Amriani FMB, mahasiswa Berprestasi 1 2026 Kategori Diploma Tingkat Wilayah IX. (Dok Unhas TV)


Pilihan masuk Fakultas Vokasi Unhas juga punya cerita sendiri. Ayahnya merupakan lulusan diploma dan pernah menyarankan Nanda mengambil jalur vokasi karena sesuai dengan cara belajarnya. Nanda merasa lebih cepat memahami sesuatu ketika melihat langsung praktiknya.

Ia kemudian menemukan program studi Agribisnis Pangan. Pilihan itu terasa cocok. Ayahnya punya latar dekat dengan tata boga. Ibunya menyukai bisnis. Nanda sendiri suka memasak.

Agribisnis Pangan mempertemukan minat itu: pengolahan makanan, distribusi, dan peluang usaha. “Vokasi bisa tonji,” kata Nanda, mengutip pesan dosennya.

Kalimat itu menjadi jawaban bagi anggapan yang masih meremehkan pendidikan vokasi. Menurut Nanda, setiap orang memiliki cara belajar berbeda. Ada yang kuat di jalur teoretis. Ada yang lebih cepat berkembang melalui praktik. Ia merasa vokasi memberi ruang bagi cara belajarnya.

Namun kemenangan Pilmapres juga membawa tanggung jawab baru. Setelah menjadi juara, Nanda merasa harus lebih hati-hati tampil di ruang publik. Ia sadar, orang tidak lagi hanya melihat dirinya sebagai pribadi. Ia membawa nama Fakultas Vokasi, Universitas Hasanuddin, dan Wilayah 9.

Di luar akademik, Nanda adalah atlet taekwondo. Jalan itu bermula di Luwu Timur. Semula ia menyukai basket. Namun ayahnya, yang dulu pernah dekat dengan taekwondo, mendorong anak-anaknya mencoba bela diri tersebut.

Saat pertama kali datang ke tempat latihan, Nanda melihat anak-anak dengan sabuk berwarna-warni. Ia tertarik, meski kemudian terkejut karena langsung melihat sesi sparing.

Rasa takut datang. Ia sempat berpikir tidak mampu. Namun latihan demi latihan mengubah rasa takut itu menjadi cinta. Dari sabuk putih, ia naik tingkat. Ia mulai mengikuti kejuaraan kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional.

Setelah hari terakhir Pilmapres, Nanda bahkan langsung berangkat ke Bali untuk mengikuti kejuaraan internasional Road to SEA Games.

Di sisi lain, ia juga sedang menyiapkan diri untuk Pra-Porprov 2026. Jadwalnya padat. Ia harus membagi waktu antara kuliah, latihan, tugas, karantina, dan persiapan kompetisi.

Tantangan terbesar sebagai atlet sekaligus mahasiswa adalah waktu. Karantina taekwondo berlangsung di Luwu Timur, sementara kuliahnya berada di Makassar.

Perjalanan bisa memakan waktu sekitar 12 jam. Ia harus mengurus izin kuliah, mengejar praktik, dan tetap menjaga performa latihan.

Cedera juga pernah datang. Dalam persiapan menuju Pra-Porprov, ia mengalami cedera lutut. Ia menjalani terapi diam-diam karena khawatir pelatih melarangnya bertanding. Ia tidak ingin berhenti. Sejak awal, ia sudah menanamkan target menjadi bagian dari atlet yang tampil di ajang besar.

Mental taekwondo ikut membentuk mental Pilmapres. Pelatihnya pernah mengatakan, tidak perlu terlalu mengenal lawan. Tidak perlu gentar meski lawan adalah atlet besar. Yang penting, beri kemampuan maksimal lebih dulu. Prinsip itu ia bawa ke arena akademik.

Rapikan Agenda dalam Catatan Ponsel

Nanda punya kebiasaan sederhana untuk mengatur hidupnya. Ia membuat catatan di ponsel, termasuk lewat ruang pesan untuk dirinya sendiri di WhatsApp.

Ia menulis daftar pekerjaan, menandai yang sudah selesai, lalu mengulanginya setiap hari. Cara itu membantunya mengingat tugas di tengah jadwal padat.

Selain itu, ia terbiasa meminta doa. Kepada orang tua, teman, dan orang-orang terdekat. Baginya, dukungan kecil seperti itu membuat langkah terasa lebih ringan. Ia tahu tidak semua hal bisa dikendalikan sendiri.

Dalam percakapan itu, Nanda juga berbicara tentang generasi muda dan kesehatan mental. Ia menganggap perhatian terhadap mental penting. Namun ia mengingatkan agar kepedulian terhadap mental tidak membuat seseorang berhenti terlalu cepat ketika menghadapi hambatan.

Menurut Nanda, mental bisa diperbaiki. Syaratnya, seseorang harus punya niat untuk bangkit. Ia percaya setiap orang memiliki Tuhan, keluarga, teman, dan ruang dukungan. Ketika diri sendiri belum kuat, orang lain bisa menjadi penyangga sementara.

Bagi Nanda, mental juara berarti terus berjalan meski pernah jatuh. Ia menyebutnya dengan ungkapan sederhana: tabrak-tabrak masuk.

Bukan berarti bergerak tanpa arah, melainkan berani mencoba sebelum memutuskan tidak mampu. “Kamu tidak akan tahu bisa atau tidak kalau tidak mencoba,” katanya.

Kini Nanda menatap dua jalur sekaligus. Di akademik, ia ingin membuka usaha yang berhubungan dengan pangan, memasak, dan bisnis. Di taekwondo, ia ingin bertahan lama dan kelak membuka tempat latihan. Ia ingin menyalurkan ilmu kepada anak-anak didiknya.

Di usia muda, Nanda sudah memikul banyak identitas. Mahasiswa vokasi. Juara Pilmapres. Atlet taekwondo. Anak perantau. Perempuan yang pernah ragu, tetapi tetap masuk gelanggang.

Ia tidak selalu yakin sejak awal. Ia tidak selalu kuat sejak langkah pertama. Namun ia punya satu kebiasaan yang terus ia rawat: menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

(Zulkarnaen Jumar Taufik / Unhas TV)