Budaya
Field Notes
Program

Assikalaibineng, Warisan Bugis yang Mengajarkan Etika dalam Seksualitas

Pegiat Komunitas Kajian Antropologi, Syarifah Marwa Sahraini Latukonsina (kiri) saat tampil dalam program Field Notes di Studio Unhas TV, Rabu (5/8/2026). (Unhas TV / Paramita)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Program Field Notes di Unhas TV kembali menghadirkan diskusi seputar kajian antropologi.

Kali ini, pembahasan mengangkat Assikalaibineng, sebuah naskah klasik Bugis yang merekam pengetahuan mengenai seksualitas, kehidupan rumah tangga, dan nilai-nilai budaya masyarakat Bugis.

Materi tersebut disampaikan oleh peneliti sekaligus pegiat Komunitas Kajian Antropologi, Syarifah Marwa Sahraini Latukonsina.

Dalam pemaparannya, Marwa menjelaskan bahwa Assikalaibineng selama ini kerap dipahami sebatas sebagai naskah yang membahas hubungan suami istri.

Padahal, isi naskah tersebut jauh lebih luas karena memuat pengetahuan mengenai etika, tanggung jawab, penghormatan terhadap pasangan, hingga nilai-nilai yang menjadi dasar membangun keluarga.

"Leluhur Bugis sudah memiliki cara yang sangat sistematis dalam mendidik pasangan suami istri. Tidak hanya membahas kebutuhan biologis, tetapi juga tanggung jawab, etika, penghormatan, hak dan kewajiban, bahkan doa-doa yang menyertai hubungan suami istri," ujarnya.

Menurut Marwa, masyarakat Bugis telah mengenal pendidikan seksual jauh sebelum istilah tersebut berkembang dalam dunia modern.

Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui keluarga, tokoh adat, maupun tokoh agama dengan tetap memperhatikan nilai asitinajang, yaitu kepatutan dalam menentukan siapa yang menerima pengetahuan, kapan pengetahuan diberikan, dan bagaimana cara penyampaiannya.

Karena itu, pendidikan seksual dalam budaya Bugis tidak diposisikan sebagai sesuatu yang tabu, tetapi juga tidak disampaikan secara sembarangan.

Pengetahuan tersebut diberikan sesuai tahapan kehidupan seseorang, terutama ketika memasuki kehidupan berkeluarga.

Selain membahas hubungan suami istri, Assikalaibineng juga memuat prinsip mengenai keseimbangan hak dan kewajiban pasangan.

Tak Sekadar Relasi Biologis

Hubungan rumah tangga dipahami bukan hanya sebagai relasi biologis, melainkan juga hubungan sosial, moral, dan spiritual yang dibangun melalui rasa saling menghormati serta tanggung jawab terhadap pasangan dan keluarga.

Marwa juga menjelaskan bahwa penyampaian isi naskah menggunakan banyak metafora, simbol, dan ungkapan kiasan.

Cara tersebut dipilih bukan untuk menyamarkan makna, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap etika berbahasa dalam budaya Bugis sekaligus menjaga kesantunan ketika membicarakan persoalan yang bersifat pribadi.

Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Assikalaibineng tetap memiliki relevansi hingga saat ini. Namun, warisan budaya tersebut perlu dipahami sesuai konteks zamannya sehingga tidak dimaknai secara tekstual.

"Warisan budaya bukan untuk disalin mentah-mentah, tetapi dipahami sesuai konteks zamannya, kemudian diambil nilai-nilai yang masih relevan untuk kehidupan saat ini," jelasnya.

Di tengah derasnya arus informasi digital, Marwa menilai pendekatan budaya dapat menjadi pelengkap dalam memahami pendidikan seksual.

Pengetahuan yang diwariskan melalui Assikalaibineng menunjukkan bahwa masyarakat Bugis tidak hanya menempatkan seksualitas sebagai persoalan biologis, tetapi juga sebagai bagian dari pendidikan karakter, etika, dan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga.

Melalui pembahasan tersebut, pemirsa diajak melihat Assikalaibineng sebagai bagian dari khazanah pengetahuan masyarakat Bugis yang merekam cara pandang terhadap kehidupan rumah tangga, hubungan antarpasangan, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)