MAKASSAR, UNHAS.TV – Antusiasme dosen, peneliti, praktisi, hingga masyarakat umum untuk menerbitkan buku di Unhas Press terus menunjukkan tren positif.
Sepanjang Juni 2026, belasan naskah baru masuk dalam proses penerbitan dengan tema yang sangat beragam, mulai dari kemaritiman, ekonomi Islam, arsitektur, antropologi, kesehatan, hingga kewirausahaan.
Manager Editorial Unhas Press, Wahyu Chandra, mengatakan meningkatnya jumlah naskah menunjukkan kepercayaan publik terhadap Unhas Press sebagai salah satu penerbit perguruan tinggi yang memiliki reputasi kuat di Indonesia.
Menurutnya, penulis kini tidak hanya mencari tempat mencetak buku, tetapi juga membutuhkan penerbit yang mampu memberikan nilai tambah bagi karya yang dihasilkan.
"Penulis semakin selektif memilih penerbit. Mereka menginginkan proses editorial yang profesional, kualitas cetak yang baik, serta jaringan promosi yang mampu memperluas jangkauan buku. Itulah yang terus kami bangun di Unhas Press," ujar Wahyu Chandra di Makassar, Kamis (2/7/2026).
Beberapa buku yang saat ini sedang diproses antara lain Bangsa Maritim dan Negara Kepulauan: Identitas, Sejarah, dan Politik Kemaritiman Indonesia (Agussalim Burhanuddin), Pusat Graf Gedung Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin (Prof. Dr. Hasmawati, M.Si.), Indonesia di Tengah Badai Zaman Jilid 1 dan Jilid 2 karya Amril Taufik Gobel.
Naskah lain adalah Praktik Kewirausahaan Islam (Ibriati Kartika Alimuddin), Kanker Paru Dalam Praktik Klinis Sehari-hari (Dr. dr. Harun Iskandar), Mahir Penelitian Kualitatif untuk Antropologi (Prof. Dr. Hamka Naping, MA), Kultur Jaringan Tumbuhan: Teori, Prinsip, dan Teknik Dasar (Mustika Tuwo), Memahami Kemiskinan (Agussalim), Opini atau Logika Ilmiah (Triyatni Martosenjoyo), serta Dasar-dasar Ekonomi Islam (Rusda).

Menurut Wahyu, salah satu keunggulan Unhas Press adalah hadirnya ekosistem penerbitan yang tidak dimiliki banyak penerbit lain. Setelah buku terbit, penulis tidak berhenti pada proses pencetakan, tetapi juga memperoleh kesempatan memperkenalkan gagasannya melalui berbagai platform media yang dimiliki Universitas Hasanuddin.
"Melalui kolaborasi dengan Unhas TV, penulis dapat diundang dalam program podcast maupun talkshow untuk memperkenalkan bukunya kepada masyarakat. Jadi, yang kami bangun bukan sekadar proses menerbitkan buku, tetapi juga ekosistem diseminasi pengetahuan," jelasnya.
Ia menambahkan, integrasi antara Unhas Press dan Unhas TV membuka ruang promosi yang lebih luas bagi para penulis. Buku yang diterbitkan dapat diangkat menjadi konten podcast, liputan televisi, berita digital, hingga promosi melalui media sosial. Dengan demikian, buku tidak hanya tersimpan di rak perpustakaan, tetapi juga hadir dalam ruang-ruang diskusi publik.
Keunggulan lain yang ditawarkan Unhas Press adalah efisiensi biaya produksi. Menurut Wahyu, dukungan fasilitas produksi yang dimiliki membuat proses penerbitan menjadi lebih efektif tanpa mengurangi kualitas hasil akhir.
"Daripada jauh-jauh cetak di Yogyakarta, yang ongkos kirimnya cukup mahal, lebih baik mencetak di tempat kami dengan harga yang sama dan kualitas lebih baik. Kami memiliki sumber daya dan fasilitas yang memadai sehingga proses penerbitan dapat dilakukan secara lebih efisien. Efisiensi tersebut menjadi keuntungan bagi penulis karena mereka memperoleh layanan profesional dengan biaya yang kompetitif," katanya.
Selain itu, Unhas Press juga memiliki nilai tambah dari sisi reputasi kelembagaan. Sebagai penerbit resmi Universitas Hasanuddin, Unhas Press membawa nama salah satu perguruan tinggi terbesar dan paling bereputasi di Indonesia Timur.

Sejak berdiri pada 1956 dengan nama Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (Lephas), lembaga ini telah berkembang menjadi salah satu penerbit perguruan tinggi yang dikenal luas serta tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI).
Wahyu menilai, reputasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penulis ketika memilih penerbit.
"Nama penerbit ikut membangun kredibilitas sebuah buku. Ketika buku diterbitkan oleh Unhas Press, penulis memperoleh dukungan sistem editorial yang profesional, identitas kelembagaan yang kuat, serta jaringan promosi yang terus kami kembangkan. Harapan kami, setiap buku yang diterbitkan tidak hanya menjadi karya ilmiah, tetapi juga mampu memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," pungkasnya.(*)
Suasana pelatihan menulis yang digelar Unhas Press








