MAKASSAR, UNHAS.TV - Menurunnya penggunaan bahasa daerah di tengah masyarakat nasional maupun dunia, menjadi perhatian serius para peneliti linguistik.
Dalam sebuah kuliah umum di Universitas Hasanuddin, seorang ahli bahasa dari Prancis mengingatkan bahwa tanpa upaya nyata dari masyarakat, banyak bahasa daerah berpotensi semakin jarang digunakan bahkan terancam hilang.
Kuliah umum tersebut digelar pada 5 Maret 2026 di Aula Prof. Mattulada, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Makassar.
Kegiatan ini menghadirkan linguis Dr Daniel Krauße BA MA, peneliti dari Lattice-CNRS dan École Normale Supérieure – PSL Paris. Acara itu diikuti mahasiswa dan dosen dari berbagai program studi yang tertarik pada isu bahasa dan kebudayaan.
Dalam pemaparannya, Daniel menjelaskan bahwa penurunan jumlah penutur bahasa daerah merupakan fenomena global yang terjadi di berbagai negara.
Urbanisasi, perubahan pola komunikasi, hingga dominasi bahasa nasional dan internasional menjadi faktor yang mendorong berkurangnya penggunaan bahasa lokal.
Menurut dia, proses penurunan tersebut memang sulit dihentikan sepenuhnya. Namun, berbagai langkah sederhana masih dapat dilakukan untuk memperlambat laju penurunan tersebut.
“Penurunan itu mungkin tidak bisa sepenuhnya dihentikan. Tetapi kita bisa mengambil beberapa langkah agar penurunannya tidak terlalu cepat,” kata Daniel dalam kuliah umum tersebut.
Salah satu langkah paling sederhana, menurut dia, adalah tetap menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Bahasa daerah dapat dipraktikkan di lingkungan keluarga, komunitas, maupun dalam interaksi sosial sehari-hari.
Daniel menilai keluarga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa lokal. Orang tua yang masih fasih berbahasa daerah dapat memperkenalkan dan menurunkannya kepada anak-anak sejak usia dini.
Dengan cara itu, bahasa daerah tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi tetap hidup sebagai alat komunikasi yang digunakan secara nyata dalam kehidupan masyarakat.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi media digital dalam membantu pelestarian bahasa daerah. Generasi muda, kata dia, dapat memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk memperkenalkan kembali bahasa daerah kepada publik yang lebih luas.
Konten Kreatif di TikTok dan YouTube
Menurut Daniel, konten kreatif di platform seperti TikTok dan YouTube dapat menjadi sarana efektif untuk mempopulerkan bahasa daerah di kalangan generasi muda. Bentuknya bisa beragam, mulai dari video pendek, konten edukasi, hingga lagu berbahasa daerah.
Ia menilai pendekatan kreatif semacam itu dapat membuat bahasa daerah terasa lebih dekat dengan kehidupan generasi muda yang akrab dengan dunia digital.
Selain pemanfaatan media sosial, Daniel juga menyebut dukungan dari dunia pendidikan sebagai langkah penting dalam pelestarian bahasa daerah. Bahasa daerah, menurut dia, dapat dimasukkan sebagai bagian dari mata pelajaran muatan lokal di sekolah.
Dengan dukungan guru yang masih fasih menggunakan bahasa daerah, proses pembelajaran dapat membantu mempertahankan keberadaan bahasa lokal di tengah masyarakat.
Namun demikian, Daniel menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian bahasa daerah pada akhirnya sangat bergantung pada kemauan masyarakat penuturnya sendiri. Jika komunitas penutur masih aktif menggunakan bahasa tersebut, peluang untuk mempertahankannya akan tetap terbuka.
“Upaya dari luar, termasuk dukungan penelitian atau pendanaan, memang bisa membantu. Tetapi yang paling menentukan tetap masyarakat penuturnya sendiri,” ujarnya.
Melalui berbagai upaya tersebut, para akademisi berharap bahasa daerah tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga tetap hidup dan berkembang sebagai identitas masyarakat Indonesia di tengah perubahan zaman.
(Venny Septiani Semuel / Moh. Resha Maharam / Unhas TV)
SITUASI KEBAHASAAN - FIB Unhas menggelar kuliah umum yang menyoroti situasi kebahasaan, di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Kamis (5/3/2026). Tampil linguis Dr Daniel Krauße BA MA yang merupakan peneliti dari Lattice-CNRS dan ENS-PSL Paris. (unhas tv/moh resha maharam)





-300x200.webp)


