UNHAS.TV - Bendera tengkorak bertopi jerami itu semula hadir sebagai bagian dari dunia fiksi. Ia dikenal para penggemar manga dan anime One Piece sebagai Jolly Roger, lambang kelompok bajak laut yang melawan kuasa besar dalam cerita.
Namun, pada 2025, simbol itu keluar dari layar. Ia muncul di foto profil WhatsApp, unggahan Instagram, video TikTok, kolom komentar YouTube, hingga pengibaran bendera di ruang publik. Bendera Jolly Roger menjadi viral.
Fenomena itu menarik perhatian Rio Putra Winanda, mahasiswa Magister Antropologi Universitas Hasanuddin (Unhas) yang melakukan riset lebih jauh.
Dalam program Field Notes Unhas TV, Rio menjelaskan rencana penelitiannya yang berjudul “Negosiasi Makna Simbol Jolly Roger dalam Demonstrasi Digital Indonesia: Kajian Etnografi tentang Simbol dan Perlawanan”.
Bagi Rio, kemunculan Jolly Roger dalam aksi digital bukan sekadar tren. Simbol itu, kata dia, menjadi tanda bahwa masyarakat, terutama generasi muda, sedang mencari bahasa baru untuk menyampaikan kritik.
Mereka tidak selalu turun ke jalan, tetapi bergerak melalui layar ponsel. “Generasi muda kita ketika Agustus dan September itu ternyata tidak tidur. Mereka melek politik,” kata Rio.
Ketertarikan Rio bermula pada awal Agustus 2025. Saat itu, penggunaan simbol Jolly Roger ramai di media sosial. Sebagian orang bahkan mengibarkannya menjelang peringatan 17 Agustus.
Padahal, momentum itu biasanya identik dengan pengibaran Merah Putih. Dari situ muncul pertanyaan: mengapa simbol bajak laut dari budaya populer bisa menjadi tanda protes di Indonesia?
Secara historis, Jolly Roger dikenal sebagai bendera bajak laut pada abad ke-17. Ia digunakan untuk menakut-nakuti kapal dagang di lautan.
Dalam One Piece, simbol itu mendapat makna baru. Ia menjadi lambang kelompok yang menantang ketidakadilan dan kekuasaan yang menindas. Ketika masuk ke ruang digital Indonesia, maknanya kembali bergeser.
Rio menyebut pergeseran itu sebagai ruang negosiasi. Makna Jolly Roger tidak tunggal. Bagi penggemar lama One Piece, simbol itu bisa dibaca sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan.
Bagi pengguna baru, ia mungkin hanya tren. Bagi pemerintah atau pihak yang merasa dikritik, simbol yang sama bisa dipandang sebagai ancaman.
Di sinilah antropologi bekerja. Menurut Rio, simbol bukan benda mati. Ia hidup melalui tafsir orang yang menggunakannya, melihatnya, dan meresponsnya. Satu gambar bisa memunculkan banyak makna, tergantung pengalaman, posisi sosial, dan konteks politik masing-masing orang.
Dalam pengamatan awalnya, Rio menemukan tiga makna utama yang muncul dari penggunaan Jolly Roger. Pertama, kritik terhadap pemerintah. Kedua, solidaritas di antara pengguna media sosial.
Ketiga, satir atau humor politik. Kritik tidak selalu hadir dalam kalimat keras. Ia bisa muncul lewat lelucon, parodi, lagu, atau komentar pendek yang dipahami oleh komunitas tertentu.
Bagi pengguna lama One Piece, misalnya, kritik bisa disampaikan lewat istilah yang hanya dipahami para penggemar. Tokoh atau kelompok dalam cerita digunakan sebagai kiasan untuk membaca situasi politik.
Pemerintah dunia dalam One Piece, bangsawan Tenryuubito, atau tokoh utama Luffy menjadi bahan untuk menyampaikan sindiran.
Namun, bagi pengguna lain, simbol itu cukup dipahami sebagai tanda keresahan bersama. Mereka mungkin tidak mengikuti cerita One Piece secara detail. Tetapi mereka menangkap suasana umum bahwa Jolly Roger sedang dipakai sebagai lambang protes.
Rio menilai ruang digital membuat protes menjadi lebih terbuka. Dalam demonstrasi konvensional, orang membutuhkan tempat, waktu, dan keberanian untuk hadir secara fisik.
Di ruang digital, siapa pun bisa ikut bergerak. Orang dari Papua, Sumatera, Sulawesi, atau kota kecil mana pun dapat masuk ke percakapan yang sama melalui unggahan, komentar, atau penggantian foto profil. “Ketika berbicara ruang digital, demonstrasi bisa dilakukan siapa pun,” kata Rio.
Ruang digital, menurut dia, kini telah menjadi ruang sosial baru. Orang bangun pagi lalu membuka ponsel, membaca pesan, melihat unggahan, memberi tanda suka, membagikan konten, atau menulis komentar.
Aktivitas itu membentuk kehidupan sosial yang tidak kalah penting dari pertemuan di kampus, warung kopi, kantor, atau jalanan.
Pendekatan Etnografi Digital
>> Baca Selanjutnya
Mahasiswa Magister Antropologi Unhas Rio Putra Winanda mengangkat topik Jolly Roger, bendera dalam film anime One Piece sebagai simbol demonstrasi dalam ruang digital sebagai penelitiannya. (Dok Unhas TV)



 2-300x169.webp)


 MHPE (1)-300x169.webp)
