MAKASSAR, UNHAS.TV – Program Field Notes Unhas TV kembali menghadirkan diskusi menarik seputar kajian antropologi. Kali ini, pembahasan mengangkat bagaimana mitos dipahami dalam perspektif antropologi bersama narasumber Millah Ananda Yunita, alumnus Magister Antropologi Universitas Hasanuddin.
Dalam perbincangan tersebut, dijelaskan bahwa mitos tidak dapat disederhanakan sebagai cerita bohong atau tahayul semata. Dalam kajian antropologi, mitos justru dipandang sebagai bagian dari konstruksi sosial yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Millah Ananda Yunita menjelaskan bahwa antropologi tidak bertujuan menilai benar atau salah suatu kepercayaan, melainkan memahami bagaimana masyarakat memaknai mitos tersebut.
“Antropologi tidak melihat sesuatu secara hitam-putih. Kita mencoba memahami sudut pandang masyarakat terhadap mitos sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa mitos memiliki fungsi penting dalam membentuk identitas, legitimasi wilayah, hingga penanaman nilai dan norma dalam masyarakat.
Cerita-cerita yang dianggap mitos seringkali menjadi dasar dalam menjelaskan asal-usul suatu kelompok maupun fenomena alam yang belum dapat dijelaskan secara ilmiah pada masanya.
Dalam diskusi tersebut juga dijelaskan perbedaan antara mitos dan logos. Logos merujuk pada sesuatu yang telah diuji secara ilmiah dan rasional, sementara mitos sering dianggap irasional.
Namun, dalam praktiknya, keduanya tidak selalu bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam memahami realitas sosial.
“Bagi masyarakat yang mempercayainya, mitos adalah fakta yang memvalidasi identitas mereka. Karena itu, kita tidak bisa langsung menyebutnya salah,” jelas Millah.
Ia juga mencontohkan bagaimana mitos tetap relevan hingga saat ini, bahkan dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa mitos bersifat dinamis dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Selain itu, antropologi juga berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah mendiskriminasi kepercayaan tertentu hanya karena dianggap tidak rasional. Mengingat Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas, pemahaman yang inklusif menjadi hal yang penting.
Dalam praktik penelitian, antropolog mencatat tidak hanya isi cerita mitos, tetapi juga konteks sosial di sekitarnya, seperti siapa yang menceritakan, bagaimana cara penyampaian, hingga situasi saat cerita itu dituturkan. Catatan lapangan atau field notes menjadi dasar analisis dalam memahami makna di balik sebuah mitos.
Melalui program ini, pemirsa diajak untuk melihat mitos dari sudut pandang yang lebih luas, tidak sekadar sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai bagian penting dari sistem pengetahuan dan identitas budaya masyarakat.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Millah Ananda Yunita, alumnus Magister Antropologi Unhas saat tampil dalam program Field Notes di Studio Unhas TV, Kamis (23/7/2026). (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)








