Mahasiswa
Pendidikan

Antoine Ripoll Bicara di Unhas, Mahasiswa Diajak Memahami Diplomasi Parlementer Lintas Kawasan ASEAN

KULIAH TAMU - Antoine Ripoll, Minister Counsellor for Parliamentary Affairs EU Delegation to ASEAN, membawakan kuliah tamu bertema diplomasi parlementer bersama Delegasi Uni Eropa untuk ASEAN di Asrjad Rasjid LT, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu (10/6/2026). (Unhas TV/Zahra Tsabita Sucheng)

MAKASSAR, UNHAS.TV — Universitas Hasanuddin menggelar kuliah tamu bertema diplomasi parlementer bersama Delegasi Uni Eropa untuk ASEAN, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Antoine Ripoll, Minister Counsellor for Parliamentary Affairs EU Delegation to ASEAN, sebagai pembicara utama.

Kuliah tamu tersebut berlangsung di Kampus Unhas Tamalanrea dan diselenggarakan melalui International Office Universitas Hasanuddin.

Forum akademik ini mengangkat tema “Parliamentary Diplomacy as Practiced by the European Parliament and Its Implementation in Indonesia and Southeast Asia.”

Puluhan mahasiswa, dosen, dan akademisi hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka mengikuti pemaparan mengenai praktik diplomasi parlementer yang dijalankan Parlemen Eropa serta relevansinya dalam kerja sama antara Uni Eropa, Indonesia, dan negara-negara Asia Tenggara.

Dalam pemaparannya, Ripoll menjelaskan bahwa diplomasi parlementer tidak hanya berkaitan dengan hubungan formal antarparlemen.

Menurut dia, diplomasi tersebut juga menjadi ruang untuk membangun saling pengertian antara masyarakat Eropa dan Asia Tenggara melalui dialog lintas isu.

“Hari ini kami berbicara dengan para pelajar mengenai diplomasi parlemen, dan bagaimana masyarakat Eropa dan Asia Tenggara dapat saling memahami dengan lebih baik,” kata Ripoll.

Ia menyebut sejumlah isu global menjadi bagian penting dari diplomasi parlementer. Beberapa di antaranya perubahan iklim, standar sosial, tata kelola pemerintahan, serta hak asasi manusia.

Menurut Ripoll, isu tersebut membutuhkan pemahaman bersama karena memengaruhi hubungan politik, ekonomi, dan sosial antarnegara.

“Bagaimana kita bisa memastikan masyarakat dari kedua kawasan saling memahami dan berbagi nilai yang relevan,” ujarnya.

Acara ini dipandu oleh dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Abdul Razaq Cangara.

Diskusi juga membahas konsep, mekanisme, dan praktik diplomasi parlementer dalam konteks kawasan. Peserta mendapat gambaran mengenai cara Uni Eropa membangun komunikasi dengan negara mitra, termasuk Indonesia dan ASEAN.

Selain membahas hubungan politik, kuliah tamu ini menyinggung kerja sama di berbagai sektor. Mulai dari penguatan demokrasi, pengembangan institusi parlemen, kerja sama ekonomi, hingga isu sosial yang menjadi perhatian bersama.

Ripoll menyampaikan apresiasi kepada Universitas Hasanuddin atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia juga berterima kasih atas sambutan civitas akademika Unhas selama kunjungannya.

Melalui forum ini, Universitas Hasanuddin berharap mahasiswa dapat memperluas wawasan global. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang akademik untuk memahami posisi diplomasi parlementer dalam hubungan internasional modern, terutama antara Uni Eropa, Indonesia, dan kawasan Asia Tenggara.

(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)