MAKASSAR, UNHAS.TV - Di tengah derasnya arus media sosial, cara generasi Z memaknai cinta dan hubungan romantis mengalami perubahan signifikan.
Bagi mereka, hubungan tidak lagi sekadar ruang privat antara dua individu, melainkan juga menjadi bagian dari konsumsi publik di dunia digital.
Fenomena ini diungkap oleh Muhammad Ikhlas Satar Gazali, alumnus Antropologi Sosial Universitas Hasanuddin (Unhas), melalui penelitiannya yang mengkaji representasi hubungan romantis generasi Z di media sosial yang dibagikan dalam program Field Notes di UnhasTV.
Menurut Ikhlas, generasi Z tumbuh bersama media sosial, sehingga platform digital memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara mereka membangun dan menampilkan hubungan.
Berbagai unggahan seperti foto bersama pasangan, story romantis, hingga aktivitas saling memantau menjadi bagian dari dinamika hubungan masa kini.
“Media sosial menghadirkan banyak standar baru, termasuk dalam hubungan. Tanpa disadari, hal ini bisa menjadi tekanan bagi generasi Z,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, banyak individu yang akhirnya tidak hanya menjalin hubungan dengan pasangan, tetapi juga dengan ekspektasi yang dibentuk oleh konten di media sosial.
Akibatnya, hubungan yang sebenarnya berjalan baik bisa terasa kurang hanya karena tidak sesuai dengan gambaran ideal di dunia digital.
Penelitian ini juga menemukan bahwa batas antara kehidupan online dan offline semakin kabur. Generasi Z sering kali kesulitan menentukan kapan harus hadir di dunia nyata dan kapan harus tetap terhubung secara digital.
“Kadang mereka tidak benar-benar menikmati realitas karena selalu merasa harus terkoneksi,” tambahnya.
Dalam praktiknya, muncul berbagai istilah yang menjadi bagian dari budaya populer, seperti soft launch, hard launch, situationship, ghosting, hingga quiet relationship. Istilah-istilah ini mencerminkan perubahan pola hubungan yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi.
Ikhlas juga menyoroti peran validasi sosial dalam hubungan. Respons seperti likes, komentar, dan views tidak hanya menjadi indikator popularitas, tetapi juga memengaruhi kepuasan emosional individu.
“Sebagian orang merasa puas ketika mendapat validasi dari media sosial, meskipun itu bukan tujuan utama mereka,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengaitkan fenomena ini dengan konsep hyperreality, di mana individu kesulitan membedakan antara realitas yang sebenarnya dan realitas yang telah dikonstruksi di media sosial.
Dalam kondisi ini, kebahagiaan sering kali diukur dari respons digital, bukan dari pengalaman nyata bersama pasangan.
Perubahan juga terlihat dalam cara generasi Z memandang komitmen. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung mengarah pada pernikahan, generasi Z lebih fleksibel dan tidak selalu menjadikan hubungan sebagai jalan menuju komitmen jangka panjang.
Meski demikian, generasi Z dinilai memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu kesehatan mental, meskipun tantangan emosional tetap ada.
Melalui penelitiannya, Ikhlas berharap generasi Z dapat lebih bijak dalam menjalani hubungan di era digital.
Ia menekankan pentingnya menikmati momen tanpa terlalu terpengaruh oleh standar yang dibentuk media sosial. “Fokus saja pada apa yang sedang dijalani dan lihat segala sesuatu apa adanya,” pesannya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cinta di era scroll tidak hanya soal perasaan, tetapi juga tentang bagaimana hubungan direpresentasikan, divalidasi, dan dimaknai di tengah dunia yang semakin terkoneksi.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Alumnus Antropologi Sosial Unhas Muhammad Ikhlas Satar Gazali. (Dok Unhas TV)


-300x183.webp)


