Field Notes
Mahasiswa
Program

Jolly Roger Keluar dari Anime, Jadi Bahasa Protes Generasi Digital di Media Sosial



JOLLY ROGER - Mahasiswa Magister Antropologi Unhas Rio Putra Winanda menceritakan penelitiannya yang mengangkat topik Jolly Roger, bendera dalam film anime One Piece sebagai simbol demonstrasi dalam ruang digital. (Dok Unhas TV)


Karena itu, Rio memilih pendekatan etnografi digital. Ia tidak hanya melihat demonstrasi sebagai aksi massa di lapangan, tetapi juga sebagai interaksi yang berlangsung di media sosial. Penelitiannya akan menelusuri komentar, unggahan, respons, dan pola percakapan pengguna.

Ada tiga platform yang akan ia kaji: Instagram, TikTok, dan YouTube. Instagram dipilih karena kuat pada unggahan visual dan identitas pengguna. TikTok dipilih karena responsnya cepat dan penuh komentar spontan.

YouTube dipilih karena menyediakan ruang diskusi yang lebih panjang. Dari tiga ruang itu, Rio berharap dapat memetakan bagaimana makna Jolly Roger dibentuk, diperdebatkan, dan disebarkan.

Penelitian itu diperkirakan berlangsung selama tiga bulan. Rio semula membagi pengumpulan data ke dalam lima fase.

Namun, setelah melakukan pengamatan awal, ia menemukan bahwa kemunculan Jolly Roger sudah terlihat sejak akhir Juli 2025, sebelum ramai pada awal Agustus. Karena itu, ia menambahkan satu fase khusus.

Pilihan Rio meneliti Jolly Roger juga menantang anggapan lama tentang antropologi. Banyak orang masih membayangkan antropolog sebagai peneliti yang hanya turun ke desa, pesisir, pedalaman, atau komunitas adat.

Bagi Rio, ruang digital juga layak dibaca sebagai lapangan kebudayaan. Di sana ada simbol, bahasa, konflik, solidaritas, dan praktik sosial. 

“Ruang hidup itu ternyata tidak hanya ada di dunia nyata, tapi juga ada di ruang sosial digital,” ujarnya.

Fenomena Jolly Roger memperlihatkan hubungan yang makin kabur antara hiburan dan politik. Budaya populer tidak lagi berhenti sebagai tontonan.

Ia dapat berubah menjadi bahasa bersama. Anime, meme, lagu, dan simbol fiksi bisa dipakai untuk membaca kenyataan sosial. Dalam konteks itu, penggemar bukan sekadar penonton. Mereka juga produsen makna.

Media sosial mempercepat proses itu. Simbol yang awalnya hanya dikenal komunitas penggemar bisa meluas ke masyarakat umum.

Setelah ramai dibagikan, simbol tersebut mendapat tafsir baru. Ia tidak lagi sepenuhnya milik pembuat cerita atau komunitas awal. Ia menjadi milik publik yang memakainya untuk kepentingan baru.

Namun, perluasan makna juga membuka risiko salah paham. Orang yang memakai Jolly Roger sebagai humor bisa dianggap sedang melakukan perlawanan politik. Sebaliknya, orang yang menggunakannya sebagai kritik serius bisa dipandang hanya ikut tren.

Pemerintah atau aparat bisa menafsirkan simbol itu sebagai bentuk gangguan, sementara pengguna melihatnya sebagai ekspresi keresahan.

Rio menyebut adanya tindakan pelarangan, intimidasi, hingga penangkapan dalam respons terhadap penggunaan simbol tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa simbol memang punya daya politik. Gambar sederhana dapat membuat pihak tertentu merasa disasar.

Meski begitu, Rio tidak melihat demonstrasi digital sebagai pengganti penuh aksi jalanan. Keduanya memiliki ruang dan bentuk masing-masing.

Demonstrasi konvensional memperlihatkan tubuh, massa, dan kehadiran fisik. Demonstrasi digital memperlihatkan sebaran opini, solidaritas, serta kemampuan membangun percakapan luas tanpa batas geografis.

Yang menarik, menurut Rio, kritik digital dapat menjadi pilihan untuk menyampaikan aspirasi tanpa harus merusak fasilitas publik. Ia menyinggung aksi 2025 yang diwarnai kerusakan infrastruktur. Dalam pandangannya, unggahan dan komentar juga dapat menjadi saluran kritik yang sah.

Fenomena ini juga membantah anggapan bahwa generasi muda apatis terhadap politik. Mereka mungkin tidak selalu menggunakan bahasa formal.

Mereka tidak selalu hadir dalam forum resmi. Namun, mereka berbicara melalui simbol yang dekat dengan keseharian mereka. Jolly Roger menjadi pintu masuk untuk membaca kesadaran politik generasi digital.

Bagi Rio, penelitian ini penting bukan hanya untuk memahami satu simbol. Lebih jauh, ia ingin menunjukkan cara baru masyarakat Indonesia mengekspresikan kegelisahan.

Kritik tidak selalu hadir dalam spanduk, orasi, atau siaran pers. Kadang ia hadir dalam gambar tengkorak bertopi jerami yang dipasang sebagai foto profil.

Di akhir percakapan, Rio menyebut simbol tidak lahir begitu saja. Di balik gambar yang tampak sederhana, ada cerita, identitas, kritik, dan perlawanan yang terus dinegosiasikan masyarakat.

Bagi Rio, kehadiran Jolly Roger adalah contoh bagaimana budaya populer bergerak dari hiburan menjadi bahasa politik. Ia melintasi batas antara penggemar dan warga negara, antara anime dan aksi sosial, antara layar ponsel dan ruang publik.

Dari sana, satu pertanyaan besar muncul, ketika generasi digital bicara dengan simbol, apakah kekuasaan cukup peka untuk membaca pesannya? 

(Zulkarnaen Jumat Taufik / Unhas TV)