MAKASSAR, UNHAS.TV - Kepemimpinan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim membawa warna baru dalam arah kebijakan luar negeri Negeri Jiran.
Di tengah perubahan geopolitik global yang semakin dinamis, Malaysia berupaya memperkuat posisinya melalui pendekatan diplomasi berhemah, penguatan hubungan internasional, serta penekanan pada kepentingan ekonomi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Diplomasi berhemah artinya pendekatan dalam hubungan internasional atau negosiasi yang mengutamakan kesantunan, kebijaksanaan, rasa hormat, dan kehati-hatian untuk mencapai kesepakatan tanpa memicu konflik atau permusuhan.
Dalam bahasa Melayu dan Indonesia, kata "hemah" atau "berhemah" merujuk pada perilaku yang mempunyai budi pekerti mulia, saksama, dan penuh pertimbangan. Pendekatan tersebut menjadikan Malaysia lebih aktif memainkan peran di panggung internasional.
Diplomasi yang dijalankan tidak hanya mengandalkan pertemuan formal antarnegara, tetapi juga mengedepankan komunikasi langsung antar pemimpin untuk membangun kepercayaan dan menyelesaikan berbagai kepentingan bersama.
Diplomasi berhemah yang diperkenalkan Anwar Ibrahim menjadi salah satu ciri utama dalam strategi hubungan luar negeri Malaysia. Pendekatan ini menempatkan dialog dan komunikasi sebagai instrumen penting dalam menjaga hubungan bilateral maupun multilateral.
Dosen Universiti Sians Malaysia (USM) Dr Faridah Jaafar menilai metode diplomasi yang dilakukan Anwar Ibrahim menunjukkan pendekatan baru dalam menjalankan hubungan internasional.
Menurutnya, komunikasi langsung antar pemimpin dapat menjadi cara efektif tanpa harus selalu melalui rangkaian protokol kenegaraan yang panjang.
“Kalau kita lihat seorang Perdana Menteri menelepon kepala negara yang lain, hal itu kadang-kadang dianggap hanya sekadar komunikasi biasa," ujarnya kepada Unhas TV saat diwawancarai di sela kunjungan akademik ke Dept Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas, Kamis (3/9/2026).
"Tetapi itulah metode yang coba diketengahkan, bahwa ketika kita bisa mendiskusikan sesuatu hanya melalui telepon, tidak perlu selalu dibentangkan karpet merah untuk menjalankan diplomasi dua hala atau multilateral,” jelas Faridah.
Menurut dia, keberhasilan pendekatan tersebut tidak terlepas dari sosok Anwar Ibrahim yang memiliki posisi dan jaringan dalam hubungan internasional. Kredibilitas seorang pemimpin menjadi faktor penting agar komunikasi diplomasi dapat diterima oleh negara lain.
“Sekiranya Datuk Seri Anwar Ibrahim bukan siapa-siapa di arena internasional, sudah tentu kesempatan ini sulit untuk diperoleh. Tetapi dalam era pemerintahan beliau, telah berlaku beberapa hubungan diplomasi yang aktif dengan negara-negara luar,” katanya.
Posisi Malaysia di Tengah Persaingan Global
Aktivitas diplomasi Malaysia di bawah kepemimpinan Anwar Ibrahim terlihat dari meningkatnya intensitas hubungan dengan berbagai negara.
Sejumlah kunjungan pemimpin dunia ke Malaysia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri China, menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama strategis.
Selain menerima kunjungan pemimpin negara lain, Anwar Ibrahim juga aktif melakukan kunjungan luar negeri, termasuk ke Turki. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan politik, ekonomi, keamanan, serta kerja sama sosial budaya.
Diplomasi ekonomi menjadi salah satu agenda utama dalam kebijakan luar negeri Malaysia. Pemerintah Malaysia berupaya membuka peluang investasi, memperkuat perdagangan, serta memastikan hubungan internasional memberikan dampak langsung terhadap pembangunan nasional.
Malaysia juga berusaha mempertahankan posisi sebagai negara yang mampu menjalin hubungan dengan berbagai pihak tanpa terjebak dalam konflik kepentingan antar kekuatan besar dunia.
Pendekatan tersebut dilakukan melalui strategi keseimbangan, dengan menjaga hubungan baik bersama negara-negara mitra.
Dalam dinamika geopolitik global yang semakin dipengaruhi persaingan berbagai kekuatan besar, Malaysia mengambil posisi sebagai negara penengah.
Peran tersebut menunjukkan upaya Kuala Lumpur untuk tidak sekadar mengikuti arus politik internasional, tetapi turut membangun ruang dialog dan kerja sama.
Selain aspek ekonomi dan politik, pemerintahan Anwar Ibrahim juga memberikan perhatian terhadap isu kemanusiaan dan hak asasi manusia. Nilai-nilai tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan sikap Malaysia terhadap berbagai persoalan internasional.
Kebijakan luar negeri Malaysia di era Anwar Ibrahim menempatkan diplomasi sebagai instrumen untuk membangun hubungan yang lebih konstruktif.
Pendekatan yang menggabungkan komunikasi aktif, kepentingan nasional, kerja sama ekonomi, serta prinsip kemanusiaan menjadi strategi Malaysia menghadapi perubahan dunia.
Dengan diplomasi yang lebih terbuka dan fleksibel, Malaysia berupaya memperkuat perannya sebagai negara yang mampu menjembatani berbagai kepentingan di tengah persaingan geopolitik global.
Pemerintahan Anwar Ibrahim mencoba membangun citra Malaysia sebagai mitra strategis yang mengedepankan dialog, stabilitas, dan kerja sama internasional.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Dosen Universiti Sains Malaysia Dr Faridah Jaafar saat tampil dalam program Field Notes di Dept Antropologi, FISIP Unhas, Kamis (3/9/2026). Faridah Jaafar menjelaskan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memperkuat diplomasi luar negeri Malaysia melalui pendekatan berhemah dan kemanusiaan. (Unhas TV / Moh Resha Maharam)








