News
Opini
Sport

Argentina, FIFA, dan Rumor yang Menyesatkan

Oleh: Jamaluddin Omel, S.Tp.

Masih kental di ingatan kita perdebatan tak berujung di media sosial, kaum cebong dan kampret pasca Pilpres 2019. Penyebabnya adalah sesat pikir soal rumor yang berkembang atas kemenangan incumbent.

Sedemikian parahnya hingga membentuk fragmentasi akut di level grassroots, meski yang disoal telah berdamai secara politik dan bergandengan tangan di pemerintahan.

Rupanya gejala penyakit sosial tersebut tidak hanya terjadi di dunia politik. Di gelaran pesta olahraga terbesar dunia 'FIFA World Cup 2026', jagat media sosial dipenuhi status negatif, komentar miring, dan perdebatan tak berujung soal hasil pertandingan yang di luar prediksi mereka masing-masing.

Puncaknya saat Argentina, sang juara bertahan, sukses memberi pelajaran berharga ke timnas Mesir atas comeback luar biasa pasukan La Albiceleste dengan 3 gol spektakuler yang dilesatkan dalam waktu 14 menit saja.

Ini adalah salah satu comeback terbaik sepanjang sejarah gelaran Piala Dunia sepak bola modern.

Semua orang tahu bahwa pasukan The Pharaohs (Firaun) tak selevel dengan Tim Tango pemilik 3 trofi mahkota juara dunia serta pencetak seniman-seniman bola terbaik sepanjang sejarah. Meski demikian, dalam pertandingan sepak bola, hasil akhir tidak selalu linear dengan kualitas tim dan peringkat FIFA.

Dalam setiap gelaran Piala Dunia, selalu saja ada kejutan hasil pertandingan yang berbanding terbalik dengan prediksi banyak orang. Siapa yang menyangka jika timnas Kroasia yang baru saja merdeka dan tampil sebagai tim debutan, sukses melangkah sampai semifinal FIFA World Cup 1998.

Dan siapa yang menduga jika timnas Maroko yang sempat 20 tahun tidak tampil di gelaran Piala Dunia kemudian mencetak sejarahnya dengan lolos ke semifinal setelah mempermalukan Ronaldo dan kawan-kawan di Piala Dunia Qatar 2022.

Lalu kenapa publik sepak bola dunia heboh pasca pertandingan Argentina vs Mesir? Penyebabnya adalah kepemimpinan wasit yang keputusannya dianggap lebih banyak menguntungkan Messi dan kawan-kawan.

Beberapa kejadian yang menjadi sorotan yaitu gol kedua Mesir yang dianulir, jatuhnya Mohamed Salah di kotak penalti, dan beberapa keputusan wasit yang dianggap aneh dan tidak adil.

Akumulasi persoalan tersebut kemudian menimbulkan rumor di jagat sepak bola bahwa Messi adalah anak emas FIFA, bahwa Argentina wajib lolos demi bisnis sepak bola, bahwa skenario semifinal terbaik yang akan mempertemukan 4 peringkat teratas FIFA harus diwujudkan, bahwa Argentina adalah bagian dari konspirasi global Zionis.

Rumor-rumor inilah yang kemudian menimbulkan sesat pikir di kalangan haters Argentina dan fans timnas yang sudah pulang kampung serta fans timnas yang trauma ataupun takut untuk berhadapan dengan Argentina di semifinal dan final nantinya.

Sistem Pengawasan Pertandingan FIFA

FIFA adalah federasi olahraga dengan struktur organisasi yang sangat kompleks dengan manajemen super modern. Dalam statuta FIFA, struktur pengambilan keputusan terdiri atas Kongres, Dewan FIFA yang dulunya bernama Komite Eksekutif, komite-komite independen, konfederasi antarbenua, dan organisasi sepak bola antarnegara yang berjumlah 211.

Dewan FIFA dipimpin oleh seorang presiden, 8 wakil presiden, serta 28 anggota dewan. Meski dipimpin oleh presiden, pengambilan keputusan bersifat kolektif dan wajib dihadiri minimal 50% dari 37 anggota Dewan FIFA.

Komite independen terdiri dari komite perwasitan, komite disiplin, komite medis, dan lain-lain. Dalam setiap pertandingan yang menjadi kalender FIFA, komite independen diberi kewenangan penuh dan bertugas secara independen sesuai tugasnya masing-masing, dengan manajemen yang sangat modern didukung oleh penggunaan teknologi canggih untuk menjamin profesionalitas dan keadilan dalam setiap pertandingan.

