MAKASSAR, UNHAS.TV – Fenomena dark jokes atau humor gelap di kalangan generasi Z menjadi sorotan dalam program Field Notes UnhasTV di Unhas TV, Kamis, (9/7/2026).
Candaan yang kerap menyentuh isu sensitif seperti kematian ini tidak hanya dipandang sebagai humor semata, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam terkait cara seseorang menghadapi kehilangan.
Dalam program tersebut, Mahasiswi Magister Antropologi Universitas Hasanuddin, Ananda Dwi Pratiwi, memaparkan hasil penelitiannya mengenai dark jokes dan bagaimana generasi muda memaknai duka.
Ia menjelaskan bahwa sebelum melakukan penelitian, dirinya menganggap dark jokes sebagai humor menyimpang yang sarat sarkasme dan hal negatif.
Namun, setelah melakukan penelitian lapangan, ia menemukan perspektif yang berbeda. “Orang yang melakukan dark jokes, khususnya terkait kehilangan, punya alasan tersendiri. Salah satunya sebagai coping mechanism, bukan untuk menyinggung pihak lain,” ungkapnya.
Dalam penelitian tersebut, Ananda melibatkan lima informan dengan latar belakang pengalaman yang beragam. Sebagian di antaranya pernah kehilangan orang tua, sementara lainnya tidak.
Hasilnya menunjukkan bahwa dark jokes kerap digunakan sebagai “tameng” untuk menyembunyikan kesedihan, terutama pada laki-laki yang menghadapi tuntutan sosial untuk tidak mengekspresikan emosi secara terbuka.
“Beberapa informan menggunakan dark jokes agar tidak terlihat kasihan. Mereka tetap berduka, tetapi mengekspresikannya dengan cara berbeda,” jelasnya.
Meski demikian, tidak semua orang menerima humor jenis ini. Salah satu informan dalam penelitian tersebut menolak dark jokes karena menganggap kematian orang tua bukan sesuatu yang pantas dijadikan bahan candaan.
Penolakan ini dipengaruhi oleh nilai keluarga, budaya, serta ajaran agama yang dianut. Pembahasan dalam Field Notes juga menyoroti adanya perubahan cara generasi Z dalam mengekspresikan duka.
Jika sebelumnya kesedihan identik dengan tangisan, kini sebagian anak muda mulai menggunakan humor sebagai cara untuk membungkus perasaan mereka, terutama di ruang sosial tertentu seperti pertemanan atau media sosial.
“Dalam antropologi, yang dilihat bukan benar atau salahnya, tetapi makna di balik perilaku itu. Dark jokes bisa diterima atau ditolak, tergantung konteks dan pengalaman masing-masing individu,” tambah Ananda.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pelaku dark jokes umumnya tetap mempertimbangkan situasi sebelum melontarkan candaan. Mereka cenderung membaca respons lingkungan untuk menghindari kesalahpahaman atau konflik.
Selain itu, konsep duka yang bersifat siklis atau circular grief menjadi temuan penting. Duka tidak benar-benar hilang, melainkan berulang dari rasa sedih, mencoba menerima, hingga kembali muncul dalam bentuk lain, termasuk melalui humor.
“Duka itu tidak pernah benar-benar selesai. Dark jokes kadang menjadi cara untuk bertahan, sekaligus mencoba berdamai dengan diri sendiri,” tutupnya.
Melalui program Field Notes UnhasTV, fenomena ini menunjukkan bahwa di balik tawa yang terdengar ringan, terdapat dinamika emosi yang kompleks serta cara unik generasi Z dalam menghadapi kehilangan.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
DARK JOKES - Mahasiswi Magister Antropologi Universitas Hasanuddin, Ananda Dwi Pratiwi, memaparkan hasil penelitiannya mengenai dark jokes dan bagaimana generasi muda memaknai duka pada Program Field Notes di Unhas TV, Kamis (9/7/2026). (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)




-300x169.webp)