Sistem pengawasan pertandingan dilakukan secara internal dan eksternal. Secara internal adalah pengawasan langsung di lapangan yang dipimpin oleh wasit, asisten wasit, wasit cadangan, dan tim VAR (Video Assistant Referee).

Wasit bekerja dengan dukungan teknologi canggih antara lain: VAR (Video Assistant Referee), SAOT (Semi-Automated Offside Technology), sensor bola pintar (connected ball), GLT (Goal Line Technology), dan penerapan Match Commissioner yakni memastikan seluruh penyelenggaraan mulai dari kedisiplinan, kondisi lapangan, keselamatan sesuai dengan standar regulasi FIFA.

Secara eksternal FIFA menerapkan sistem pengawasan integritas pertandingan (anti pengaturan skor) dengan cara pengawasan ketat terhadap pasar taruhan, melacak secara real time pasar taruhan yang dianggap tidak wajar, membuka pengaduan secara global terhadap dugaan suap dan pengaturan skor, dan menyiapkan denda besar serta sanksi yang sangat berat.

FIFA juga mengantisipasi kemungkinan intervensi pihak ketiga termasuk pemerintah dengan pengawasan yang sangat ketat oleh komite disiplin. Sejauh ini FIFA telah menjatuhkan sanksi yang sangat berat terhadap beberapa skandal pengaturan skor, intervensi pemerintah, suap ofisial pertandingan, dan skandal kecil yang melanggar regulasi FIFA.

Gejala Psikologis Haters Argentina

Beberapa lembaga survei ternama dunia menemukan hal unik bahwa Timnas Argentina adalah tim yang paling dicintai oleh publik sepak bola dunia sekaligus menjadi timnas yang paling dibenci.

Lembaga-lembaga survei ternama dunia, Ipsos, menempatkan Argentina dengan fans terbanyak di India Urban dengan angka 35%, mengalahkan Brazil 21%, Inggris 13%, dan Timnas Prancis hanya 10%. Pew Research, lembaga survei non-partisan Washington DC, menemukan bahwa 8% fans Timnas AS memprediksi Argentina juara. Rangking Fanbase versi AI menempatkan Argentina sebagai fanbase (penggemar terbaik) terbaik dunia.

Tesis dari beberapa lembaga survei tersebut mengatakan bahwa Argentina dicintai publik sepak bola dunia karena efek Messi, efek Maradona, mental juara, gaya bermain yang cantik, dan fans terbaik di dunia.

Dibenci karena gejala psikologis (penyakit sosial) haters Argentina yang tidak ingin Argentina sukses sebagai juara bertahan serta adanya beberapa keputusan kontroversial dalam setiap pertandingan timnas Argentina di Piala Dunia 2026.

Dalam ilmu psikologi dikenal beberapa istilah terhadap seseorang atau komunitas yang tidak suka terhadap tim juara bertahan, antara lain:

(1) sindrom kepiting, yaitu perilaku seseorang yang selalu ingin menarik orang lain turun ke bawah agar tidak kembali berprestasi dan mempertahankan gelarnya;

(2) perilaku sering meremehkan, yaitu berusaha mencari celah untuk melemahkan tim juara bertahan agar semakin banyak yang tidak senang dan meremehkan tim tersebut;

(3) kebahagiaan semu, yaitu beban mental yang berat, penderita terus merasa tidak nyaman, cemas dan berusaha memikirkan kelemahan sang juara bertahan bahkan berusaha memalsukan dukungan dan bisa tersenyum di depan umum meski sangat sakit perasaannya.

Pada akhirnya waktu yang akan menjawab apakah FIFA yang dipimpin oleh Gianni Infantino, lelaki gondol kebangsaan Italia kelahiran Swiss. Italia adalah negara yang gagal 3 kali lolos Piala Dunia.

Swiss adalah negara yang baru saja dilumat oleh Argentina di babak 8 besar dengan skor 3-1. Sebagai pertanyaan penutup, apakah Gianni Infantino menjadi pengkhianat dan durhaka terhadap 2 negara yang membesarkan namanya?


*Penulis adalah Fans Garis Keras Sekali Argentina.